Kasus Kematian Brigadir J Ditilik dari Sistem Prosperity Alam Semesta
Alam semesta itu konsisten dalam menerapkan hukum kaya, dimana kalau ingin memiliki sesuatu maka bayarlah. Mobil tidak bisa jadi milik Anda kalau Anda belum bayar lunas harganya. Nilai bayar bisa dengan harta, bisa dengan pikiran, tenaga, jasa, dan apa saja. Gondol mobil di dealer tanpa bayar lunas, Anda disebut maling.
Bahkan sekalipun sudah Anda bayar lunas, lalu sudah jadi milik Anda, sesuatu di luar diri Anda pun masih terus diberi kewenangan untuk eksis hargai dirinya sendiri. Iya mobil sudah Anda bayar lunas, sudah sah menjadi milik Anda, lalu ada bagian mobil yang Anda rusak, maka si mobil akan menuntut diri Anda untuk memperbaikinya.
Mobil kena baret misalkan, kalau Anda tidak membayar lunas biayanya, si mobil akan paksa Anda untuk tampilkan kekurangannya, yang tampilan kekurangan tersebut adalah tampilan Anda sendiri yang miskin belum mampu bayar kerusakan baretannya. Di situ Anda dipaksa membayarnya dengan hati dan mental.
Bahkan dalam kondisi tertentu, ada kerusakan mobil yang tanpa kompromi memaksa Anda untuk bayar konstan, kalau tidak langsung dibayar, mobil menuntut mogok tidak bisa dipakai. Kebocoran ban misalkan.
Jelas kan, sesuatu apapun yang sudah jadi milik Anda sekalipun, maka sesuatu tersebut masih memiliki hak eksistensi harga dirinya, ketika ada yang rusak, Anda masih dituntut bayar.
Itu barang milik Anda yang sudah Anda bayar lunas. Lah kalau barang bukan milik Anda yang belum Anda bayar? Hak apapun tidak ada untuk Anda, kecuali hak pinjam atau sewa, itupun keduanya punya mekanisme pembayaran masing-masing.
Jadi segala energi yang berinteraksi dalam diri Anda itu tidak ada yang gratis, opsi gratis untuk bisa kaya itu tidak ada datanya di alam semesta. Bayar dan bayar.
Lah sekarang kalau tetangga Anda punya tangan, lalu Anda hendak memakainya, ya Anda pun harus bayar. Mau pakai tangan tetangga untuk cabuti rumput halaman rumah Anda, ya Anda harus bayar kan?
Tangan Anda sendiri ketika Anda merusaknya, misal tersayat silet, Anda harus membayarnya lunas, yang pasti harus bayar dengan rasa sakit, harga minimal harus bayar obat-obatan medis, dan kalau harus ke dokter, Anda juga yang harus membayarnya. Padahal itu tangan Anda sendiri.
Kalau yang Anda rusak adalah tangan orang lain? Ya Anda harus bayar.
Tikus saja yang digariskan menjadi hewan hama konsisten membayarnya dengan lunas yakni merelakan diri sebagai hewan yang halal dibunuh, tikus rela hidup tanpa perlindungan hukum. Tikus saja konsisten hidup kaya, ia berani jadi hama, ia berani membayarnya.
Dalam hukum kriminal Islam ada mekanisme qishâsh, di mana kalau Anda merontokan gigi orang lain, hukumannya gigi Anda harus sedia dirontokan, Anda patahkan tangan orang, hukumannya tangan Anda harus sedia dipatahkan, Anda melenyapkan nyawa orang lain, hukumannya nyawa Anda harus siap dilenyapkan.
Tentu mekanisme qishâsh di atas berlaku bila tidak ada alasan darurat tertentu untuk lenyapkan nyawa orang lain.
Bila pelaku kejahatan tidak bersedia di-qishâsh, ia harus bayar diyat yakni ganti rugi dengan bayaran harta yang besarannya mencapai 100 ekor unta.
Mekanisme qishâh ini mekanisme alamiah, bukan sekedar aturan baku hukum Islam, Anda menuntut anggota tubuh orang lain bekerja, Anda harus bayar, Anda merusak anggota tubuhnya Anda harus bayar lunas. Semuanya berbayar lunas.
Dan ketika Anda menuntut lenyapnya nyawa orang lain, itu berarti Anda sedang menuntut lenyapnya nyawa sendiri, melenyapkan nyawa orang lain sama saja melenyapkan nyawa sendiri. Bila tidak berani pembayaran dengan nyawa sendiri, harus bayar diyat. Dulu TKW Indonesia di Arab Saudi bayar diyat hingga Rp 15,2 M.
Bayar lunas, begitu pemasangan konstruksi alam semesta, tidak berani bayar resikonya Anda harus bayar dengan kemiskinan.
Kopda Muslimin yang kemarin viral mendalangi pelenyapan nyawa istrinya sendiri ia pun tak kuasa membendung mekanisme alam yang ujung-ujungnya ulahnya menuntut nyawa istrinya lenyap, eh malahan mekanisme kerja alam alam berbalik menuntut nyawanya sendiri lenyap.
Sementara ia sendiri mentalnya gratisan, maunya lenyapkan nyawa istri tapi ia tidak mau bayar dengan resiko apapun. Namun alam semesta tetap baku dengan aturan qishahnya, hasilnya Kopda Muslimin harus bunuh diri melenyapkan nyawanya sendiri.
Disayangkan sekali, Kopda Muslimin secara tindakan sudah bayar lunas dengan nyawanya, namun motifnya adalah motif gtatisan minta luput dari resiko hukum, ia putus asa. Hasilnya nyawanya sendiri lenyap, tapi status kemiskinannya tetap tersemat. Rugi besar.
Yang lagi viral sekarang kasus kematian Brigadir J (Nofriansyah Joshua Hutabarat). Sebegitu heboh.
Keluarga Brigadir J secara ekonomi sebenarnya keluarga pas-pasan, dalam situasi normal, keluarganya untuk biaya sekali terbang ke Jakarta saja mungkin butuh mikir panjang. Namun ketika nyawa Brigadir J dilenyapkan, keluarga ini dimampukan menggerakan uang puluhan hingga ratusan milyar untuk memperjuangkan harga diri nyawa Brigadir J.
Alam semesta dengan enteng mengfasilitasi uang yang angkanya jauh di luar kemampuan ekonomi sebenarnya keluarga Brigadir J. Jangankan untuk bayar puluhan lawyer Brigadir J, untuk sewa 1 lawyer saja—bila diukur kemampuan ekonomi sebenarnya—keluarga Brigadir J masih berat.
Belum lagi berapa juta transaksi keuangan bergerak terkait nyawa Brigadir J? Di luar nalar dan di luar kapasitas ikhtiyar manusia. Namun begitulah kontruksi alam semesta bila sedang menuntut bayar lunas kepada pihak yang minta gratisan.
Lah iya, kenapa kasus Brigadir J seheboh itu? Dikarenakan pelaku pembunuhan Brigadir J minta gratisan atas nyawa orang lain. Si pelaku menuntut nyawa Brigadir J lenyap, di mana menuntut nyawa orang lain konsekuensi bayarannya adalah menuntut nyawanya sendiri.
Namun pelaku inginkan gratis, yang ia inginkan ia tetap eksis hidup dengan segala jabatan, harta, dan kekuasaan. Mentalnya miskin, mentalnya gratisan.
مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيْلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل
“Barangsiapa yang keluarganya terbunuh maka ia bisa memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga memilih pelakunya dibunuh (qishâsh).” [H.R. Al-Jamâ’ah].
Ayat di atas adalah ayat kekayaan, bahwa kalau mau kaya harus berani bayar, sampai tidak ada lagi harta untuk membayar, ya siapkan nyawa Anda untuk membayar.
Jadi yang Anda saksikan dari kasus kematian Brigadir J sekarang ini adalah kehebohan dari sebuah kasus mental gratisan, mental miskin.
Hasilnya apa sih orang yang mentalnya gratisan, tidak mau bayar lunas? Hasilnya kemiskinan. Banyak jabatan kepolisian sudah dipaksa lepas, belum lagi vonis hukuman mengancam, ditambah opini buruk kepada pelaku berseliweran. Hasilnya kemiskinan, kan?
Masih mau gratisan? Resikonya Anda miskin.
Mungkin ada sebagian orang yang super kuat dan super kuasa bisa lepas dari kontruksi bayar lunas alam semesta di masa hidupnya sehingga mereka masih tetap tampak kaya, seperti Kim Jong-un dengan nyawa rakyatnya sendiri yang kuasa memperlakukannya seperti nyawa semut di teras rumah, karena itu kemudian alam semesta memberikan opsi kelanjutan hidup di alam baka, di mana di alam baka inilah segala hal yang menyangkut bayar membayar yang belum lunas akan diproses bayaran lunasnya.
Alam semesta sudah baku merumuskan bayar lunas, kalau Anda minta gratis, opsinya hanya satu pilihan yakni miskin.
Mau kaya? Gemarlah membayar dengan sadar.
Eeh diam-diam Anda masih suka incar rokok gratisan, enggak? Alam semesta sudah baku hukumnya, kalau mau kaya ya bayar. Tidak mau bayar, ya miskin. Tikus saja sebagai makhluk hama sudah konsisten kaya dengan berani terima stigma halal dibunuh, masa Anda yang manusia malah konsisten miskin dengan enggan membayar.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply