Di video Tiktok saya pernah sampaikan kalau urusan spiritual itu memiliki nilai privilege, sehingga nilai-nilai spiritual semacam nilai ibadah, nilai ikhlas, nilai tawakal, dan lain-lain itu bukan hanya milik orang yang sedang menahan hawa nafsu, orang yang di keadaan mengikuti hawa nafsu pun juga punya kesempatan sama.
Jadi peroleh nilai spiritual itu jalannya tidak hanya menghadang hawa nafsu, tetapi menungganginya juga bisa agar hawa nafsu mengantar Anda menuju Tuhan.
Di tanggal tua, Anda pulang kerja, istri pasang muka judes kepada Anda karena duit belanja habis sementara cicilan kredit waktunya dibayarkan, lalu di hati Anda diniati untuk latihan sabar dan tawakal, di situ di keadaan tidak punya uang jadi ladang pahala untuk Anda karena berlatih peroleh ridha Allah dengan sabar dan tawakal.
Sebaliknya di tanggal muda seusai gajian, Anda sedang luas duitnya, sesudah bayar semua tanggungan kewajiban, Anda ajak istri ke mall, niat Anda peroleh ridha Allah dengan menggembirakan istri, hasilnya ya pahala dan ridha Allah juga.
Jelas kan, kondisi melarat ataupun punya uang, keduanya punya potensi sama dalam capaian nilai spiritual asal kesadaran Anda mendukungnya. Tinggal kemana kesadaran Anda.
Maka itu hawa nafsu itu mau dihadang ataupun ditunggangi berpotensi capai nilai spiritual dengan kualitas kesucian yang sama. Menghadang nafsu untuk capai nilai spiritual ya seperti puasa, menunggangi nafsu untuk capai nilai spiritual ya seperti ajak istri ngresto dan traveling untuk cari ridha Allah dengan gembirakan istri.
Imam Asy-Syadzili cenderung berorientasi menunggangi hawa nafsu agar peroleh ridha Allah, Imam Ghazali sebaliknya cenderung menghadang hawa nafsu, sehingga ajaran-ajaran Imam Ghazali cenderung mengajak untuk prihatin seperti riyadhah (tirakat), mujahadah (berjuang keras lawan hawa nafsu), ‘uzlah (mengasingkan diri), istihqâr (meremehkan harta), dan lainnya.
Imam Asy-Syadzili sebaliknya, cenderung menunggangi nafsu, seperti termaktub dalam Kitab Syarhul Minahis Saniyyah karangan Sayyid Abdul Wahhab Ady-Sya’rani, halaman 5, berikut ini;
وقد كان أبو الحسن الشاذلى رحمه الله يقول لأصحابه : كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطاء الفراش وألبسوا ألين الثياب.
“Al-Imam Abul Hasan Ali as-Syadzili, pendiri Tarekat as-Syadziliyah berkata kepada murid-muridnya, “Makanlah makanan yang paling enak, minumlah minuman yang paling nikmat, tidurlah di atas kasur yang paling lembut, dan pakailah pakaian yang paling bagus.”
فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر بخلاف ما إذا أكل خبز الشعير بالملح ولبس العباءة ونام على الأرض وشرب الماء المالح السخن وقال الحمد لله فإنه يقول ذلك وعنده اشمئزاز وبعض سخط على مقدور الله تعالى.
“Jika di antara kalian melakukan itu semua, lalu mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ maka semua anggota badannya telah memenuhi syukurnya dengan benar. Beda halnya, jika di antara kalian makan roti terigu yang kasar dicampur dengan garam, memakai jubah kasar, tidur beralaskan tanah, minum air asin yang panas, lalu mengucapkan Alhamdulillah, maka ucapan syukur tersebut bercampur dengan rasa muak, dan sedikit benci dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah ﷻ.”
ولو أنه نظر بعين البصيرة لوجد الاشمئزاز والسخط الذى عنده يرجح في الإثم على من تمتع بالدنيا بيقين.
“Andai dia bisa melihat dengan mata hatinya, dia akan menemukan rasa muak dan tidak rela dengan takdir Allah ﷻ itu adalah lebih besar dosanya dibanding orang yang bersenang-senang dengan dunia dengan yakin.”
فإن المتمتع بالدنيا فعل ما أباحه الحق سبحانه وتعالى، ومن كان عنده اشمئزاز وسخط فقد فعل ماحرمه الحق عز وجل.
“Sebab orang yang bersenang-senang dengan dunia dia melakukan yang perkara yang diperbolehkan oleh Allah ﷻ, sedangkan orang yang tidak rela dan benci dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah ﷻ dia melakukan perkara yang diharamkan oleh Allah ﷻ.”
Imam Ghazali melihat nafsu sebagai musuh menuju Tuhan, Imam Syadzili cenderung melihat nafsu sebagai teman menuju Tuhan, sebagai fasilitas yang bisa ditunggangi menuju-Nya.
Sayyid Zaini Dahlan dalam kitab Taqrîbul Ushûl halaman 12-13 menjelaskan, Imam Syadzili merupakan pejalan Tuhan yang cenderung meringankan perkara bagi para pejalan Tuhan sehingga mereka tidak membutuhkan banyak perjuangan (mujahadah) untuk menuju Tuhan, tidak perlu neko-neko.
Bagi Imam Syadzili menuju Tuhan itu cukup dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, memperbanyak syukur dan menyaksikan anugerah dan pemberian-Nya.
Menurut Sayid Zaini Dahlan, Imam Ghazali itu sebaliknya. Imam Ghazali menunjukkan konsistensi yang kuat untuk menuju Tuhan dengan ketekunan berjuang (mujahadah) memerangi syahwat.
Sekali lagi, nafsu itu bisa jadi teman menuju-Nya yang Anda bisa menungganginya, juga bisa jadi musuh penghalang menuju-Nya sehingga Anda harus memeranginya. Dua-duanya tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih suci, sama. Itu semua tergantung cara pandang kesadaran Anda sendiri.
Anda pagi-pagi sudah menikmati kopi di hotel bintang 5 yang secangkirnya 60 ribu, namun Anda sadar sepenuhnya sedang menikmati anugerah keberlimpahan hidup dari Allah, itu pahalanya menyamai Anda yang pagi-pagi sedang sabar puasa.
Jadinya memang Anda yang keluar masuk restoran dengan Anda yang puasa itu kedudukannya sama untuk capai nilai spiritual.
Nabi S.A.W bersabda,
الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ
“Orang makan yang syukur menduduki derajat orang puasa yang sabar.” (H.R. Bukhari)
Atau Anda sedang plesiran di pantai, lalu Anda saksikan debur ombak menghantam karang, di situ Anda berdecak kagum baca, “Subhanallah,” karena kagum dengan indahnya ciptaan Allah, yang berarti Anda zikir kepada Allah di saat orang lain hanya menikmati kegembiraan plesiran, di situ kedudukan Anda menyamai kedudukan orang yang sedang pertaruhkan nyawa jihad di jalan Allah.
Nabi S.A.W bersabda,
ذَاكِرُ اللَّهَ فِي الْغَافِلِينَ مِثْلُ الَّذِي يُقَاتِلُ عَنِ الْفَارِّينَ
“Orang yang zikir kepada Allah di tengah-tengah orang yang lupa ingat kepada-Nya itu menyamai orang yang maju di medan perang di tengah para prajurit yang melarikan diri.” (H.R. Baihaqi)
Wah kalau begitu enak ya, menuju Tuhan cukup dengan senang-senang saja? Tidak begitu. Segalanya punya tempatnya masing-masing. Misal di saat Anda bangun bisnis atau sedang sekolah ya mau tidak mau Anda harus melawan nafsu, khususnya nafsu malas dan nafsu boros karena uang Anda dipakai modal atau untuk biaya sekolah. Namun di saat Anda sudah punya uang, saat Anda menikmatinya, di situlah Anda tunggangi nafsu Anda agar capai ridha-Nya.
Alhasil hidup itu semata-mata nikmat kok. Melawan nafsu itu ibadah, menunggangi nafsu juga ibadah. Berjuang itu ibadah, menikmati juga ibadah.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply