Alam semesta bekerja mengikuti perasaan Anda. Jika rasa Anda damai, realita yang terwujud damai, jika rasa Anda rusuh, realita yang terwujud rusuh. Di dunia binatang tidak ada kisruh Pilpres, tenang seperti biasa, karena rasa hati binatang-binatang tidak mengakses apa yang diakses oleh rasa Anda. Sehingga rasa Anda lah pengeksekusi realita alam semesta.

 

Karena rasa hati Anda pengeksekusi realita alam semesta, Tuhan banyak menjanjikan wujud realita hanya dengan bermain hati. Misal rasa syukur jadikan berlimpah rezeki, rasa kufur nikmat jadikan azab, rasa tawakal jadikan rezeki min haitsu lā yahtasib, rasa takwa jadikan semua problem menemukan jalan keluar, rasa dengki jadikan fakir, rasa pelit jadikan miskin, dan sebagainya. Tuhan menjanjikan itu karena memang rasa Anda pemegang reaksi alam semesta.

 

Di Serv0 Prosper1ty Onl1ne W0rkshop saya berikan shock mental kepada peserta dengan membatasi nominal tertentu untuk belanjakan uang. Rata-rata mereka alami tekanan mental.


Karena tertekan mentalnya, ada-ada saja peserta yang kemudian alami ketidaknyamanan, seperti “ndilalah” bangun tidur bertengkar dengan istri, “ndilalah” di hari itu ada orang minta dihutangi, dan lain-lain.

 

Itu kasus nyata kalau perasaan Anda itu yang memanggil realita, rasa stres dan tertekan mentalnya memanggil ketidakberuntungan.

 

Dua tahun lalu saya bertemu dengan seorang teman yang punya masalah dibuang oleh mertua. Dia menantu miskin, si mertua merasa tidak selevel kerezekiannya dengan si menantu. Dia diusir, untung si istri memilih mengikutinya.

 

Dalam keadaan ngap-ngapan, si menantu membawa istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Rumah orang tuanya tentu seperti kandang bebek. Dua bulan kemudian dia pilih mengontrak satu kamar kecil setelah dia diterima menjadi guru honorer di sebuah Madrasah Aliyah.

 

Yang menarik darinya, dia tidak pernah merasa perlakuan mertuanya sebagai suatu penistaan. Dia berpikir terbalik, dia merasa itu jalan kekayaan. Waktu itu saya terus menelusuri jalan pikirannya, ternyata dia memang bermental kaya. Dia berperasaan, “Ketika semua pemberian dihentikan, itu artinya jalan pemberian”.

 

Dia mengambil hikmah dari kitab Al-Hikām karya Ibn ‘Athāi-llāh,

 

رُبَّماَ اَعْطاكَ فمَنَعكَ وَرُبَّماَ منَعَكَ فأَعْطاكَ

 

“Terkadang Dia memberi kepadamu, (dengan cara) Dia meghentikannya untukmu. Dan terkadang Dia menghentikan untukmu, (dengan cara) Dia memberinya kepadamu.”

 

Maksudnya, Tuhan seringkali mewujudkan pemberian dalam bentuk penolakan, dan sebaliknya seringkali Tuhan mewujudkan penolakan dalam bentuk pemberian.

 

Teman saya mengunggah rasa kepada alam semesta, kalau penghentian pemberian simpati dan jalan rezeki dari mertuanya sebagai jalan Tuhan memberikan semuanya kepadanya.

 

Ini mental kaya, di mana seorang yang bermental kaya tidak berpikir bagaimana dia diberi, sebab rasa ingin diberi itu merupakan rasa tidak berpunya. Dia memahami maksud Tuhan, bahwa dengan terhentinya pemberian dari mertua, sementara orang tua kandungnya sendiri cukup sangat kekurangan, dia tidak bisa mengharapkan sesuatu dari siapa-siapa lagi selain kepada dirinya sendiri. Harus sukses, harus sukses, harus sukses, dia didesak motivasi seperti itu.

 

Dimulai ikut teman jualan sayuran di pasar. Sebelum dia berangkat ke sekolah, dia bangun jam 2 malam, menjadi kuli temannya jualan sayuran di pasar, rezekinya terus mengalir. Lama-lama dia jadi pemborong sayuran pada petani, dan kemarin saya bertemu dengannya, dia sudah bisa beli tanah dan mobil Carry Pick Up terbuka. Loncatan finansial yang hanya ditempuh dalam 2 tahun.

 

Dan saya rasa itu dimulai dari rasa kayanya kepada alam semesta, bahwa sekalipun itu “penghentian pemberian”, dia bisa menilainya sebagai jalan Tuhan memberikan semuanya kepadanya. Rasa yang Anda kirim ke alam semesta adalah yang akan alam semesta realisasikan.

 

Berbeda dengan kenalan saya yang lain. Suami istri sama-sama guru PNS. Rumah tinggal menempati karena orang tua dari pihak suami maupun dari pihak istri sama-sama mampu. Warisannya banyak.

 

Tetapi karena keduanya mengirim rasa kurang kepada alam semesta, di mana rasa kurang itu adalah rasa “masih banyak yang belum aku miliki,” keduanya sekarang terjebak hutang bank sampai milyaran. Keduanya menjadi korban Dimas Kanjeng. Tergiur penggandaan uang, keduanya hutang bank 1 milyar untuk digandakan dengan agunan gaji guru PNS. Pasca tertangkapnya Dimas Kanjeng, keduanya baru kelepek-kelepek.

 

Tuhan memberi jalan pemberian kepada keduanya, ternyata sebagai cara Tuhan menghentikan pemberian-Nya. Dan itu semua dimulai dari rasa hati Anda.

 

Karena itu pentingnya mengambil hikmah kehidupan. Karena dengan mengambil hikmah, rasa yang kita unggah kepada alam semesta akan menjadi informasi keberlimpahan, bukan informasi kemiskinan, sebab alam semesta mewujudkan realita dari rasa hati kita.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *