Ketika Anda diberi uang oleh orang lain, lalu Anda menerimanya, di situ martabat kemerdekaan Anda telah terkontrol oleh si pemberi sebab terikat rasa terima kasih. Kenapa Anda menerimanya? Tentu karena Anda butuh.

 

Anda rela jam 7 pagi sudah berangkat kerja, karena Anda merasa butuh uang sehingga mau tidak mau harus merelakan diri Anda dijajah keadaan, sampai-sampai jam 7 pagi sudah harus berada dalam kontrol orang lain yakni mulai kerja untuk orang lain.

 

Di dunia perdagangan ada slogan universal “pembeli adalah raja”, dimana slogan ini adalah hukum baku alam semesta seperti halnya hukum gravitasi. Di daerah dan budaya manapun di penjuru dunia, slogan “pembeli adalah raja” merupakan hukum paten perdagangan.

 

Mungkin aksi memperlakukan pembeli sebagai raja berbeda-beda antara satu budaya dengan budaya lainnya, seperti di negara-negara Eropa Barat yang kemarin saya kunjungi. Di sana makan di restoran ya meja dan piring yang telah kotor dan berantakan harus diberesi sendiri oleh pembeli sehingga pembeli tinggalkan meja makan restoran sudah bersih dan beres seperti semula.

 

Kan beda dengan di sini, kalau di sini ada pelanggan restoran lantas disuruh harus beres-beres piring sendiri dan lap-lap meja kotor sendiri ya tersinggung pembelinya karena merasa tidak diperlakukan sebagai raja.

 

Namun di sini dan Eropa Barat intinya sama saja, bagaimanapun aksi adatnya tetap berlaku hukum paten universal bahwa pembeli adalah raja, pembeli punya kuasa untuk minta dilayani ini dan itu.

 

Sama saja, di sini Anda julurkan lidah ketika bertemu orang, ya Anda disebut asu, kalau di Tibet justru itu salam hormat terhangat.

 

Pembeli oleh alam semesta ditempatkan sebagai raja karena seorang penjual hakikatnya adalah orang yang berkepentingan dengan pembeli sehingga harus merasa butuh kepada pembeli.

 

Apa sih kepentingan penjual sehingga ia harus tunduk kepada pembeli dan menempatkan pembeli harus sebagai raja? Ya karena penjual ada kepentingan ngakalin duit pembeli, dia butuh duitnya si pembeli, konsekuensinya pembeli ditempatkan sebagai raja, harus dilayani dan Anda harus merendahkan diri di depannya.

 

Karena itu Imam Jafar Ash-Shodîq atau dalam sanad hadits sering disebut Abâ ‘Abdillah berkata,

 

عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ أَعْيَنَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) يَقُولُ‏ طَلَبُ الْحَوَائِجِ إِلَى النَّاسِ اسْتِلَابٌ‏ لِلْعِزِّ وَ مَذْهَبَةٌ لِلْحَيَاءِ وَ الْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ عِزٌّ لِلْمُؤْمِنِ‏ فِي دِينِهِ وَ الطَّمَعُ هُوَ الْفَقْرُ الْحَاضِرُ

 

“Dari Abdil A’lâ bin A’yan, dia berkata, aku mendengar Abâ ‘Abdillah–’alaihs salâm–berkata, “Meminta kebutuhan kepada manusia itu adalah pencopetan harga diri dan menghilangkan rasa malu. Dan terputus–dari rasa butuh–dari apa yang ada di tangan manusia itu adalah kemuliaan martabat bagi seorang mukmin dalam agamanya. Dan thoma’ (berharap dibantu orang) itu adalah kefakiran yang hadir.”

 

Jadi kepentingan dirilah yang kemudian menarik diri Anda untuk butuh kepada orang lain, dan saat Anda butuh itulah Anda harus merendah kepada orang lain sehingga Imam Ja’far Ash-Shodiq menyatakan kalau rasa butuh kepada orang lain adalah penghapus kemuliaan harga dirinya.

 

Fakir itu sendiri disadap dari kosakata bahasa Arab yakni “faqir” artinya orang yang butuh.

 

Jika Anda dagang, Anda bersikap “tidak butuh” uang pembeli yakni Anda bersikap kaya, kira-kira Anda bangkrut, tidak? Ada pembeli datang ke toko Anda, lalu Anda bersikap kaya, “Aku nggak butuh duitmu, bodo amat! Aku orang kaya kok,” kira-kira ancur-ancuran tidak dagangan Anda? Tidak usah lama-lama, 3 bulan saja Anda pakai mental kaya dalam transaksi, dijamin ludes dagangannya, Anda pun jadi tidak punya duit.

 

Orang dagang ya harus bermental fakir, bermental butuh uang orang lain, bagaimana duit milik orang lain kemudian jadi milik Anda.

 

Karena rasa butuh uang orang lain agar jadi milik Anda, maka penjual harus merendahkan diri kepada pembeli, dia harus melayani, harus memperlakukan pembeli sebagai raja.

 

Jadi siapa bilang mental miskin itu buruk, tidak kok, pada tempat-tempat tertentu yang jadikan Anda punya duit justru mental miskin yakni rasa fakir.

 

Setiap orang ditempat tertentu harus aktifkan mental miskin, khususnya pada bidang-bidang yang hasilkan uang. Karyawan harus aktifkan mental miskinnya saat kerja karena ia butuh dapat gaji. Bos harus aktifkan mental miskinnya di depan karyawan karena ia butuh pekerjaannya diselesaikan karyawan. Penjual harus aktifkan mental miskinnya ketika ia bertransaksi karena ia butuh dapatkan cuan dari pembeli.

 

Pembeli harus aktifkan mental miskinnya di depan penjual karena ia butuh dilayani. Raja harus aktifkan mental miskinnya di depan rakyat karena ia butuh diberi kekuasaan. Rakyat harus aktifkan mental miskinnya karena ia butuh dilindungi oleh raja. Ulama harus mengaktifkan rasa miskinnya di depan umatnya karena ia berpentingan didengarkan ilmu dan diikuti petuahnya. Umat butuh aktifkan mental miskinnya di depan ulama karena ia butuh ilmu dan bimbingan ulama. Dan seterusnya.

 

Nah sekarang siapa bilang mental kaya selamanya baik? Tidak. Hidup stabil dan harmoni itu tengah-tengah antara mental miskin dan mental kaya, tengah-tengah antara iblis dan malaikat, tengah-tengah antara surga dan neraka.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *