Majapahit adalah imperium besar yang punya cita-cita dan impian satukan nusantara. Puncaknya di masa kekuasaan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

 

Anda tahu, satukan nusantara itu cita-citanya siapa? Itu cita-cita Prabu Kertanegara di Kerajaan Singhasari. Kertanegara punya cita-cita besar satukan nusantara, namun ia wafat dan kerajaan Singhasari runtuh di masa kekuasaannya. Menantunya, Raden Wijaya, kemudian mendirikan Majapahit sebagai pewaris kekuasaan Singhasari.

 

Jadi Majapahit hanya terima warisan cita-cita satukan nusantara, pencetus impiaannya adalah Kertanegara. Cita-cita dan impian diwariskan.

 

Uni Soviet runtuh. Berdirilah Federasi Rusia. Sekarang musuh-musuh Rusia adalah musuh Uni Soviet. AS dan NATO sebagai musuh Rusia semata-mata musuh warisan Uni Soviet. Musuh pun diwariskan.

 

Stroke, jantung, diabetes, eksim kulit, penyakit diwariskan.

 

Anak-anak yang suka begadang malam bangunnya siang, atau anak-anak yang jam 20.00 sudah ngantukan, biasanya memang warisan pola tidur orang tuanya. Pola tidur saja diwariskan.

 

Nabi Isa A.S begitu lahir punya mukjizat bisa bicara. Bayi merah bisa apa, kok keluar keramat? Itu warisan dari kesucian Maryam, wanita suci yang konsisten mendekat kepada Tuhan. Keramat pun diwariskan.

 

Menjadi sangat adil bila anak lelaki mendapat bagian warisan 2 kali lipat dari anak perempuan, karena andai warisan tersebut sebuah masalah, sebuah tanggung jawab, sebuah fitnah, maka yang paling berperan menerima masalah tersebut untuk dihadapi dan diselesaikan adalah anak laki-laki.

 

Jadi bukan cuma harta dan hutang yang diwariskan kepada anak, masalah, musuh, cita-cita, minat, termasuk karma diwariskan. Semua energi yang ada pada Anda saat ini akan diwariskan semua kepada anak.

 

Saya hanya niteni atau mengamati saja, orang-orang yang tidak mengenal mengalah dalam hidupnya, maunya menang sendiri terus, anak-anaknya cenderung biasa-biasa saja prestasi hidupnya.

 

Iya. Orang yang sedikit-sedikit melabrak, kalau sedang benci sangat bengis, tidak mau kalah, alot kalau bermusuhan, sedikit tersinggung tidak tanggung-tanggung ngamuknya, anak-anaknya cenderung biasa-biasa saja hidupnya, tidak ada dari anak-anaknya yang punya prestasi menonjol.

 

Itu disebabkan energi kemenonjolan dan kemenangan sudah dipakai semua oleh orang tuanya. Karena energi menangnya telah dipakai semua oleh ortunya, warisan energi kemenangan untuk anak sudah tidak ada. Ibarat uang sudah habis, anaknya mau pakai sudah tidak tersisa uang.

 

Tidak mau mengalah dan kadang harus egois itu sangat penting bagi Anda, fungsi utamanya untuk jaga harga diri sehingga orang lain tidak sembrono meremehkan Anda.

 

Namun jika ketidakmauan mengalah itu di sebuah masalah, segala hal diselesaikan dengan sikap tegas tanpa kompromi, ya berabe. Akibatnya energi menangnya hanya dipakai oleh Anda semua, anak-anak Anda diwarisi apa?

 

Karena itu Anda perlu cerdas, kapan mengalah, kapan harus egois untuk menang. Masalah-masalah yang masih bisa diselesaikan dengan mengalah, ya lebih baik mengalah. Jika sudah mengalah masih disembrononi, menjauh dulu. Sudah menjauh masih saja direcoki, baru mengamuk. Ngalah, ngalih, ngamuk.

 

Jadi hematlah menggunakan energi menang, agar anak-anak Anda punya peluang besar jadi pemenang.

 

Saya sendiri di saat harus mengalah, saya transfer energi menangnya untuk anak-cucu saya. Caranya menransfer ya dengan niat agar kekuatan menangnya kelak untuk anak.

 

Selalu mengalah juga identik dengan lemah. Orang lemah kerap jadi kerap diperdaya dan dimanfaatkan orang tanpa dihargai. Karena itu mengalah secukupnya, cari menang juga secukupnya.

 

Nah yang paling mematikan energi kebaikan untuk anak itu energi rakus dan serakah. Rakus itu bukan cuma cari menang sendiri, namun kadang cari menangnya hingga dengan cara-cara culas dan memperdaya demi memenangkan kepentingannya sendiri.

 

Ada kisah nyata, ada 2 adik lelaki yang punya kakak lelaki sukses dan kaya. Kakaknya meninggal di usia muda dengan tinggalkan seorang istri dengan 3 anak yatim. Anak sulung kakaknya masih kelas 6 SD.

 

Dua adik lelaki tersebut memperdaya janda kakaknya dan anak-anaknya. Awalnya beralasan minta hak warisan kakak, namun makin jauh sertifikat tanah-tanahnya, sertifikat rumah, BPKB, semua direbut dengan teror dan ancaman.

 

Janda kakaknya hanya bisa ketakutan, maklum ia hanya seorang perempuan dengan 3 anak yatim.

 

Sertifikat rumah bisa dipertahankan, namun sertifikat tanah-tanahnya di kampung halaman suami raib semua. Ia bisa pertahankan rumah dan mobil, namun ancaman dan teror dari adik-adiknya terus menghinggapi.

 

Dan anehnya, setelah lewat 25 tahun kemudian. Anak-anak dari kedua adiknya rata-rata jadi orang gila semua. Yang tidak gila, sangat miskin, tidak berpendidikan, hidup berantakan semrawut. Ya begitu warisan energi rakus.

 

Anda kerap kan lihat anak-anak raja yang otaknya playboy sejak kecil, kasusnya melecehkan wanita, otaknya cabul dan mesum, isi otaknya seperti tidak penuh. Itu karena karakter raja memang karakter enggan kalah, minat berkuasaanya besar, ketika si raja terjebak dalam obsesi kekuasaan, ia tidak sadar kerap memperdaya musuh politiknya. Hasilnya putra mahkotanya jadi cabul, otak si anak seperti tidak genap.

 

Nah Anda kaget ya, kadang ada anak tokoh agama, entah ulama, entah pendeta, kok otaknya cabul, ya kurang lebih begitu, pasti ada peran rakus orang tuanya kepada sesamanya.

 

Energi rakus itu energi bejat. Ketika energi bejat diwariskan kepada anak, ya anaknya jadi orang bejat, tidak peduli apapun peran orang tuanya, sekalipun ulama atau pendeta.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *