Secara materi orang yang menrakrir orang lain itu orang yang kehilangan uang, ia rugi. Ya uang di dompet teman-temannya utuh, uang di dompetnya berkurang, secara materi menraktir itu merugi. Namun berbeda ketika ditakar secara energi.

 

Secara energi, orang yang menraktir itu orang yang membayar. Anda tidak punya kekayaan berupa motor, namun karena Anda mampu membayar harganya, Anda jadi memiliki kekayaan berupa motor.

 

Nah orang menraktir itu orang yang membayar secara sosial, siapa yang membayar, ia yang memiliki. Yang memiliki, ia yang kaya. Karena itu orang yang menraktir karena ia telah membayar, maka secara energi ia orang yang diuntungkan, walaupun secara materi dirugikan.

 

Terbalik yah keuntungan secara nilai materi dan energi?

 

Materi lahir karena adanya energi, karenanya kalau energi Anda di dalam membayar itu besar, Anda pun berenergi kaya, maka energi tersebut yang lalu mendorong wujudkan kekayaan di dunia materi.

 

Anda merasa sangat susah rezekinya? Ya karena Anda tidak punya energi kayanya. Kalau energi kayanya kosong, bagaimana materinya terwujud?

 

Menghimpun energi kaya itu identik dengan membayar, yang di keterangan di atas saya gambarkan dengan menraktir. Makin Anda kuat pembayarannya, energi kaya Anda makin terhimpun kuat.

 

Sebab itu sedekah disebut tidak lah mengurangi harta, justru menambah harta, sebab sedekah itu membayar. Kapan membayar, Anda sedang update energi kaya.

 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak mengurangi harta”. (H.R. Muslim)

 

Miskin itu disebabkan daya bayarnya lemah. Anda tidak punya harta ini dan harta itu karena Anda tidak mampu beli, kan? Tidak mampu beli karena Anda tidak mampu bayar.

 

Orang jadi miskin memang karena sejak awal daya bayarnya lemah. Saya bolak balik kasih bantuan modal kepada orang miskin yang sedang bingung usaha, ya saya hutangi tapi bayar hutangnya silakan seenaknya, yang penting usahanya jalan dulu. Ada yang gabung dengan satu MLM, terlihat jalan sebulan dua bulan, selanjutnya seperti kena sirep, tidak ada beritanya lagi.

 

Artinya dia ingin kaya tapi daya bayarnya dari segi cita-cita, kemauan, eksekusi kerja, keistiqamahan, sudah sangat lemah. Gabung MLM belum ada 3 bulan, sudah senyap. Bayarannya untuk mencapai kaya sangat lemah. Dari sisi jerih payah sudah lemah bayarannya.

 

Berawal dari bayaran dari jerih payah yang lemah, energi kaya tentu tidak terhimpun. Karena lemah energi kayanya, duitnya–sebagai wujud materi kaya–pun seret. Duitnya seret, mau membayar pakai uang, entah mau sedekah, mau belanja, mau menraktir, ya tidak bisa karena tidak punya uang.

 

Diawali daya bayar jerih payah yang lemah selanjutnya wujud material uangnya seret. Uangnya seret dia tidak bayar apa-apa, tidak bisa sedekah, tidak bisa beli ini dan itu, dan seterusnya. Dan selanjutnya dia terus menerus terjebak pola kemiskinan makin dalam. Makin belangsak, miskin dan makin miskin.

 

Saya ada cerita bagaimana seorang crazy rich muda menghimpun energi kaya. Benar-benar dari nol.

 

Usai nikah ia memulai usaha rental play station, karena ia memang lulusan SMK jurusan multimedia sehingga kecenderunganya pada dunia digital lumayan besar.

 

Dalam kurun 3 tahunan, penghasilan hariannya sekitar 20 – 30 ribu per hari. Sudah begitu, ia punya prinsip gila dimana 35% hasilnya harus ia sedekahkan.

 

Tentu yang paling kerap jadi oposisi dalam hal sedekah 35% adalah istrinya. Apalagi setelah si istri melahirkan anak, kebutuhan makin bertambah, malahan duitnya yang 35% terus saja disedekahkan tiap hari.

 

Ditambah keluarganya rata-rata agamis, tidak sedikit yang mencibir usaha rental PS kurang berkah karena melayani hiburan anak-anak yang suka anggur-angguran.

 

Ganti usaha tidak semudah balik telapak tangan, butuh skill dan modal. Dicibir sebagian keluarganya, apa daya ganti usaha tidak semudah balik telapak tangan. Ia tetap uleti rental PS-nya. Hingga akhirnya perlahan ia bergeser ke bisnis warnet, dan rental PS-nya pelan-pelan ditutup.

 

Dari bisnis warnet itulah ia mulai kenal digital marketing. Ia merambah ke pasar online. Ya modal bikin website, lalu ia dropship dagangan orang. Prinsip sedekah 35%-nya tetap istiqamah.

 

Pada saat itu rata-rata bisnis warnet sudah gulung tikar termakan tehnologi mobile, namun ia sudah jalan di pasar online.

 

Dari bisnis onlinenya inilah dia mulai kenal penghasilan puluhan juta, lalu ratusan juta, dan sekarang mobil mewahnya sudah berjejer beberapa ekor di garasi.

 

Dan di titik sekarang, tiap tahun ia harus umrahkan minimal 3 orang tiap tahun, dimulai dari keluarga dan karyawan-karyawannya. Dan terus saja ia makin kaya raya, rezekinya makin banjir.

 

Nah kenapa ia terjebak kekayaan? Karena energi kayanya power full yang ia bangun sejak ia miskin. Dari cita-cita, keuletan usaha, komitmen dan dedikasinya dalam bisnis, dari jerih payah, ia besar pembayarannya. Ditambah istiqamahnya untuk selalu dermawan, minimal 35% dari penghasilannya disedekahkan. Itu ia jalani sejak miskin dan istiqamah hingga ia kaya raya. Energi kayanya terhimpun kuat.

 

Dan siapapun yang besar bayarnya, ia pasti kaya, sebab energi kaya selalu terhimpun dari daya bayar yang besar, entah bayar dengan jerih payah maupun dengan harta.

 

Sudah cita-citanya rendah, komitmennya rendah, akhlaknya buruk, ditambah irit dan pelit, suka gratisan lagi, lah dari mana bisa menghimpun energi kaya? Zonk.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *