Anda tahu semua tentang Barshisha, yang dikisahkan Nabi S.A.W., seorang santo yang beribadah puluhan tahun di dalam kuil. Muridnya mencapai 60.000 biarawan. Hampir semua muridnya mencapai kesadaran kuantum, mampu berkecepatan di atas kecepatan cahaya, mampu menembus sekat ruang, konon mayoritas para murid mampu masuk ke lubang jarum. Namun Barshisha mati sujud kepada setan.

 

Ketika Anda menulis angka 500.000.000.000 (lima ratus milyar) mudah saja, bila ingin 500 trilyun tinggal menambahkan tiga nol di belakang. Mudah, ringan, enteng, karena sekedar menulis angka tidak bernilai, tidak butuh susah-susah.

 

Namun bagi Anda seorang akuntan, menambahkan angka 50 dalam satu jumlah laporan keuangan, butuh data penjumlahan detail yang njelimet. Anda harus berpikir berlipat kali hanya untuk bisa menambahkan angka 50. Karena 50 dalam akuntan itu bernilai, butuh susah-payah untuk mencantumkannya di penjumlahan.

 

Konon Barshīsha dengan mudah dijebak iblis, kebaktiannya kepada Tuhan tidak berpengaruh apa-apa pada komitmennya. Dijebak untuk minum arak, ia enjoy, untuk bermain perempuan, ia enjoy, untuk membunuh, ia enjoy, hingga sudah di tiang salib, masih enjoy ketika dirayu untuk sujud pada iblis.

 

Ingat, menulis angka 500.000.000.000 itu mudah bagi Anda karena tidak bernilai, menulis angka 50 bagi seorang akuntan itu hal yang berat karena bernilai. Kalau Barshīsha dengan mudah beralih komitmen hanya karena suatu rayuan iblis, itu artinya “kebaktiannya kepada Tuhan memang tidak bernilai bagi Barshīsha”.

 

Kenapa kebaktiannya tidak bernilai bagi Barshīsha? Karena baginya, “berbuat bakti itu mudah”. Anda mudah menulis 500 milyar di kertas, karena angka itu tidak bernilai. Barshīsha mudah berbakti, mudah taat kepada Tuhan, ketika harus menghapus kebaktian itu dan diganti dengan durhaka, ya ringan saja, karena tidak bernilai apa-apa di hatinya.

 

Sesuatu tidak bernilai disebabkan “mudah mendapatkannya”. Angka 50 bernilai bagi akuntan, karena itu bukan hal mudah bagi akuntan. Untuk mencapai “nilai” atau atsar kuat diperlukan kepayahan dan kesusahan, butuh suatu mujāhadah (perjuangan sungguh-sungguh). Maka Al-Qur’an selalu mewasiatkan bahwa bersama kemudahan ada kepayahan. Artinya kemudahan dan kepayahan hakikatnya dualitas yang saling menyeimbangkan.

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirâh : 5-6)

 

Ini artinya, berbuat taat bagi Barshisha itu mudah-mudah saja. Ia dimudahkan oleh Tuhan untuk taat kepada-Nya, tanpa halang rintang berarti. Ia dengan mudah hidup puluhan tahun di kuil, puluhan tahun sujud, puluhan tahun puasa, puluhan tahun mengajar, tanpa ada godaan berarti.

 

Bagi Anda, hidup di dalam masjid puluhan tahun, tanpa hiburan, tanpa refreshing, tanpa seks, tanpa berlaku hedon, itu semua sangat susah bagi Anda. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Barshisha, ia enjoy terbang di angkasa taat, ia dikaruniai mudah taat. Dessss…. taatnya menjadi tidak bernilai, tidak mengukirkan atsar.

 

Peristiwa Barshisha ini jelas karena tidak adanya keseimbangan pada pola kebaktian Barshisha kepada Tuhan. Bila kebaktiannya bukan semacam gratisan, tentu berakhir seimbang; khusnul khâtimah. Gratisan biasanya diberikan kepada orang yang tidak mampu, maka itu sebenarnya Barshisha bukan orang yang mampu berbakti puluhan tahun.

 

Maka ini, Anda perlu bersyukur atas kesusahan Anda berbuat taat, susah berbuat baik. Sana-sini ada kekurangan. Sudah naik jatuh lagi. Kadang malah lenyap dibawa arus maksiat, lalu dengan tertatih Anda memulai lagi dari nol untuk taat dan baik. Namun, susah payah dalam taat itulah yang akan menitikkan “nilai” atau atsar dalam jiwa Anda. Sehingga Anda tidak gampangan ganti komitmen ketika iblis-iblis datang merayu.

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا فِي عُمْرَتِهَا إِنَّ لَكِ مِنَ الأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ وَنَــفــَقَـتِـــكِ

 

“Dari Aisyah R.A. bahwa Rasulu-llāh S.A.W. bersabda padanya, “Umrahnya untuk dirinya. Sungguh untukmu ada bagian pahala atas kadar usaha dan korbanmu.” (H.R. Al-Hakim).

 

مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً

 

“Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” (Kaidah Fikih, As-Suyuthi dalam Asybah wan Nazhāir).

 

العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ

 

“Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” (Kaidah Fikih, Imam Az-Zarkasi dalam Al-Mantsur).

 

Saya bahagia ketika banyak mendapat keluhan susahnya berbuat taat, karena itu jalan Anda untuk tidak seperti Barshīsha.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *