Alkisah ada sepasang suami istri. Mereka menikah sesudah selesai S1, keduanya sama-sama PNS. Si istri konsentrasinya pada karir kepegawaian lebih fokus, minatnya lebih kuat dari suami, ia pun sangat mementingkan selesaikan S2-nya agar pangkat kepegawaiannya naik. Selesai S2, dengan dukungan prestasi kerjanya, si istri naik pangkat.
Tak sampai 5 tahun, si istri dapat beasiswa S3 di Jepang untuk menunjang karirnya. Anak baru 2, satu sudah SD, satunya baru 2 tahun. Mau tinggalkan suami dengan 2 anak kecilnya untuk kuliah S3 di Jepang, tidak mungkin. Tidak ambil S3-nya juga sangat sayang karena itu bagian dari impian terbesarnya.
Suami dan anak-anak mau dibawa ke Jepang, resikonya suami harus resign kerja, hanya anak-anak yang dibawa juga tidak mungkin suaminya ditinggal sendirian di Indonesia.
Akhirnya diputuskan suami resign PNS, dan sekeluarga ke Jepang, dengan pertimbangan suami bisa cari kerja di Jepang.
Di Jepang, suami mau melamar kerja usianya sudah kadaluarsa, mendekati 40 tahun. Ia ingin wirausaha tapi bingung mau mulai dari mana. Beberapa kali mencoba bisnis masih gagal-gagal terus.
Namun mau bagaimana lagi, daripada menganggur hanya urusi anak-anak, walaupun bisnis kecil-kecilan tetap ia jalani dengan telaten. Dan keadaan tersebut terus berjalan hingga S3 istri selesai.
Sepulang ke Indonesia, istri yang sudah kantongi S3, naik jabatan lagi. Karirnya moncer. Namun bersamaan dengan itu, karir suami tidak jauh beda seperti di Jepang, berputar bisnis kecil-kecilan tidak seberapa.
Cerita di atas hanya ilustrasi, tapi Anda amati, hal seperti di atas rata-rata terjadi kan? Saat istri powernya naik dan terus menguat, si suami justru powernya melemah? Ya walaupun si suami bukan laki-laki pengecut yang senang numpang hidup, namun entah kenapa, powernya untuk karir jadi melemah, sistem alam sepertinya tidak mendukung ia berkarir sehingga benar-benar sangat berat untuk peroleh karir gemilang.
Lalu sebenarnya ada peristiwa energi apa di balim itu semua, kenapa di saat istri powernya menguat, suami powernya justru melemah?
Alam semesta itu diciptakan berpasang-pasangan (zaujain).
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ – ٤٩
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (Q.S. Az-Zariyat : 49).
Zaujain atau pasang-pasangan yang kemudian dalam filsafat China disebut Yin Yang, dalam Hindu disebut Lingga Yoni.
Berpasang-pasangan itu bukan berjodoh-jodohan, maka ini banyak orang tidak temukan jodoh, karena soal penciptaan berpasangan itu bukan soal berjodohan.
Dari sistem zaujain lantas bersistem satu pasangan dikuatkan, satu pasangan dilemahkan. Siang berpasangan dengan malam, siang terangnya dikuatkan, malam terangnya dilemahkan. Matahari berpasangan dengan bulan, matahari cahayanya dikuatkan, bulan dilemahkan. Mata kanan berpasangan dengan mata kiri, mata kanan dikuatkan bidikannya, mata kiri dilemahkan. Tangan kanan berpasangan dengan tangan kiri, tangan kanan dikuatkan ototnya, tangan kiri dilemahkan. Dan seterusnya.
Dan laki-laki berpasangan dengan wanita, laki-laki dikuatkan otot dan mentalnya, wanita dilemahkan, karenanya laki-laki kodratnya berperan pemimpin bagi wanita, pemimpin jelas dicipta lebih tangguh segalanya baik fisik maupun emosi, baik otot maupun mental.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah mengunggulkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (Q.S. An-Nisâ’ : 34).
Karena sistem zaujain ini, mau tidak mau, ketika tangan kanan dikuatkan, maka tangan kiri melemah, ketika siang dikuatkan cerahnya, maka malam dilemahkan. Ketika laki-laki moncer power karirnya, maka perempuan akan melemah.
Mungkin banyak perempuan punya karir di luar urusan keluarga, tetapi perannya sebatas tangan kiri yang dampingi peran kerja tangan kanan. Ketika suami penghasilannya moncer, si istri penghasilannya biasa-biasa saja, katakankah di bawah penghasilan suami.
Sistem tubuh Anda ketika tangan kiri menguat, maka tangan kanan tidak bisa sekuat layaknya tangan kanan, ketika tangan kiri menguat, tangan kanan pasti melemah. Selanjutnya disebut kidal.
Nah di sini terjawab, mengapa banyak kasus pasangan suami istri yang ketika karir istri meroket kuat, saat itu pula karir suami justru meredup turun, seperti cerita suami istri di atas? Sebab sudah jadi konsekuensi alam, ketika satu pasangan dikuatkan, maka dengan alamiah yang satu dilemahkan.
Tidak mungkin kan siang dan malam sama-sama cerahnya? Tidak mungkin pula matahari dan bulan seimbang panasnya. Tidak mungkin pula tangan dan kiri sama-sama tangguhnya.
Maka ini sudah resiko paten, ketika suami kuat, si istri melemah alias kinan, dan ketika istri menguat, ya otomatis suami melemah alias kidal.
Kidal itu normal-normal saja, bukan disabilitas, karena tidak ada kidal mengganggu produktifitas kerja. Karena normal maka tidak ada satu profesipun yang disyaratkan kinan, sebab kidal itu memang bukan cacat, namun sekedar dominasi produktifitas kerja.
Saya menulis ini jujur karena banyak menerima konsultasi peserta kelas training disebabkan persoalan kidal ini. Mereka mengeluh, “Suamiku menganggur. Suamiku tidak punya penghasilan. Suamiku dinafkahi olehku. Bagaimana ya solusinya?”
Ya saya jawab, “Mau dicari solusi, bagaimana? Masa siang harus sama terangnya dengan malam, masa tangan kiri dan kanan harus sama dominasi otot kerjanya? Ya malah error kan?”
Keadaan seperti itu sudah normal, hanya saja kidal. Karena normal ya tidak ada yang perlu dicarikan solusinya. Hanya perlu pemahaman dan penerimaan takdir saja.
Kemampuan menerima kondisi itu yang perlu dikuatkan. Si istri karena sudah dikuatkan ya harus lebih intens pemakluman dan penerimaannya pada suami, selanjutnya menerimakan diri sebagai tangan kanan, dimana posisi tangan kanan itu lebih dominan kerja dan dominan menerima tanggung jawab lebih.
Demikian pula suami harus bisa berdamai dan menerima keadaan, dimana ia berada di posisi tangan kiri.
Bila istri powernya menguat, lantas suami juga sama kuat, ya malah tidak normal karena mutlak siang melulu tidak ada malamnya. Yang normal satu dikuatkan, yang satu ya harus bersedia dilemahkan.
Idealnya sih memang tangan kanan yang lebih kuat, tapi kalaupun tangan kiri lebih kuat dari kanan ya tinggal penerimaannya ditingkatkan sebagai kidal, tak perlu risi, tak perlu malu.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply