Apapun yang jarang digunakan justru mudah rusak. Motor, mobil, laptop, handphone, rumah tidak dihuni, semua justru lekas rusak.

 

Sebabnya sederhana karena ketika jarang dipakai artinya barang-barang tersebut jarang diberi atensi oleh perasaan Anda.

 

Itulah dahsyatnya perasaan Anda pengaruhi prilaku alam semesta. Perasaan Anda itu sakti mandraguna.

 

Bisnis Anda juga demikian, kalau tidak Anda beri atensi dari jiwa dagang Anda, dagangan Anda juga akan penyok-penyok.

 

Saya banyak kenal pengusaha menengah ke atas, nah ada juga yang mereka gulung tikar karena beri atensi terlalu tinggi pada spiritual sehingga kalahkan atensinya pada prinsip-prinsip bisnis.

 

Contoh kasusnya begini, menggaji karyawan sangat tinggi, melesat naik jauh dari UMR, karena perasaannya dipicu kuat oleh rasa berbagi, rasa berlimpah dan rasa ingin bahagiakan orang lain. Ini jelas terpicu rasa spiritual dalam dagang.

 

Spiritual dalam dagang itulah yang menyetok kebahagiaan dan kemuliaan Anda, karena dunia spiritual adalah dunia ketenangan, memaafkan, tepa selira, cinta kasih, kedamaian dan nilai-nilai kelembutan lainnya. Kalau Anda ingin dapatkan respons hidup yang penuh bahagia, damai dan cinta, ya Anda harus berikan atensi yang kuat pada spiritual.

 

Hanya saja dunia spiritual itu lawan ekstrem dari dunia dagang, rasa spiritual juga lawan ekstrem rasa dagang.

 

Iya, dagang itu dunia “cari untung diri sendiri” sehingga sedikit sekali rasa toleransinya, selisih 500 perak saja bisa jadi pertimbangan vital “jadi beli atau tidak”. Ketika si penjual sedang bisa untung sebesar-besarnya itu kalau diketahui si pembeli akan sangat menyakitkan hatinya, ketika si pembeli dapat harga semurah-murahnya itu akan sangat mengecewakan si penjual.

 

Dunia dagang sedikit sekali toleransinya. Coba dijual beli online, mentang-mentang yang butuh barangnya itu si pembeli, si pembeli sudah diambil duitnya untuk keuntungan si penjual, sudah begitu ongkir disuruh bayar sendiri. Egois sekali, kan?

 

Nanti kalau si pembeli merasa kecewa karena ada sedikit cacat di layanan atau cacat di barangnya, si pembeli seenaknya nyinyir, tidak sedikit yang mencaci-maki. Dunia dagang itu jauh dari rasa santun, kecuali santun agar dapatkan keuntungan diri.

 

Karena cari untung diri yang berarti egoisme, dagang itu dituntut untuk sangat kreatif, harga 100 ribu saja dikreatifi 99,9 ribu. Emang kreatif enak? Jelas kreatif itu pegal.

 

Karena itu dunia dagang ya dunia kebencian, egoisme, saling tuntut, pertengkaran, dendam, melelahkan dan kebisingan hidup lainnya.

 

Karena itu pedagang culas nanti ketika bangkit di hari kiamat ia berstatus penjahat.

 

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

 

“Sesungguhnya para pedagang dibangkitkan pada hari kiamat sebagai penjahat, kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur”. (H.R. Tirmidzi)

 

Karena itu pula kalau obsesi hati Anda sangat kuat jiwa dagangnya, dan tidak berimbang dalam kontrol spiritual, Anda akan sangat dibenci orang lain, bikin hati banyak orang menjadi geram. Berkah hidup sedikit jika jiwa didominasi kuat oleh hanya jiwa dagang.

 

Tapi etis kah andai Anda cari kekayaan diri dengan sedekah? Anda sedekah lalu niatkan kuat-kuat agar kembali 100 kali lipat, etis kah? Tidak. Itu sama saja lintah darat spiritual, sedekah kok dibisniskan.

 

Artinya dari dunia dagang lah cara paling etis untuk cari kekayaan diri, cari untung diri, ketika Anda cari untung diri tapi dari dunia spiritual itu Anda jadi pecundang Tuhan.

 

Kesimpulannya, mau kaya ya dagang, mau cinta dan berkah ya spiritual.

 

Nah ketika Anda terlalu kuat dalam atensi nilai-nilai spiritual sampai kendur dalam atensi dagang, di situ Anda dihargai, dicintai dan hidup damai sejahtera, tapi itu bisnis Anda bisa penyok-penyok.

 

Kenapa? Karena dagang pun harus profesional diberi atensi dagang. Sementara atensi dagang ya atensi cari untung sendiri alias atensi serakah. Atensi serakah apa bedanya dengan tegaan? Ya begitulah dunia dagang, sebuah dunia versusme spiritual.

 

Nah di bulan-bulan ini saya beberapa kali bertemu dengan para pebisnis yang omsetnya sedang turun drastis, dan saya teliti kasus mereka intinya sama, mereka terlalu kuat atensi spiritualnya sehingga melemahkan atensi dagangnya. Ada yang kalau menggaji karyawan sangat tinggi demi rasa sadar memberlimpahi orang lain, ada yang tidak mau hitung-hitungan marketing demi rasa sadar tidak mau berhitung dengan rezeki Tuhan, ada yang tidak tegaan ketika negosiasi, ada yang kalau sedekah gila-gilaan demi sadar rasa kayanya sampai-sampai tidak mengukur kekuatan finansialnya, dan seterusnya.

 

Yang jelas jangan tenggelam dalam kesalehan spiritual kalau Anda ingin eksis dagangannya. Kalau dagang ya dagang, dalam dagang ya harus berani komitmen “cari untung dan cari kaya”.

 

Betul kelakuan dagang begitu berkahnya sedikit, tapi kalau memang ingin eksis bisnisnya ya harus begitu, harus profesional berjiwa dan beratensi pedagang.

 

Setelah duitnya jadi milik Anda melalui mekanisme untung dagang, baru kemudian di luar dagang Anda yang dermawan dan murah hati.

 

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الشَّيْطَانَ وَالإِثْمَ يَحْضُرَانِ الْبَيْعَ فَشُوبُوا بَيْعَكُمْ بِالصَّدَقَةِ ‏

 

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa selalu hadir dalam jual beli, karenanya iringilah jual belimu dengan banyak-banyak bersedekah”. (H.R. Tirmidzi)

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *