Anda amati bagaimana pelanggan rumah makan tidak menjadi raja. Butuh air minum, tinggal suruh, butuh makan, tinggal suruh, butuh asbak, tinggal suruh, piring dan meja kotor, bodoh amat, mereka jadi ratu yang dilayani sebaik-baiknya. Kenapa itu terjadi? Karena pembeli sanggup membayar lebih.

 

Pemilik rumah makan atau penjual sebenarnya telah membayar kepada pembeli. Dia sediakan nasi dan lauknya, tempat makan, alat makan, layanan, itu semua harga yang dibayarkan penjual kepada pembeli. 


Namun pembeli ada kesanggupan membayar lebih karena setiap pembeli tentu membayar dengan memberi keuntungan kepada penjual.

 

Sama-sama membayar, namun pembeli sanggup bayar lebih berupa keuntungan untuk penjual itu yang jadikan pembeli punya aura kemuliaan. Karena beraura mulia, dia dilayani, dihormati, diperhatikan kebutuhannya, dicari-cari, dan bentuk pemuliaan lainnya.

 

Anda ingin beraura mulia? Ya ini kuncinya, secara sosial Anda gemarlah membayar lebih kepada kehidupan.

 

Umpama Anda jadi pegawai negeri sipil, Anda dibayar oleh negara, tapi kalau ingin beraura mulia, Anda harus bayar lebih kepada negara, bayar dengan pengabdian dan pelayanan.

 

Umpama Anda seorang istri sudah dibayar nafkah oleh suami, ya bayar lebih dengan kebaikan dan ketaatan kepada suami.

 

Umpama Anda seorang suami, sudah dibayar ketaatan oleh istri, ya bayar lebih dengan nafkah dan kasih sayang. Umpama Anda pedagang, sudah banyak dibayar cuan oleh pembeli, ya bayar lebih dengan sedekah di luar dagang. Membayar lebih secara sosial itu kunci beraura mulia.

 

Lebih mulia lagi, misalkan Anda masuk warung mie ayam, harga 11 ribu per mangkok lantas Anda bayar 15 ribu tanpa pengembaliaan, disitu Anda tidak sekedar dilayani tapi Anda akan super dimuliakan dan dihormati.

 

Waktu saya ke Eropa, saya belum kenal semua peserta. Nah ada seorang peserta yang punya energi dihormati dan dimuliakan kuat sekali. Dari hati ke hati energinya menarik kami untuk menghormati dan segan, padahal saya sendiri sama sekali belum kenal.

 

Ketika saya simak pembicaraan beliau, selalu bertema ilmu fisika dan elektro, ya intelektualitasnya tinggi. Nah lisannya untuk bicara itu tidak jelas sehingga kami banyak tidak paham apa maksudnya, iya saya dan teman-teman tidak paham karena antara satu ucapan dengan ucapan lainnya saling bertubrukan tidak jelas. Namun aneh, ketika beluau bicara kami dengan hormat menyimak dan mendengarkannya dengan khidmat.

 

Seharusnya respons dan reaksi untuk pembicara yang bertumpuk ucapannya ya, “Ngapain didengerin. Ga jelas,” tapi kami serombongan Eurotrip justru khidmat sekali mendengarkan, kami seperti ditarik magnet kuat untuk mendengarkan ceramah Zainudin MZ yang fasih.

 

Nah orang seperti beliau ini pasti orang yang energi membayarnya telah besar. Dari bayaran jerih payah dan pengabdian dalam karir tentu beliau telah membayar besar dan lebih. Dan konsistensinya bayar lebih terbukti juga di Eropa. Biaya roaming internet di Eropa itu mahal. Saya saja pakai roaming Telkomsel Halo 650 ribu untuk paketan 30 hari, dan ternyata boro-boro kuat 30 hari, 3 hari sudah ludes kuotanya. 


Tiap 3 hari sekali 650 ribu ludes. Nah beliau malah mengumumkan agar teman-teman yang tidak punya kuota, bebas tethering ke handphone beliau. Padahal kalau di-tethering, kuota yang harusnya habis 3 hari, bisa sejam dua jam ludes. Dan saya tidak tahu sepulang dari Eropa berapa belas juta beliau bayar roamingnya.

 

Beliau gemar bayar lebih kehidupan, itu yang kenapa setiap orang yang bertemu beliau seperti menangkap energi kemuliaan beliau sebab mekanisme di atas dimana pembeli beraura mulia ya karena pembeli sanggup bayar lebih.

 

Anda searching di Youtube sosok Habib Syaikhon bin Musthofa Al-Bahar atau Wan Sehan, beliau sosok waliyullah yang terkenal majdzub, dimana prilaku beliau sehari-hari seperti orang gila. Lah prilaku seperti orang gila kok bisa-bisanya orang yang hadir di sekeliling beliau sangat hormat dan memuliakan beliau. Beliau dihormati dan disegani selayaknya para raja. Itu energi apa?

 

Itulah energi orang yang daya bayarnya sudah sangat besar di alam semesta ini, entah apapun bentuk bayarannya, yang jelas bayaran lebih.

 

Sekarang kalau Anda beli mie ayam harga 11 ribu per mangkok, Anda hanya bayar 8 ribu lalu Anda kabur, apa yang terjadi? Ya Anda dibangs4t-bangs4tkan, terhina dan sama sekali tidak dihargai. Boro-boro dimuliakan dan dilayani, tidak dilempar batu sudah mending.

 

Nah Anda bisa amati, ada orang kok ketika ia bertamu ke rumah Anda saja sepertinya malas banget menemui, apalagi untuk memuliakan, temui saja malas, bikin badan sakit. Nah itu orang yang sebenarnya ketekoran energi membayar. 


Ya mungkin latar belakangnya orang culas, atau mungkin penjilat, atau mungkin maling, atau mungkin orang tamak, dan hal lain dimana ia sering bayar kurang dalam kehidupan ini. Ia tidak ada aura energi mulianya.

 

Hmm Anda jangan santai-santai gemar tawar barang jualan dengan harga banting, gemar cari gratisan, gemar cari bantuan sosial, gemar lari dari kewajiban pajak, gemar pakai kendaraan telat pajak, gemar dikondangi dan diuluri tangan, gemar ditraktir, apalagi gemar minta-minta sumbangan, karena itu semua adalah pola-pola mengurangi daya bayar Anda, efek resikonya Anda jadi hilang energi mulianya, selanjutnya Anda jadi kaum dhuafa yang compang-camping finansialnya, ruwet hidupnya, seret rezekinya, dan lemah harga dirinya.

 

Remuk lagi kalau Anda sudah diberi 1 mangkok mie ayam, boro-boro membayar walaupun kurang, malahan Anda merampok warungnya, jadi apa diri Anda?

 

Kemarin pagi saya buka beranda facebook page saya, eeh postingan dari Metro News TV lewat memberitakan tuntunan vonis mati dari jaksa untuk Irjen Polisi Teddy Minahasa. 


Lah kok saya komentari, “Semoga terkabul. Amin.” Dan rata-rata netizen komentar serupa, dan tidak sedikit yang mengolok-olok Teddy Minahasa. Kok saya sejahat itu? Ada orang dituntut vonis mati kok malah doakan kemampusan untuknya?

 

Ya itu fenomena orang yang membayarnya selalu kurang dengan kehidupan. Lah iya dia dibayar rakyat untuk amankan rakyat dari tindakan kejahatan termasuk kejahatan narkoba, lah bukannya dia membayar dengan pengabdian penuh amanah, malahan rakyat diedari narkoba olehnya.

 

Dikasih mie ayam semangkok bukannya bayar sesuai harga malahan yang punya warung dirampok. Hasilnya Teddy Minahasa dikutuk rakyat layaknya anj1ng gila. Walaupun hartanya trilyunan, pangkatnya jenderal, pendidikannya tinggi, namun energinya terlaknat.

 

Nah kalau Anda di warung mie ayam, sudah bayar sesuai harga, atau malah bayar lebih, dimana seharusnya Anda sangat dimuliakan, lantas Anda direndahkan layaknya orang yang bayar kurang, lantas apa yang terjadi? Yang terjadi orang yang merendahkan Anda pasti kualat.

 

Kerap kan Anda temui orang yang kalau Anda rendahkan dirinya kok Anda kena kualat? Ya itu karena bukan level orang tersebut Anda rendahkan. Levelnya di depan Anda dia harus dimuliakan sebab kapasitas pembayarannya lebih tinggi dari Anda.

 

Kalau Anda alami kualat dari seseorang, segeralah minta maaf lalu muliakan dirinya, sebab energi bayarnya kepada Anda jauh lebih tinggi dirinya.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *