Ibu ini pegang uang tinggal 500 ribu. Di hari itu anak perempuannya yang masih kuliah mengeluh laptopnya error. Diservis ternyata harddisk rusak dan harus ganti. Kalau tidak segera diperbaiki si anak tidak bisa ikuti kuliah daring via zoom, dan kuota internet si anak juga habis.
Sadar tidak ada uang lain, dengan kesal 500 ribunya diberikan. Dengan muka cemberut penuh kesal, ia ulurkan uangnya sambil ngomel ketus, “Uang tinggal 500 ribu, ada-ada saja kebutuhannya.”
Kerap ya Anda temui hal semacam itu, orang yang keluarkan uang dengan kesal?
Saya mengira hanya orang-orang berduit tipis yang kerap alami begitu, ternyata tidak juga, yang berpenghasilan besar pun kerap alami.
Biasanya yang suka plant-kan keuangan yang alami ini, karena memang “mengeluarkan biaya tak terduga” itu sudah menjadi kewajiban hidup. Ini yang kerap menjebak orang berduit terjebak rasa kesal keluarkan uang. Uang sedang direncanakan buat DP beli mobil, misalkan, eeh handphone-nya rusak, lalu dengan kesal ambil uang tabungan yang direncanakan buat DP mobil.
Cobalah badan Anda sedang capek dan lagi banyak kerjaan, lalu suami minta jatah seks, Anda kesal, kan? Kalau kesal, seksnya apa nikmat?
Rasa kesal itu getaran energinya rasa permusuhan, maka ketika Anda keluarkan uang dengan rasa kesal ya Anda sedang tabuh genderang konflik dengan uang.
Apa ada musuh yang betah hidup berdampingan dengan Anda? Kecenderungan alamiahnya, musuh itu saling menjauhi dan saling bertolakan.
Ditambah lagi, saat kesal keluarkan uang, tentu diiringi rasa kekurangan yang besar, rasa bahwa uang Anda sedikit. Seperti ibu di atas, “Uang tinggal 500 ribu,” ini jelas si ibu sedang unggah rasa kekurangan.
Rasa kekurangan uang, rasa uang sedikit, rasa uang terbatas, itu jelas bukan orang yang syukur, karena orang syukur adalah orang yang merasa diberi banyak anugerah. Syukur itu rasa dimana Anda sadar kalau anugerah dari-Nya itu begitu banyak melampoi masalah dan kesulitan Anda.
Sekarang Anda tahu kan? Keluarkan uang dengan kesal itu pertama menyipta permusuhan dengan uang, yang kedua menyipta ingkar syukur pada-Nya.
Coba kalau si ibu di atas secara sadar untuk merasa bahagia dan merasa kaya saat keluarkan uang 500 ribunya, tentu unggahan rasanya berbeda, dan respon uang kepadanya juga pasti beda.
Uang tinggal 500 ribu, si anak minta ganti harddisk laptop dan beli kuota, andai diiringi rasa sadar bahagia, rasa senang, rasa enjoy menafkahi anak, tentu si ibu jadi dekat dengan uang. Didekati, uang pun akan merespons mendekat.
Atau muncul rasa kaya, misal, “Aku kaya kok, 500 ribu kecil dikeluarin sekarang, besok pasti ada lagi,” tentu uang juga merespons dengan kekayaan karena tercatat sebagai orang syukur, orang yang merasa banyak dianugerahi.
Seperti apa rempongnya diri Anda bila tiap hari keluarkan uang dengan rasa kesal, dengan rasa uang pas-pasan dan sedikit?
Bayangkan saja, satu sisi Anda butuh uang, sisi lain Anda terus bermusuhan dengan uang akibat rasa kesal Anda?
Bayangkan saja, setiap kali Anda keluarkan uang dengan rasa pas terbatas, rasa kekurangan dan rasa uang sedikit, berarti setiap kali Anda keluarkan uang, Anda selalu catatkan rasa “ingkar syukur” pada-Nya?
Mau rezeki melimpah, mau rezeki paceklik, mau rezeki yang berenergi bahagia, mau rezeki yang berenergi ruwet, itu munculnya sebenarnya dari hal-hal sepele seperti kejadian pada si ibu di atas.
Maka ini—catat ya!—sebaik-baik rasa hati yang diunggah saat keluarkan uang adalah “keluarkan uang dengan rasa bahagia riang gembira dan rasa kaya.”
Cuma, konon katanya rasa cinta itu tidak bisa direkayasa jadi benci, butuh proses lama agar cinta berubah jadi benci, mengubah “rasa kesal keluarkan uang” jadi “rasa bahagia keluarkan uang” juga butuh proses waktu dan latihan. Demikian pula mengubah rasa uang pas-pasan, rasa uang terbatas dan sedikit, diubah menjadi rasa kaya juga butuh proses waktu dan latihan.
Uang itu pilihan rasa hatimu, namun mencapai rasa yang sinergi dengan keberlimpahan uang, Anda butuh konsisten berlatih dengan sadar.

Leave a Reply