Ada dua siswa yang dapat hadiah ulang tahun dari gurunya di kelas. Keduanya diajak ke sebuah ruangan tertutup untuk terima hadiah. Masing-masing diberi kunci ruangan. Keduanya memasuki ruangan sendiri-sendiri di waktu yang terpisah.

 

Siswa pertama langsung mengumpat keras karena bukan hadiah istimewa yang ia temukan, melainkan kotoran hewan. Setelah jeda waktu, siswa kedua pun masuk ke ruang yang sama, ia pun menemukan hal yang sama, yakni kotoran hewan.

 

Namun ia tidak mengumpat justru ia mengepalkan tangan kegembiraan sambil teriak, “Yes”. Di prasangkanya menilai bahwa di ruang tersebut telah tersedia kuda gagah untuk hadiah ulang tahunnya.

 

Kejadian ini akan memproyeksikan keduanya pada keadaan perasaan berbeda, siswa pertama merasa sebagai korban prank, siswa kedua merasa diistimewakan.

 

Merasa sebagai korban prank, Anda bisa gamparkan efeknya bagi si siswa. Dia bisa membanting, mengumpat dan mengeluarkan emosi-emosi racun dari hatinya.

 

Yang namanya korban kejahatan, mana ada yang ceria bahagia? Semua korban kejahatan pasti nestapa nelangsa.

 

Saya kerap mengilustrasikan, Anda masuk ke warung bareng teman-teman, lalu Anda terjebak mentraktir, Anda yang harus bayari, disitu diri Anda merasa jadi korban.

 

Lain lagi ketika Anda masuk warung bareng teman-teman, Anda pun terjebak traktir, namun rasa Anda dipicu rasa bahwa, “Saya orang kaya, harus saya yang mentraktir.” Disitu diri Anda merasa sebagai orang gagah yang kaya.

 

Wujud hasil dari kedua kasus ini akan sangat berbeda, Anda yang merasa sebagai korban mentraktir, ya hasilnya keterpurukan karena menempatkan diri sebagai korban, dan Anda yang merasa sebagai orang gagah yang kaya, hasilnya ya kekayaan, kemuliaan dan kegembiraan.

 

Nah coba cek! Anda saat dimintai uang oleh istri, oleh anak, saat bayar tagihan listrik, saat bayar cicilan hutang, saat bayar belanjaan, dan semua transaksi pembayaran, itu rasanya apa? Rasa sebagai korban apa rasa sebagai orang kaya?

 

Mengapa Anda miskin? Ya salah satunya karena setiap melakukan transaksi keuangan, rasa yang Anda unggah adalah rasa sebagai korban.

 

Istri minta jatah nafkah, hati kesal dan menggerutu, itu korban uang. Anak minta jajan rasanya sumpek, itu korban uang.

 

Bayar cicilan hutang rasanya berat hati, itu korban uang. Bayaran tagihan listrik dan pajak, rasanya malas dan sungkan dengan terbenani, itu korban uang.

 

Bayar belanjaan, rasanya khawatir banget duit cepat habis, itu korban uang. Dan lainnya.

 

Menjadi korban ataupun pahlawan gagah, itu hanya programan perasaan Anda, nah yang jadi miskin itu Anda kerap merasa sebagai korban uang dalam segala transaksi pembayaran.

 

Tahu tidak, dalam kekristenan, Yesus Kristus itu jadi korban kejahatan penyaliban, namun ia tidak merasa sebagai korban, ia merasa sebagai “juru selamat”, hasilnya agama Kristen yang dibawanya saat ini menjadi agama terbesar di dunia.

 

Nah kalau Anda kerap merasa sebagai korban uang ya jelas itu yang jadikan Anda terus-terusan belangsakan melarat karena selalu menempatkan diri sebagai korban uang.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *