Waktu anak-anak saya ketika mau berangkat sekolah kerap punguti buah Kedondong jatuh (Jawa: nutur Dondong) milik kakak sepupu.
Ketika obsesi saya besar ada Kedondong jatuh di pagi itu, malah tidak ada. Ketika hati saya landai, justru kerap temukan Kedondong jatuh.
Saya kerap punya ekspektasi tinggi terhadap tulisan ataupun konten medsos yang saya unggah. Ekspektasinya ini konten pasti ramai. Realitanya malah enggak. Sepi.
Sebaliknya kadang saya tidak punya ekspektasi apapun pada konten saya, malah sambutannya ramai.
Obsesi, ambisi, ekpektasi, hasrat, itu semua ketika terunggah kepada-Nya disertai nafsu-nafsu.
Anda amati ketika ada cowok nakal dengan penuh nafsu menggoda cewek yang dia temui. Bukankah si cewek justru ketakutan, risih dan marah. Penolakan si cewek terjadi disebabkan saat si cowok nakal menggodanya yang ada hanya hasrat nafsu.
Jadi mengapa ketika Anda punya obsesi, ambisi, ekpektasi, atau hasrat tertentu lantas realitanya tidak seindah ekspektasinya? Itu karena pada saat itu nafsu lah yang terunggah kepada-Nya.
Sebab saat saya berambisi pungut Kedondong jatuh atau saya berekspektasi pada konten medsos tertentu justru hasilnya haihata; jauh panggang dari api.
Berbeda ketika obsesi dan ekspektasi saya landai-landai saja, di situ getaran nafsunya kecil, sehingga mudah terwujud realitanya.
Namun sekarang begini. Ekspektasi, ambisi, obsesi, atau hasrat itu sendiri adalah doa. Iya, udang tidak pernah punya ambisi makan daging, artinya udang tidak pernah punya doa untuk dapatkan daging segar, selama hidupnya udang pun tidak pernah temui daging segar. Ijabah doanya dapatkan daging segar tidak pernah terjadi. Beda dengan macan yang ambisinya kepada daging segar.
Tuhan itu konsisten ijabahi doa Anda. Janji-Nya;
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” (Q.S. Al-Mu’mîn : 60)
Cuma kalau tidak ada doanya, Tuhan mau ijabahi apa?
Bagian dari doa itu adalah keinginan-keinginan, harapan-harapan, dan kemauan-kemauan, yang di dalamnya termasuk ambisi, obsesi, ekspektasi dan hasrat.
Lah iya, beda orang sukses dan orang biasa itu cuma beda “dalemannya”, beda mindsett-nya saja. Sama-sama buka toko dengan modal kecil, orang sukses berpikir untuk besar, ia punya ambisi pada kemajuan.
Sementara orang biasa buka toko yang sama, namun ia hanya berpikir dan berniat buka toko untuk tambah-tambah penghasilan. Beda “daleman” beda pula tindakan dan resikonya, hasilnya juga jadi jauh beda.
Jadi sekali lagi, ambisi, obsesi, ekspektasi, hasrat, itu doa. Tanpa doa, Tuhan yang Maha Ijabah mau ijabahi apa?
Paradox ya? Punya ambisi ditolak doanya karena penuh nafsu, tanpa ambisi tidak diijabah karena tidak punya doa. Mumeti.
Terus jalan keluarnya?
Kalau Anda sedang terima keadaan ekspektasi tak seindah realita, itu Anda kecewa, tidak? Tentu kecewa, ada muncul rasa sedih, dan kadang hati dibesar-besarkan, dilegawa-legawakan, dan disabar-sabarkan.
Artinya ketika ambisi, obsesi, hasrat atau ekspektasi ditolak oleh-Nya, di situ Anda mengalami proses pelepasan ego dan nafsu. Ketika ego dan nafsu menurun kemelekatannya, di situ jiwa Anda berproses mengunggah doa-doa yang termurnikan.
Setiap hasrat, ambisi, obsesi, dan ekspektasi yang tertolak, di situ Tuhan melatih Anda untuk belajar rela hati, lapang dada, ridha, tawakal, dan pasrah.
Karena itu Nabi Musa pernah bertanya kepada Allah,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عِمْرَانَ الْقَصِيرِ قَالَ: قَالَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ: أَيْ رَبِّ، أَيْنَ أَبْغِيكَ؟ قَالَ: ابْغِنِي عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ؛ إِنِّي أَدْنُو مِنْهُمْ كُلَّ يَوْمٍ بَاعًا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَانْهَدَمُوا
“Abdullah bercerita, ayahku bercerita kepadaku, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, dari ‘Imran Al-Qashiri, ia berkata, Musa bin ‘Imran A.S. berkata, “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?” Allah menjawab, “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu bâ’ (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti roboh (binasa).” (H.R. Imam Ahmad bin Hanbal).
Ya orang yang ekspektasinya sedang tidak tercapai, hasratnya kandas, ambisinya amblas, dia sedang hancur hatinya, di saat itu dia sedang berproses dengan pelepasan ego dan nafsu, sehingga ketika Musa A.S. menanyakan, “Di mana Engkau berada, ya Rab?” Jawab Tuhan, “Di hati orang yang sedang hancur hatinya.”
Nah sesudah Anda jatuh-bangun, maju-mundur, senang-sedih, menang-kalah, tawa-tangis, dan alami banyak haru-biru, banyak makan garam, di situ Anda setahap-tahap tertata nuraninya, nafsunya buruknya perlahan jinak. Sesudah di keadaan pasrah, baru ambisi, obsesi, hasrat, ekspektasi Anda itu diijabah.
Jangan langsung pasrah, karena kalau langsung pasrah, Anda jadi lemah kemauannya, lemah kemauannya jadi lemah doanya. Lemah doanya ya tidak ada ijabah.
Jadi jangan gampang pasrahan ya? Hahaha.
Yang elegan itu ambisi besar, kemauan besar, hasrat penuh, karena itu sebagai “modal doa”, selanjutnya tempuh dengan kesungguhan, dan hadapi pahit-getirnya dengan kuat hati. Nanti setelah Anda dinilai beserah pasrah, Tuhan ijabahi doa Anda, di situ gol baru terjadi.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity Word
Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply