Sebuah Hikayat
Suatu saat K.H. Abdul Jalil Mustaqim bin Husain (Mbah Jalil) Tulungagung ditanya oleh santrinya, “Mbah, zuhud yang dimaksud dalam kitab Ihyâ’ ‘Uumaddin itu yang seperti apa?
“Oh.. kamu belum paham, ya? Ya sudah sana, kamu menimba air sumur, isi bak kamar mandinya?” jawab Mbah Jalil.
Santri mengiyakan, “Iya, Mbah”. Lalu dia bergegas mengisi 2 bak kamar mandi yang besar-besar.
Seusai santri mengisi penuh 2 bak mandi, Mbah Jalil menanyakan, ” Sudah selesai? Capai, tidak?”
“Sudah selesai, Mbah. Iya capai,” jawab santri.
Mbah Jalil lalu menyuruh santri mandi, “Sekarang kamu mandi dulu, sana?”
Setelah santri selesai mandi, ditanya lagi oleh Mbah Jalil, “Air 2 bak besar tadi, kamu habiskan semua untuk mandi, apa tidak?”
“Ya tidak, Mbah, cuma air secukupnya saja yang saya pakai untuk mandi,” sahut santri.
“Ya seperti itulah zuhud,” tegas Mbah Jalil, “Kamu cari sebanyak-banyaknya, tapi kamu ambil secukupnya saja untuk dirimu, sisanya biar dirasakan manfaatnya untuk orang lain.”
Anda paham?
