Dagang itu wilayah self-benefit, area dimana Anda memberi kesempatan kepada diri Anda untuk mengisi energi, sebagaimana handphone berkesempatan men-charge baterainya, tubuh berkesempatan makan, pohon berkesempatan melakukan fotosintetis.

 

Semua makhluk hidup punya wilayah self benefit; area dimana dia berkesempatan untuk ambil energi dari luar dirinya untuk menguntungkan dirinya sendiri.

 

Salah satu sistem self benefit yang disediakan alam semesta adalah sistem perdagangan; entah bisnis, entah jual beli, entah perburuhan, entah kepegawaian, entah barang ataupun jasa.

 

Jadi etika dagang itu Anda ambil untung untuk diri Anda sendiri dari orang lain. Egois kan? Iya. Egois.

 

Karenanya dagang itu sebenarnya memanfaatkan kelemahan yang ada pada orang lain. Orang lapar, itu kelemahan diri, dimanfaatkan dengan dijuali makanan.

 

Orang kedinginan, itu kelemahan, dimanfaatkan dengan dijuali jaket. Orang berpenyakitan, itu kelemahan, dijuali obat. Di titik kelemahan orang lain lah, self benefit itu ada.

 

Hidup itu saling lempar dan saling terima kotoran, dari lempar-terima kotoran itulah sistem self benefit berlangsung. Anda membuang kotoran Karbon Dioksida sebagai racun, justru racun itulah yang dihargai oleh tumbuhan, karena itu self benefitnya.

 

Tumbuhan membuang kotoran Oksigen sebagai racun, justru racun itulah yang dihargai oleh Anda, dan itulah self benefit Anda.

 

Anda membuang kotoran penjahat, justru penjahat itulah yang dihargai oleh polisi, karena itu self benefitnya. Anda membuang kotoran penyakit, justru itu yang dihargai para dokter, karena itu self benefitnya.

 

Anda membuang kotoran kebodohan, justru kebodohan itulah yang dihargai para guru, karena itu self benefitnya.

 

Bagi sebagian makhluk adalah racun dan penyakit yang harus dibuang, bagi sebagian lainnya itu adalah self benefitnya. Karena itu Anda semua diciptakan punya titik lemah, karena dari kelemahan itulah Anda disiapkan Tuhan untuk menjadi penyedia energi makhluk lainnya.

 

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

 

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS An-Nisâ: 28)

 

Semakin Anda punya banyak titik lemah, semakin besar pula emergi Anda untuk sediakan benefit kepada makhluk lain. Contoh, Anda banyak penyakit, ya Anda makin banyak kasih benefit ke para dokter, kan?

 

Beda dengan Anda yang tetap sehat. Anda jago makan atau dalam bahasa Jawa disebut RB (rai badog), ya Anda makin banyak kasih benefit ke para pengusaha kuliner, kan? Setiap kali Anda punya titik lemah, itulah self benefit bagi orang lain.

 

Maka dalam dagang itu ada etika yang sangat menyakitkan, dimana yang sedang terdesak kebutuhan, justru dia yang merugi banyak. Contoh, hutang sedang banyak sekali, sudah jatuh tempo belum ada uang, yang ada hanya motor satu-satunya. Lantas motornya mendesak dijual.

 

Si calon pembeli motor tahu dia orang sedang terdesak butuh uang, lantas keadaan tersebut dimanfaatkan untuk menguntungkannya. Motornya pun ditawar semurah-murahnya dengan dibanting harga.

 

Jadi begitulah isi dunia, yang lemah akan makin lemah, karena makin Anda punya banyak titik lemah, itu artinya Anda harus siap menjadi asupan energi benefit besar bagi orang lain. Di titik itu potensi miskin Anda makin menjadi.

 

Kesimpulannya, yang butuh itulah yang menjadi lemah.

 

Kenapa lemah? Karena butuh. Kenapa butuh? Bisa karena nafsu, bisa karena keadaan.

 

Kalau butuh karena keadaan, misal Anda sakit-sakitan, kecelakaan, musibah, kebutuhan primer hidup, itu hal yang tidak bisa Anda kendalikan, satu-satunya jalan adalah harus menjalaninya.

 

Butuh karena nafsu, ini yang bisa Anda kendalikan lalu Anda gunakan untuk melemahkan uang.

 

Karenanya Anda yang kuat dengan kekayaan sejati adalah Anda yang “sudah tidak butuh lagi”. Di situ Anda jadi menangan dengan uang.

 

Seperti contoh di atas terdesak jual motor karena kepepet hutang, maka butuh itulah yang jadikan nilai tawar Anda atas uang melemah.

 

Karenanya, ketika Anda transaksi, pura-pura tak butuh itu penting. Kuncinya sabar. Sabar. Pura-pura lah tak butuh amat. Sebenarnya butuh ya butuh, pingin ya pingin, tapi tahan dulu dengan sabar.

 

Paling menyakitkannya ketika keduluan orang. Namun ya tak apa, dunia jangan dipandang hanya selebar daun Kelor. Tanah itu didului orang, ya tanah lain masih banyak. Mobil itu didului orang, mobil lain masih banyak. Gitu aja prinsipnya.

Dengan telaten lakukan trik-trik begitu, lama-lama Anda makin kaya, karena posisi Anda selalu menguat, dan uang selalu melemah.

Mencapai rasa tidak butuh itu bisa dengan berbagai trik, di antaranya;

1. Punya rekening gede. Artinya dengan konsisten punya tabungan. Anda punya tabungan 3 M, namun mobil Anda masih pakai Toyota Avanza, lantas Anda jalan-jalan ke dealer mobil, lihat Toyota Alphard, di situ Anda membatin, “Beli ya saya bisa. Sayang duit si tidak, tapi buat apa?

Nah di keadaan mental begitu, asal kesadarannya bukan karena eman-eman (sayang lepas), Anda makin sakti dikejar kekayaan, karena sudah tak butuh. Trik ini adalah trik dengan menahan diri.

Termasuk dalam trik ini pentingnya Anda punya kemandirian hidup. Orang kalau sudah mandiri dalam segala hal, ya nilai tawarnya tinggi, karena sudah tak begitu butuh.

2. Royal uang. Lah royal uang kan konsumtif, kok bisa buat trik tidak butuh uang? Bisa. Dengan mengelola kesadaran.

 

Anda belanja macam-macam, habis duit banyak, namun kesadaran Anda karena ingin melimpahi rezeki kepada para pedagang, kesadaran mengalirkan rezeki kepada orang lain, bukan karena kesadaran Anda butuh dengan barangnya, di situ energi uangnya mengalir ke energi dermawan.

 

Dermawan itu energi melemahkan uang, karena salah satu tanda lemahnya seseorang kepada uang adalah melekatinya dengan ingin mengumpulkan dan terus menggenggam.

Atau Anda belanja banyak namun kesadarannya karena Anda merasa kaya, merasa banyak menerima karunia dari Tuhan, sehingga Anda tak ingin pelit kepada diri sendiri, di situ pun aliran energi uangnya mengalir ke energi syukur.

 

Syukur itu energi spiritual. Spiritual justru energinya melepaskan uang alias tak begitu butuh dengan uang.

Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *