Banyak orang ingin kaya dan berduit dengan mengelola sebegitu ketat uangnya. Dianggar-anggar, diatur, sedemikian rupa, hingga jajan kopi ke warung saja perasaannya dihantui rasa bersalah “jangan-jangan boros”, teledor sedikit keluarkan uang dihantui rasa bersalah dan sesal.
Sehatkah mental begini? Merelakan hidupnya diatur uang, merelakan mentalnya diteror uang. Sudah begitu tak kunjung-kunjung kaya lagi.
Lah mau kaya bagaimana? Gaji Cuma 3 juta, diatur sedemikian rupa, lantas untuk memulai kaya menabung dari uang yang dipaksakan sisa 300 ribu. Menabung 300 ribu tiap bulan, kapan mau kayanya?
Tidak tahu bagaimana orang kaya meraih kekayaan. Orang kaya raih kekayaan ya karena rezekinya banyak, bukan karena kreatif atur-atur keuangan, efesien kanan-kiri, paksa-paksa menabung, dan lainnya.
Orang kaya sekali peroleh rezeki angkanya puluhan juta, ratusan juta, bahkan ada milyaran hingga trilyunan. Mereka sekali dapat duit angkanya tinggi, lalu Anda yang menabung 300 ribu tiap bulan, kapan bisa mengejar di level kaya mereka?
Bisa jadi Anda menabung seumur-umur, sampai detik-detik sekarat, hasilnya masih kalah nominal dengan pendapatan satu jamnya orang kaya.
Apalagi ingin kaya pakai metode frugal living itu sama saja cari melarat rame-rame. Lah iya, andai semua orang irit, itung-itung dan pelit, mau jajan membatasi diri, mau belanja tahan diri, kreatif cari yang murah-murah, ya pedagang barang bayak yang tidak laku. Mereka bangkrut.
Kalau semua orang terapkan frugal living, perekonomian dunia bisa ambruk. Baru ada lockdown Corona dimana akses sosial termasuk akses perdagangan dibatasi, efeknya akses belanja juga dibatasi, orang lebih banyak berada di rumah dan uangnya tidak terpakai belanja, itu saja sistem perekonomian dunia langsung anjlok, apalagi kalau banyak orang terapkan frugal living, itu cara sadis bangkrutkan ekonomi dunia.
Lalu bagaimana sih sebenarnya menjadi kaya itu? Level dimana Anda mampu menarik angka rezeki besar.
Begini. Menjadi kaya itu levelnya yang harus dinaikan dulu. Naik dulu ke level kaya.
Levelnya orang kaya itu membayarnya besar, levelnya orang miskin itu membayarnya kecil. Iya orang kaya bayarnya tanah, mobil, rumah mewah, travelling luar negeri, hotelnya bayar presidential suite, bayar pajaknya besar, bayar gaji karyawannya besar, dan seterusnya.
Kalaupun mereka menabung, mereka debetnya besar, sehingga hakikatnya mereka ketika investasi ke bank juga besar. Dan seterusnya.
Lah orang miskin itu level bayarnya kecil. Bayar kuota internet cukup 20 ribu sebulan. Minum kopi cukup sasetan harga seribu perak. Bayar BBM cukup yang bersubsidi. Bayar pajak paling pajak motor. Dan seterusnya.
Yang jelas level kaya itu level dimana bayarnya besar. Level miskin itu level dimana bayarnya itu kecil.
Nah untuk menarik rezeki kaya itu Anda harus menaikan levelnya dari level miskin ke level kaya.
Berarti kalau level kaya itu level gede membayarnya, cara Anda naik ke level kaya juga dengan cara memperbesar bayarannya.
Pingin kaya kok malahan atur-atur kelola uang ketat, efesien pengeluaran, atau malah pakai metode frugal living, itu justru langkah menurunkan level.
Tahu-tahu orang miskin itu karena level bayarnya rendah, lah kok diikuti dengan metode frugal living, ya Anda sedang cari miskin atau cari apa? Kalau cari kaya sepertinya tidak masuk akal. Yang masuk akal kalau mau kaya ya bayarnya digedein dong bukan malah dikurangi. Ngerti?
Nah masalahnya kita kan tidak punya uang buat bayar seperti level bayarannya orang kaya? Iya, kan?
Nah disitu masalahnya kita, otak kita terlalu matre apa-apa yang tampak adalah uang.
Ada salah satu rekan saya, hidupnya sekarang kaya raya. Waktu masih lajang dia bercita-cita tinggi sehingga sekolah hingga kuliahnya dijalani penuh konsisten. Bukan Cuma itu saja, sewaktu dia kuliah dia kreatif untuk mandiri punya penghasilan sendiri.
Tidak sampai disitu, prinsip-prinsip keimanan juga dia pegang kokoh, dia selalu punya wudhu dan tidak mau berboncengan dengan cewek yang bukan muhrim.
Bukan dia sok suci, dalam pergaulan dengan cowok dia baik-baik saja, Cuma kalau pacaran dia sangat menjaga diri, bahkan boncengan pun tidak mau.
Nah kenapa dia kaya? Dia bayarannya besar. Sekolah tekun dia membayar besar. Mandiri untuk punya usaha sendiri dia bayar besar. Menahan syahwat demi takwa kepada Allah juga bayaran tinggi.
Ya begitu itu level orang kaya, sejak belum punya uang dia sudah berkemampuan bayar mahal atas masa depannya.
Lah orang miskin itu level bayar non material sudah kecil. Disuruh sekolah malah sibuk bercinta. Cita-cita tidak punya malah sibuknya urus asmara. Jadinya setelah menikah, pasangan nikahnya Cuma dikasih sisa pacar-pacarnya.
Gaya gaul diprioritaskan, urusan takwa belakangan. Dia tidak ada karakternya. Kalau disuruh bayar masa depannya dengan jerih payah selalu kecil angkanya, tidak ada karakter perjuangannya menyiapkan masa depan.
Nah kenapa orang kaya bisa menarik rezeki besar? Itu jawabannnya, mereka punya karakter kokoh dalam membayar. Sebelum mereka berkemampuan bayar mahal dengan uang, mereka telah lebih dulu membayar mahal dengan jerih payah. Dan bayar dengan jerih payah itulah bayaran yang sebenarnya.
Jadi sekali lagi kalau mau kaya itu bukan dengan atur-atur ketat kelola uang, kalau mau kaya itu naikan dulu levelnya ke level kaya.
Kalau kemarin bangun Shubuh malas-malasan, cobalah ubah diri. Kalau kemarin cita-cita dan kemauannya masih lemah, cobalah kokohkan cita-citanya. Kalau kemarin masih sibuk mengeluh, cobalah fokus ke tujuan. Dan seterusnya.
Naikan levelnya ke level kaya, jangan malah sibuk irit dan itung-itung duit.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply