Ada orang yang sakit-sakitan berbagai komplikasi sudah belasan tahun, ditambah dengan tekanan ekonomi yang juga sedemikian berat. Sudah terbiasa sakit, mentalitasnya sudah terbiasa hadapi paniknya sakit dengan ketenangan.

 

Satu ketika ada rekannya yang baru saja sakit jantung parah. Karena baru terserang penyakit parah ya tentu ribut sana-sini, tidak bisa tenang. Lalu ia berkomentar dengan nada mencibir rekannya, “Lah penyakit saja dibikin panik dan ribut.”

 

Ada orang yang rezekinya membeludak karena ia memang kreatif dan penuh inspirasi. Karena dedikasinya, tak ada lagi kata “susah duit” dalam hidupnya.

 

Satu ketika ada saudara yang kehidupan finansialnya runyam sekali. Usaha ini dan itu selalu cuma jalan antara 3 bulan, setelah itu berhenti, tidak ada yang istiqamah, lalu bikin alasan ini dan itu untuk membenarkannya.

 

Ia pun mengomentari dengan cibiran merendahkan, “Mental miskin. Alasan terus.”

 

Anda amati, yang satu miskin dan sakit-sakitan yang konsekuensinya berhadapan dengan kesabaran tinggi, ujung-ujungnya kesombongan diri juga, kan? Ia merasa berprestasi dalam ketabahan diri hingga merendahkan orang lain yang seumur hidupnya baru kena sakit parah.

 

Satunya lagi orang penuh prestasi kekayaan, ia bergelut sekian lama dalam keuletan, pekerja disiplin pantang menyerah, ujung-ujungnya muncul kesombongan diri juga, kan? Melihat orang miskin dengan dedikasi rendah ia mencibir.

 

Jadi dalam perjalanan spiritual, semua setara. Yang sabar dalam kemiskinan ujung-ujungnya sombongkan diri, banggakan diri merasa berprestasi dalam ketangguhan hadapi kesulitan. Yang berlimpah kekayaan ujung-ujungnya juga sombongkan diri, banggakan diri merasa berprestasi hadirkan harta. Keduanya setara.

 

Yang miskin, yang kaya, yang rajin, yang malas, yang menderita, yang senang,, yang menyucikan hati, yang bekerja, dan seterusnya masing-masing ada kesombongannya.

 

Dalam kebaikan dan keikhlasan keduanya juga setara.

 

Ada orang menggenjot sepeda ontel seharian dengan bawa kayu bakar, di hatinya muncul prinsip kuat demi nafkahi dan cukupi keluarga, hatinya rela berpayah-payah demi keluarga, di situ ia tercatat ikhlas sebagai orang sabar.

 

Ada orang kemana-mana naiki toyota Alphard dengan layanan mewahnya. Naik turun mobil, pintunya dibukakan asisten. Di hatinya selalu merasa kalau ia hanya sedang ungkapkan nikmat dari-Nya atas kemudahan rezeki dan kesehatannya, di situ ia tercatat ikhlas sebagai orang yang bersyukur.

 

Ya setara. Yang miskin setara ikhlas dengan yang kaya.

 

Nabi pun menyebutkan kesetaraan ini di mana orang yang menikmati makanan dengan rasa syukur penuh itu pahalanya menyamai orang yang sabar dalam puasa.

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ

 

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang makan lagi bersyukur akan mendapat pahala seperti seorang yang berpuasa lagi bersabar. ” (HR Ibn Majah)

 

Demikian pula syukurnya orang sehat dan sabarnya orang yang menderita itu disebutkan sederajat;

 

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: ” كُنْتُ جَالِسًا بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَذْكُرُ الْعَافِيَةَ ، وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لِصَاحِبِهَا مِنْ عَظِيمِ الثَّوَابِ إِذَا هُوَ شَكَرَ، وَيَذْكُرُ الْبَلَاءَ ، وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ مِنْ عَظِيمِ الثَّوَابِ إِذَا هُوَ صَبَرَ، فَقُلْتُ : بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْ أُعَافَى فَأَشْكُرَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُبْتَلَى فَأَصْبِرَ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَرَسُولُ الِلَّهِ يُحِبُّ مَعَكَ الْعَافِيَةَ )

 

“Dari Abi Darda, ia bercerita, “Saya sedang duduk di hadapan Nabi SAW, beliau menyebutkan kesehatan. Dan hal yang Allah janjikan besarnya pahala kesehatan ketika ia bersyukur. Dan Nabi SAW menyebutkan bencana. Dan hal yang Allah janjikan besarnya pahala ketika ia bersabar. Aku berkata, “Demi ayah dan ibuku, Ya Rasulullah, saya diberikan kesehatan kemudian bisa bersyukur itu lebih saya senangi daripada saya dicoba bencana kemudian bisa bersabar.” Rasulullah SAW bersabda padaku dan beliau mencintai kesehatan besertamu.” (H.R. Thabrani)

 

Kalau kesetaraan nikmat dan derita, kaya dan miskin sebagai ujian, itu sudah jelas;

 

وَنَبۡلُوۡكُمۡ بِالشَّرِّ وَالۡخَيۡرِ فِتۡنَةً‌

 

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS Al-Anbiyâ : 35)

 

Bangsa Eropa mayoritas bangsa maju dan kaya. Duitnya gede-gede. Masyarakatnya juga tertib. Namun mereka sangat liberal. Di jalanan kota-kota Eropa, laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita, biasa saja unjuk kemesraan pacaran. Agama ditempatkan di ruang hati sendiri-sendiri, urusan publik baik sosial, politik, negara, kemasyarakatan diurus oleh pendapat mereka sendiri.

 

Di Amsterdam misalkan. Ganja bebas, alkohol bebas, seks bebas, judi bebas, kawin–mau dengan lawan jenis, dengan sejenis, dengan anjing, asal suka sama suka dan tidak mengganggu orang lain–bebas, mau telanjang, mau rapat berpakaian, bebas. Kehidupan liberal begitu, tapi tertib tertata, elegan dan maju.

 

Sudah begitu bebas sesenang sendiri, duit disana gede-gede, karena negara maju dan kaya. Orang-orangnya juga jenius-jenius.

 

Sebaliknya mayoritas negara-negara Afrika. Di sana tidak ada negara maju, masih banyak korupsi, banyak peperangan antar suku, ekonomi susah, kotor dan kumuh, banyak kriminalitas, banyak kebodohan, dan ketertinggalan lainnya.

 

Lalu apa orang Eropa lebih bahagia dari orang Afrika? Tidak. Keduanya setara.

 

Kesenangan di dunia itu hasilnya apa sih? Apa bahagia? Hasilnya jenuh. Tipe kesenangan dunia itu nagih, selesai cicipi ini, ingin cicipi itu. Ini dan itu sudah diraih semua, tinggal jenuh karena yang ini dan itu sudah membosankan. Puncaknya stres. Jenuh itu penderitaan tinggi.

 

Nah bangsa Eropa mereka bukan orang bahagia, mereka orang dalam penderitaan jenuh. Akhirnya mereka sebenarnya setara dengan bangsa Afrika, sama-sama menderita.

 

Bahagia itu ditemukan kalau kita sudah bisa keluar dari tekanan derita, ada kepuasan batin di sana. Bila deritanya orang Afrika adalah kemiskinan, maka mereka yang bahagia adalah yang konsisten berjuang untuk kaya. Bila deritanya orang Eropa adalah kejenuhan karena kebebasan, maka mereka yang bahagia adalah yang berjuang untuk kendalikan diri.

 

Biasanya tuduhan sombong dan bangga diri dialamatkan ke orang kaya. Tidak. Yang miskin dan menderita pun punya kesombongan dan kebanggaannya sendiri.

 

Biasanya tuduhan tidak konsisten dialamatkan ke orang miskin. Tidak. Yang kaya pun punya ketidakkonsistensinya sendiri.

Sama-sama begonya, Anda pilih mana?

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *