Mental dagang itu sebenarnya mental fakir, karena dagang memang upaya menarik keuntungan untuk diri sendiri, penuh tarikan ego. Ketika promosi saja sudah jelas meminta-minta dibeli, upaya keras bagaimana laku, belum lagi nanti ketika tawar-menawar berbagai trik dipakai agar bisa peroleh keuntungan maksimal. Dagang berlawanan dengan mental kaya yang ajarkan semugih kepada orang lain. Dagang justru ajarkan rasa fakir, rasa butuh kepada orang lain.

 

Spirit dagang adalah spirit menghargai diri sendiri, bahwa diri Anda ingin diuntungkan oleh orang lain.

 

Saat Anda tawar menawar barang dalam jual beli, bukankah harga 10 ribu masih menjadi daya tawar yang sangat alot? Padahal dalam urusan sosial uang 10 ribu dikasihkan kepada keponakan kecil juga masih memalukan.

 

Uang sangat berharga dalam jual beli karena adanya tarik menarik ego saling menguntungkan diri antara penjual dan pembeli. Kepentingan penjual adalah untung, kepentingan pembeli adalah dapat semurah mungkin.

 

Nah mental dagang itu berlawanan dengan mental kaya. Mau tidak mau kalau Anda dagang Anda harus ada rasa fakir yakni rasa butuh dibeli oleh orang lain. Saya sendiri lah, ketika ingin kelas training saya dibeli ya saya beriklan, promosi, pakai testimoni, kadang juga pakai trik earlybird. Jelas ketika dagang saya pakai mental fakir.

 

Nah beberapa kali saya temukan para pengusaha yang bangkrut karena salah pasang mental kaya.

 

Misal, bayar karyawan tinggi sekali, melampoi UMR setempat dan kelumrahan gaji. Sikap seperti itu betul lahir dari rasa kaya sehingga menumbuhkan rasa dermawan. Tetapi hubungan karyawan dengan bos adalah hubungan managemen dagang, nah sikap begitu bila terus diterapkan dalam waktu lama maka mental kayanya dapat mematikan mental dagangnya.

 

Ketika mental dagang sudah mati, atau minimal melemah, dagang Anda jadi babgkrut, kurang laku.

 

Kenapa membangkrutkan? Karena kalau Anda nengajar murid di kelas namun mental Anda bukan mental pengajar namun mental pacar, kacau-balau tidak?


Demikkan pula dagang dimentali mental kaya, dimana mental kaya itu mental spiritual dan sosial, dipasang di dagang, ya kacau-balau juga. Apalagi jika dalam kurun waktu lama, lama kelamaan mempengaruhi pikiran bawah sadar, lalu jadi belief. Sesudah jadi belief, pikiran bawah sadar Anda tidak kenal lagi “dagang”. Bubar.

 

Kalau saya kepada karyawan tidak ada yang saya gaji istimewa, semua normal saja gajinya, hanya saja saya juga harus berbagi dengan mereka secara sosial, jangan sampai jadi bos bakhil.

 

Karena itu saat bayar gaji mereka, dalam slip gaji saya tulis jelas, “Gaji : Sekian. Transport : Sekian. Sedekah : Sekian.” Artinya gaji biasa saja, hanya saja saya kasih sedekah di luar gaji setiap mereka gajian. Tujuannya agar mental kaya saya tidak mematikan mental dagang saya, dan sebaliknya mental dagang saya juga tidak mematikan mental kaya saya.

 

Saya sebenarnya punya bakat seni suara, dari kecil ya tidak jelek-jelek amat suaranya, maklum keluarga saya penyanyi semua, gen seni suara saya sangat kuat.

 

Tapi bakat ini tidak pernah saya hargai, saya tidak pernah berkeinginan mengembangkan, bahkan saya cenderung tak acuh. Apalagi pegang mic lalu nyanyi, azan saja saya berjuang keras untuk tidak melakukannya. Orang yang seumur hidup belum pernah kumandangkan azan ya diri saya.

 

Alasannya apa saya tidak mau kembangkan bakat seni suara saya? Anda tidak perlu tahu dan tidak perlu mengkritik. Hehehe.

Hasilnya apa? Suara saya benar-benar jelek, tidak punya cengkok.

 

Apapun yang tidak dihargai mudah rusak. Banyak alat elektronik saya dari microphone wireless, laptop, kamera yang mangkrak rusak akibat kerap tidak saya pakai. Jarang dipakai, perhatian saya pun berkurang, artinya tidak begitu saya hargai. Hasilnya barang-barang tersebut cepat binasa.

 

Mental dagang yang tidak dihargai juga lama-lama binasa, persis seperti bakat seni suara saya.

 

Saya ada teman pengusaha restaurant. Setiap saya kesana saya disuguhi makanan gratis, yang teristimewa lagi. Nanti pulang saya dikasih oleh-oleh. Dibayar tidak pernah mau.

 

Dua tahun kemudian dia gulung tikar, bangkrut. Itu pun tidak lebih karena mental dagangnya rusak karena terbunuh oleh mental kayanya.

 

Ada lagi yang kalau dagang senang gratiskan dagangannya. Ini juga sama, bisa terbunuh mental dagangnya.

 

Juga ada yang minatnya kasih harga murah saja hingga dia tidak sadar kalau dirinya harus dihargai. Dagang itu melayani, sangat capek. Kalau layanannya full tapi untungnya kecil ya itu berarti tidak mau menghargai diri sendiri. Lama-lama ya mental dagangnya terbunuh juga.

 

Bergaul dengan murid di kelas dimentali mental jadi pacar, hancur kan? Dagang dimentali mental kaya juga begitu.

 

Lah kok kita pakai mental fakir juga dalam hidup ini seperti dalam dagang? Ya iya. Anda masak cuma pakai asin emang enak? Ya harus dipadukan dengan musuhnya yakni rasa manis. Hidup yang bertumbuh juga demikian, bukan hanya pakai mental kaya namun mental fakir pun kadang perlu.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

Servo Prosperity Online Class

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *