Sudah menjadi asumsi umum kalau kerja keras itu pangkal semua keberuntungan dan kesuksesan. Sebaliknya malas itu pangkal semua keburukan dan kegagalan.
Namun Anda tahu, tidak? Dari malas lalu muncul milyader-milyader dunia karena mereka melihat peluang bisnis dari kemalasan Anda. Malas pergi ke warung, muncul bisnis Gofood. Malas cuci baju, muncul bisnis laundry. Malas setir sendiri, muncul bisnis transportasi. Malas jalan kaki, muncul bisnis sepeda motor dan mobil. Malas lama-lama di perjalanan jarak jauh, muncul bisnis pesawat. Ya hakikatnya kemalasan Anda memunculkan banyak berkah untuk kehidupan ini.
Tentu karena malas jadikan harga menjadi mahal. Iya kalau Anda tidak malas jalan kaki ke warung, Anda cukup keluarkan 15 ribu sekali makan, lantaran pesan Gofood, ya tambah mahal. Cuci baju cuma butuh modal sabun, air dan listrik, lantaran malas mencuci, Anda harus bayar jasa laundry. Malas jadikan harganya relatif mahal.
Termasuk munculnya para bos itu juga karena mereka malas mengerjakan kerjaan mereka sendiri. Andai mereka tangkas, gesit dan apa-apa siap dikerjakan sendiri, niscaya tidak ada status bos di kehidupan ini.
Ya memang bagian dari karakter mandiri itu pekerja keras, yakni orang-orang yang tidak mengharap-harap dibantu orang lain, tidak berpikir merepotkan orang lain, tidak bermental menyuruh-nyuruh orang lain, tidak berkenan menjadi beban bagi orang lain. Dari kesadaran ini lalu lahir tanggung jawab untuk bekerja mandiri, mengerjakan apa-apa sendiri.
Mandiri yakni mengerjakan apa-apa sendiri sehingga enggan mendelegasikan kepada orang lain, mereka pun cenderung fulltime kerja, dan cenderung cekatan. Namun keburukan karakter seperti itu banyak juga lho, di antaranya;
1. Susah mengakses rasa bos.
Bos itu apa-apa mendelegasikan kepada orang lain karena dia merasa mampu membayar orang. Rasa mampu membayar ini yang memunculkan rasa kaya di hati, rasa bahwa “saya orang kaya, bisa bayar orang”.
Rasa sebagai bos ini yang terus menerus terunggah kepada-Nya. Karena mengunggah rasa bos, Tuhan tinggal merespons prasangka hamba kepada-Nya. Karena prasangka si hamba sebagai bos, ya jadilah dia bos. Sementara resiko bos itu membayar. Karena banyak yang harus dibayar lalu rezekinya jadi lebih banyak dari yang lain.
Nah di sini jebakan buruknya pekerja keras yang hobi kerjakan apa-apa sendiri. Dia minatnya kecil untuk jadi bos. Kalau minat saja kecil untuk jadi bos, lalu kapan strata sosial dan finansialnya naik ke level bos?
2. Susah mengakses rasa mampu bayar.
Sudah lazim tidak mampu bayar orang lain ya dikerjakan sendiri.
Nah mengerjakan apa-apa sendiri tapi karena dipicu rasa tidak mampu bayar orang itu artinya sedang menyuburkan rasa miskin, yakni rasa tidak mampu bayar orang. Kalau rasa miskin yang banyak diunggah, ya sudah hasilnya juga kemiskinan.
3. Susah punya branding tuan.
Personal branding muncul karena Anda punya authority. Misal perintah guru ditaati oleh murid itu karena si guru punya authority di belief si murid kalau ia adalah gurunya yang banyak berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan.
Authority personal ini terbangun kuat di dalam belief si murid, akhirnya si murid disuruh apapun nurut. Padahal kalau dinalar logis ya tidak ketemu akal, lahir sama-sama sebagai manusia, kok ya yang satu menyuruh-nyuruh dan yang satunya siap sedia disuruh-suruh. Itu akibat efek branding.
Nah pekerja keras yang suka kerjakan apa-apa sendiri dari sisi branding sebagai tuan itu lemah sekali. Lah wong nggak pernah terlihat menyuruh-nyuruh orang, siapa yang akan memberi prasangka kalau dia itu tuan yang layak menyuruh.
Kalau prasangka dirinya itu tuan saja tidak ada, bagaimana dia bisa bangun brand kalau dirinya tuan?
4. Kerap tidak hargai kesehatan sendiri.
Kerja keras dengan mengerjakan apa-apa sendiri tentu capeknya lebih walaupun hemat dan efesiennya juga lebih. Sehingga model orang begini cenderung tidak perhatikan kesehatan sendiri. Iya selagi tenaganya masih fitt dia segar dan tangkas, nanti usia 55 tahun saja sudah mulai ambruk-ambrukan.
5. Cepat mati.
Lah kok cepat mati? Ya pekerja keras itu orang yang cepat berjalannya.
Kalau Anda punya tujuan ke Jakarta lalu mobil Anda dipacu cepat, di situ Anda lekas sampai Jakarta. Kalau sudah sampai di Jakarta tidak ada alternatif lain selain pulang. Atau Anda ditugasi sapu rumah tetangga, kalau Anda cepat-cepat dalam mengerjakannya, Anda cepat selesai. Kalau sudah selesai, pilihannya tinggal apa? Pilihannya cuma pulang.
Karir, tujuan, cita-cita, tugas-tugas dalam hidup kalau Anda terlalu cekatan dalam kerja keras juga begitu, Anda cepat dipanggil pulang alias mati.
Jadi malas pun banyak manfaatnya. Karena malas, Anda jadi punya ide-ide bagaimana membayar orang lain, bagaimana menjadi bos, bagaimana menjadi tuan, bagaimana menjadi atasan, bagaimana menjadi pemimpin, dan seterusnya.
Selamat jadi pemalas yang cerdas dan brilian.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply