Di handphone sekarang biasanya sudah dipasang fitur pengfilter panggilan spam dan penipun. Ketika panggilan masuk dari nomor telepon spam langsung muncul pengingat “Identified As Spam”. Saat itu jelas Anda langsung pencet tombol reject ataupun membiarkannya. Anda menyadari telepon spam adalah telepon jahat karenanya Anda me-reject.

 

Ketika saya bergaul dengan orang-orang yang hidupnya selalu kesulitan uang, ternyata mereka memang ada penilaian bahwa uang itu jahat. Ya seperti panggilan telepon spam, dinilai jahat ya tentu ditolak keras agar tidak hadir dalam hidupnya.

 

Padahal uang ya energi netral-netral saja, jahat tidak, baik juga tidak. Kalau uang itu jahat atau baik, nanti ada uang dihisab di hari kiamat, yang uang kafir masuk neraka, uang mukmin masuk surga.

 

Bukan uang yang berenergi jahat ataupun berenergi baik, tapi diri Anda mau pengaruhi uang dengan energi apa? Dipengaruhi energi baik ya uang akan baik,

 

نِعمَ المالُ الصَّالحُ للرَّجلِ الصَّالحِ

“Harta terbaik itu bagi orang yang baik.” (HR Bukhari)

Dipengaruhi energi jahat ya uang jadi jahat,

 

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan.” (HR Nasa-i, Ahmad, Tirmidzi, & Ibn Hibban)

 

Jadi bukan uang yang jahat, tapi umpama ada kejahatan karena uang ya diri Anda yang jahat.

 

Orang yang kesulitan uang itu sering saya temukan punya penilaian bahwa uang itu energi jahat. Dia meniilai jahat ya auto dari perasaan, pikiran, tindakan dan segala energi yang keluar dari dirinya adalah energi me-reject uang datang karena tahu uang yang datang itu akan membahayakan dirinya. Persis ketika dia menolak panggilan telepon spam.

 

Macam-macam alasan penolakan mereka, yang jelas kesimpulannya uang dinilai jahat. Di antaranya;

 

1) Menilai Nabi SAW hanya mencintai orang miskin.


Nabi SAW mencintai orang miskin namun Anda tahu tidak, 10 sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga itu orang kaya semua. Para sahabat yang awal-awal menerima Islam juga orang-orang kaya; Khadijatul Kubra, Abu Bakr, Umar bin Khattab, Usman bin Affan itu di antaranya, yang dari orang miskin paling Bilal bin Rabah karena seorang budak.

 

Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ya orang-orang kaya, yang menyahut panggilan keimanan kepada Nabi SAW paling awal lantas sepenuh hati mendukung perjuangan Nabi juga kebanyakan orang kaya, ya jelas Nabi itu dekatnya dengan orang kaya.

 

2) Menilai uang jadikan hisabnya lama.


Setahu saya, banyak orang yang mie instan oleh-oleh kondangan dikumpul-kumpulkan agar nanti kalau ada kondangan tidak perlu repot beli sumbangan, banyak yang buang baju bekas saja sayang sehingga baju-baju lusuh penuhi almari, banyak yang amplop kondangan bekas disimpan-simpan, banyak yang belanja untuk dirinya sendiri saja pelit karena takut duit tidak terkumpul banyak, lah prilaku seperti itu kan prilaku at-takatstsur (berlomba kumpulkan harta), dan itu justru banyak dilakukan orang miskin.

 

Sampah harta dilekati lalu dikumpul-kumpulkan, bagaimana hisabnya tidak lama? Hisab duit gede-gede mending, hisab lama karena melekati mie instan dan baut bekas, kan haduh.


Dan mungkin malah yang punya duit banyak dihisab sedikit, wong lebaran saja kelihatan berbaginya sampai rekeningnya sering kosong.


3) Menilai orang kaya jahat.


Orang kaya sombong, rakus, hubbud dun-ya itu yang lazim.

Menilai orang kaya sombong, lah menilai orang kaya sombong itu juga kesombongan, kan? Sebab mereka merasa lebih suci. Cuma bedanya yang kaya sombong dengan hartanya yang miskin sombong dengan ketidakpunyaannya. Orang kaya rakus, lah yang dibela-belain sakit hati ketika tidak terima BLT siapa? Sakit hati kan karena rakus harta, takut tidak fapat bagian gratisan. Orang kaya hubbud dun-ya, lah baut bekas saja disimpan-simpan, itu dengan sampah saja cinta melekati.

 

Bahkan saya pernah ditemukan orang yang sangat terpuruk finansialnya komentar begini saat ada orang kaya meninggal dunia, “Si A kaya raya begitu, mati juga ditenggelamkan ke air,” karena kebetulan liang kuburnya pas ada mata airnya. Artinya dia merendahkan sekali seolah-olah kaya itu sama sekali tidak berharga.

 

4) Menilai ahli surga itu orang miskin.


Kemarin saya menulis iseng-isengan, “Kabar Gembira! Sejahtera Finansial Paling Dulu Masuk Surga”. Lah kok banyak orang tersinggung, tidak rela surga untuk orang kaya. Ada juga yang ngotot adu argumen agama di kolom komentar. Cek saja di artikel saya sebelum ini, tapi yang di page bukan di akun pribadi.

 

Saya menulis yang kesimpulannya begini, orang yang sudah berbuat baik tentu hasilnya baik. Karena telah berbuat baik hasilnya di kehidupan dunia ya peroleh harta sejahtera, ia kaya.

 

Nah yang telah berbuat baik sehingga di dunia hasilnya punya finansial sejahtera itu nanti di akhirat paling awal masuk surga. Lalu saya mengutip satu hadits,

 

اِنَّ اَهْلَ المَعْرُوْفِ فِي الدُّنْيَا هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ فِي الآخِرَةِ وَاِنَّ اَوَّلَ اَهْلِ الجَنَّةِ دُخُوْلًا الجَنَّةَ هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan pula kelak di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebaikan.” (HR Thabrani)

 

Lah kok ada yang tersinggung? Itu dikarenakan mereka nyaman sebagai orang tak berharta dan meyakini harta itu jahat yang akan jadikan mereka tidak dapat bagian surga.

 

Masih banyak data-data lain bagaimana mereka menilai uang itu jahat, cuma saya tidak ingat semua.

 

Sebenarnya semua benar, miskin shalih banyak, kaya shalih juga banyak. Miskin yang penjahat banyak, kaya yang penjahat juga banyak. Miskin yang ahli surga ada, kaya yang ahli surga juga ada. Begitu pula yang ahli neraka.

 

Hanya saja di sini kajiannya Spiritual Prosperity ya tentu kajian yang mengupayakan bagaimana banyak orang menjadi kaya dunia akhirat. Dan faktor awal Anda melarat duit ya menilai uang itu jahat seperti saya jelaskan di atas.

 

Karena itu nilailah bahwa uang itu kebaikan dunia akhirat, kesehatan dunia akhirat, keselamatan dunia akhirat, surga dunia akhirat.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *