Orang yang sangat sakit hati dengan uang ya orang miskin, karena yang paling banyak disakiti oleh uang ya mereka. Butuh ini, tidak ada uang, munculkan sakit. Butuh itu, tidak ada uang, munculkan pusing. Kesulitan terbesarnya selalu karena uang.

Sering sakit hati, lalu benci, dan sisakan traumatik karena tak punya memori menyenangkan atas uang. Benci dan trauma selalu sisakan luka-luka.

Padahal syarat bertumbuhnya nikmat adalah kegembiraan. Makanya kadung terjebak miskin ya makin miskin karena kebencian dan traumatiknya menumpuk-numpuk. Energi mereka untuk bersensasi gembira uang, kecil sekali.

 

Seperti apa kondisi Anda hidup di tengah bullying, sumpek dan penuh derita kan? Dan Anda bisa bayangkan, ini alam material uang, lah kok disakiti terus menerus oleh uang? Luka mereka menganga berdarah-darah.

Punya luka menganga pasti akan menghindari resiko-resiko rasa makin perih. Kena air, kena garam, bergerak ekstrem, dan lainnya.

Miskin itu luka menganga kepada uang, makanya mereka pun sangat menghindari hal-hal yang jadikan luka terasa makin perih. Lalu mereka menghindari belanjakan uang, dan mengajarkan irit.

 

Mereka menghindari harga mahal lalu mengajarkan cari yang murah meriah. Mereka menghindari huppy uang, lalu mengajarkan prihatin. Mereka menghindari kedermawanan, lalu mengajarkan pelit.

Padahal salah satu penyembuhan luka dan trauma itu justru luka jangan dimanjakan. Luka menganga, oleh air bawang dicampur garam justru lukanya layu.

 

Cidera otot dipijat sekalian justru sembuh. Patah tulang dilatih jalan pelan-pelan justru itu metode pemulihan.

Miskin itu luka pada uang. Maka ini semakin Anda irit, pelit, hitung-hitung, cari yang murah-murah, cari yang prihatin-prihatin, justru luka uang Anda makin dimanjakan.

Latih pelan-pelan untuk sembuh dari luka dan trauma. Latih jajan di sturback, jangan kopi sasetan 500-an terus. Latih jajan di restoran mahal, jangan di warung pinggiran terus.

 

Latih beli sandal, baju, celana yang bermerk, jangan di 35-an terus. Latih sedekah sedikit berani, jangan konsisten 2 ribu terus kalau infak Jumat. Latih makan yang enak-enak jangan yang prihatin terus.

 

Rokoknya latih yang segar, jangan murah-murah terus. Sering-sering jalan-jalan di tempat-tempat mewah seperti mall dan tempat wisata. Kalau naik transportasi latih yang eksekutif.

Intinya berlatih untuk happy uang, biar luka dan traumanya tidak manja. Sudah miskin kerjaannya irit, konsumsi barang murah meriah, kerjaannya pelit, ya makin miskin sekalian karena luka dan traumanya dimanjakan.

Beda dengan orang kaya. Memorinya selalu mencatat, duit gampang, duit banyak, duit nikmat. Dalam hitungan menit mereka biasa peroleh puluhan, ratusan bahkan ada yang milyaran, memori mereka dengan duit itu penuh nikmat dan gembira.

Merasakan uang itu nikmat, makanya mereka akan terus seperti cacing yakni mencari kenikmatan materi. Beli yang murahan, malas.

 

Makan tidak enak, malas. Tidur tidak di kamar presidensial, malas. Cari enak terus maunya. Mereka trauma kepada resiko rasa prihatin.

Padahal prihatin itu unsur mati, dan semua makhluk harus mati. Mati itu ditangisi, karena mati itu duka prihatin.

Sebab ini luka dan traumanya orang kaya itu justru kepada rasa mati, karena enggan berdamai dengan duka prihatin. Kalau mati diantipati, lah emang siapa sih yang bisa abadi di alam materi ini? Artinya menghindari prihatin itu hal mustahil.

Karenaya orang kaya yang punya luka dan trauma kepada rasa kematian yakni rasa prihatin, dia maunya senang-senang saja, sampai yang haram pun akan diterjang. Dugem, main perempuan, narkoba, judi, itu traumanya orang berduit.

Luka dan trauma pada rasa prihatin dimanjakan, juga makin menganga lukanya. Maka paksa sekalian untuk puasa, kenalkan luka dan traumanya untuk kenal prihatin dengan puasa.

Kalau Anda orang berduit maunya kok dugem dan main perempuan, sering-sering puasa ya, karena Anda ada trauma kematian.

 

Kalau dilatih dengan irit dan beli murah-murah, jangan, karena itu merusak habit rezeki Anda. Dilatih dengan pelit juga jangan, karena itu merusak spiritual Anda.

 

Dilatih dengan sakit juga jangan, karena itu merusak fisik Anda. Lakukan saja puasa sekalian untuk taqarrub kepada Tuhan.

Jadi miskin dan kaya itu beda luka dan trauma. Untuk menyembuhkan dengan cara berbalikan, kalau trauma miskin harus latihan senang, kalau trauma kaya harus latihan prihatin.

Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *