Author name: gus banan

JUNI 2023

AWAS MENTAL PENCARI TOGEL

Ketika Anda berdoa, yang pertama kali Anda terima itu proses. Begini, dulu di pesantren saya kerap baca zikir, “Yâ Fattâhu Yâ ‘Alîm”, zikir Asmâ-ul Husnâ yang artinya “hai Zat Pembuka ilmu, hai Zat Yang Maha Berilmu pengetahuan”.   Zikir itu saya baca karena santri penimba ilmu tentu doanya ingin pintar kuasai ilmu, cepat bisa baca kitab kuning, mudah menghapal, dan seterusnya. Itu doa saya waktu itu.   Apa yang terjadi? Justru tekanan masalah saya di pesantren bertubi-tubi datang. Saking depresinya saya dengan masalah sampai saya kena diare 5 bulan belum sembuh.   Karena tubian masalah sepertinya susah diurai, saya pilih mengalihkan perhatian agar tidak fokus hadapi masalah. Ya masalahnya tidak saya urus, tapi saya fokus urusi ngaji dan ibadah.   Kerjaan saya cuma ngaji, diskusi ilmu, penuhi afsahan kitab, zikir, jamaah, mujahadah, dan lain-lain. Saking ingin lupakan masalah, saya kalau zikir di maqam syaikh pendiri pesantren, itu zikirnya di tempat terbuka tanpa atap, kalau ada gerimis saya tidak sadar, tahu-tahu usai zikir baju saya basah. Kalau zikir berjamaah, saya kerap ditertawakan orang, karena jamaah sudah selesai zikir tapi saya masih teriak-teriak zikir sendirian. Ya karena terlatih fokus untuk lupakan tekanan masalah, jadi begitu.   Hasilnya 2 tahun saya disiplin fokus, yakin saya jadi pintar ngaji sendiri, baca kitab kosongan serasa baca koran.   Nah di situ artinya saat saya berdoa agar dibukakan pintu ilmu, yang turun pertama adalah proses menuju ilmu, yakni ujian masalah. Bukan “ujuk-ujuk” ilmunya turun bak lautan laduni, bukan. Yang turun adalah prosesnya.   Selulus dari pesantren saya berdoa ingin jadi penulis dan pembicara terkenal tentu agar kaya rezeki. Saya mulai dari menulis buku. Lagi-lagi yang turun itu proses.   Sudah susah payah menulis pakai komputer rongsok pentium 3, melaratnya tidak tertolong, sampai saya cuma jadi olok-olokan tetangga kanan-kiri, “Mondok lama sampai pintar, tapi busyet jadi orang bingung,” itu olokan mereka. Asu banget pokoke.   Akhirnya bukunya ada yang terbit, tapi ya tidak mengubah hidup saya tidak apa, hasil duit tidak ada, hasil popularitas juga enggak. Kosong melompong.   Setelah berproses lama, 7 tahunan kemudian baru saya dibukakan ilmu spiritual prosperity oleh-Nya. Di situ doa saya baru terkabul.   Sekali lagi, saat Anda berdoa itu yang turun pertama adalah proses.   Kenapa proses yang turun, tidak langsung diijabah isi doanya? Itu agar Anda tidak idiot.   Anak kalau idiot itu tubuh fisiknya bertumbuh normal, sehingga pertumbuhan biologisnya sudah dewasa tapi mentalnya masih kanak-kanak.   Umpama Anda berdoa ingin kaya, lalu langsung turun kekayaan harta, itu tubuh fisik Anda saja yang tumbuh, mental kayanya tidak tumbuh. Harta banyak tapi mentalnya miskin, apa yang terjadi? Yang terjadi cacat idiot.   Karena itulah Anda berdoa ini dan itu, yang turun adalah prosesnya agar mental dan kesadaran Anda selaras.   Kemarin sore saya kedatangan tamu, Lusinah Surismah. Ibu ini belajar pada saya sudah lama, duit yang beliau habiskan untuk bayar saya tidak sedikit. Entah bayar tarif, entah ngasih pesangon, pokoknya keluar banyak, hahaha.   Apa yang beliau hasilkan? Ujian dan masalah.   Lah iya, belajar spiritual prosperity sama saya, katanya ingin kaya raya, ingin berlimpah, ingin bahagia, lah kok tidak ada yang berubah, malah temui ujian dan masalah?   Nah itu, yang turun ketika Anda berdoa dan bercita-cita itu adalah proses.   Makanya goblok bin super goblok kalau misalkan Anda amalkan ilmunya Yusuf Mansur dengan sedekah, lalu tiba-tiba Anda berlimpah kaya raya. Sedekah sekali kembali beratus-ratus kali lipat, ajaib.   Tidak. Anda belajar pada Yusuf Mansur yang akan turun prosesnya dulu. Sedekah banyak sudah dilakukan ya malah duitnya ilang dulu, boro-boro balik beratus-ratus kali lipat, tidak tombok sudah untung. Yang turun itu proses dulu.   Makanya Anda belajar dengan saya, ya minimal belajar di tulisan facebook lah, lalu Anda gemar belanjakan harta, gemar sedekah, gemar melepaskan uang, tidak sayang lagi dengan uang, lalu dengan ajaib rezeki Anda terus datang berjibun seperti yang saya alami sendiri, itu ya malah saya katakan, “Anda idiot!”   Kalau Anda waras yang turun justru proses dari apa yang Anda pelajari. Itu.   Diberu proses itu menyakitkan dan mengecewakan, namun kalau sudah menjadi levelnya, Anda diproses seperti apapun Anda tetap betah dengan pembelajarannya. Seperti saya di pesantren, tahu-tahu di pesantren saya malah dapat banyak masalah, ya saya tetap betah di sana, tidak terbesit putus asa.   Begitu juga Ibu Lusinah di atas, tahu-tahu belajar dari saya bukannya dapatkan keberlimpahan namun malahan masalah dan masalah, eeh beliau tetap saja nguntit dan ngintil ke saya, tidak ada kapok dan kecewanya.   Ya begitu, bila sudah menjadi derajat Anda untuk kaya, mulia dan bahagia, Anda tetap betah walaupun proses ujiannya bertubi-tubi. Anda sudah sedekah habis-habisan tapi tetap bangkrut, namun kalau derajat Anda memang di sana, Anda tetap istiqamah belajar kepada Yusuf Mansur, tanpa rasa kecewa. Itu.   Lah belajar pemberdayaan diri kok mentalnya mental pasang togel, yakni cari-cari keajaiban, ya maaf, tidak usah belajar, sana pasang togel saja siapa tahu Anda beruntung!   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

INDIKASI ANDA TELAH MENZALIMI ORANG

Hati nurani itu murni wakil suara Tuhan. Hati nurani semacam antena radar kalau Anda adalah makhluk Tuhan yang langsung terhubung dengan Penciptanya.   Dipasang antena radar ini ya karena sebenarnya memang Anda berasal dari roh-Nya.   Mobil produk Toyota sudah pasti terafiliasi dengan Toyota sehingga hanya Toyota yang berkapasitas mengontrol mobil Anda.   Anda produk Tuhan, afilasinya juga hanya dengan-Nya. Anda ditiup roh-Nya karena itu ada antena radar-Nya dalam diri Anda.   ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ   “Kemudian Dia menyempurnakannya dan Dia meniupkan di dalamnya dari roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Q.S. As-Sajdah : 9)   Antena radar ini akan memberikan sinyal-sinyal khusus kepada Anda saat Anda berbuat sesuatu yang menjauh dari-Nya.   Anda kalau mau mencuri, bukankah jantung Anda berdetak lebih kencang? Tangan dan kaki juga gemetaran? Nah itu antena radar Tuhan dalam diri Anda bekerja.   Mau selingkuh di chatt WhatsApp, Anda pasti main umpet, sebisa mungkin tidak diketahui orang. Itu antena radar-Nya bekerja.   Karena ini semua perbuatan dosa, artinya perbuatan yang keluar dari kemurnian Zat-Nya, selalu ditandai “perbuatan Anda enggan diketahui orang lain dan atau hati Anda menjadi resah.”   Dari Nawwas bin Sam’an R.A berkata, Rasulullah S.A.W bersabda, “Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia” (H.R Muslim).   Anda onani, enggan diketahui orang, itu jelas dosa. Anda marah-marah pada anak istri, lalu hati merasa sumpek, itu jelas dosa. Ya itu semua karena kerja antena radar-Nya.   Nah ketika antena radar-Nya sudah bekerja, lalu Anda tidak mengindahkannya, nanti antena radar tersebut akan alami errorsystem sehingga tidak bisa berfungsi baik.   Di titik itu, Anda tidak malu lagi berbuat dosa. Selingkuh ya nyaman-nyaman saja, mencuri ya mentalnya tidak takut tidak apa, bahkan tidak takut terkutuk tidak apa.   Iya, lazimnya onani malu diketahui orang lain, Ameri Ichinose dan Maria Ozawa malahan di-show-kan sebagai bisnis. Yang begitu artinya antena radar-Nya sudah alami errorsystem.   Namun sekalipun sudah errorsystem, antena radar tersebut tetap berfungsi, artinya tidak bisa sampai mati fungsi sebab itu memang aplikasi ilahiyah yang sifatnya fitrah penciptaan.   Tidak bisa mati fungsi sekalipun sudah errorsystem, maka ini antena radar-Nya tersebut yang kemudian memanggil musibah dan bencana untuk Anda. Jadi yang memanggil bencana dan musibah hidup itu diri Anda sendiri melalui antena radar yang error dan tidak Anda indahkan.   Sebab ini Tuhan dengan konsisten tidak pernah merasa menzalimi hamba-Nya, sesadis apapun azab yang turun, Tuhan tidak merasa berbuat zalim, karena memang hakikatnya si hamba itu yang berbuat zalim pada dirinya sendiri.   وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا   “Dan Rabbmu tidak akan pernah menzalimi seorang pun.” (Q.S Al-Kahfi : 49)   إِنَّ اللَّـهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ   “Allah tidak pernah mendzalimi walaupun sebesar biji sawi.” (Q.S An-Nisa : 40)   Berbuat zalim kepada sesama juga ada antena radar-Nya untuk mengukur Anda zalim atau tidak.   Ini kejadian saya di medsos hari kemarin.   Kemarin waktu saya mengunggah tulisan “Orang Tua itu Wakil Kekeramatan Tuhan di Alam Semesta” itu ada penjelasan saya yang kurang detail. Sudah biasa sih, kalau menulis di medsos ya yang menjadi editor adalah netizen, walau mereka tidak digaji.   Saya kurang detail pada bagian penjelasan posisi duduk orang tua di mobil itu di posisi yang paling terhormat. Artinya terhormat dan ternyaman. Mau di kursi depan, kursi tengah, ya bebas saja, asal terhormat dan ternyaman. Di penjelasan itu saya samar.   Mereka menangkap kalau duduk orang tua harus di kursi depan. Lama-lama saya enek juga, buka facebook baca komentar semacam itu.   Lalu saya mengetik satu balasan komentar yang saya copy-paste ke semua komentar-komentar netizen yang kurang detail memahami tulisan saya tentang posisi duduk orang tua di mobil.   Dan memang hati saya sudah merasa enek, getarannya sudah “esmos-i” hahaha.   Semua komentar yang masalahkan tempat duduk, sudah saya jawabi dengan getaran hati saya yang emosi tinggi itu, namun ada 2 efek indikator hati yang saya terima.   Satu indikasikan perbuatan buruk, satu indikasikan perbuatan baik, padahal perbuatan dan getaran hatinya sama.   Yang indikasikan perbuatan buruk itu rasa enek saya pada netizen secara umum. Balasan komentar saya yang copy-paste-an yang semua saya sertai rasa enek hati itu, semua adalah perbuatan buruk, perbuatan zalim.   Indikasinya di hati saya muncul rasa resah di malam harinya, dan ada rasa menyesal.   Dan indikasi Anda telah berbuat zalim kepada sesama itu muncul rasa menyesal sesudahnya.   Imam Ali bin Abi Thalib menulis syair;   لا تَظلِمَن إذا ما كُنتَ مُقتَدِرا # فالظُّلمُ تَرجِعُ عُقباهُ إلى النَدَمِ   “Sungguh janganlah Anda berbuat aniaya ketika Anda berkuasa # Aniaya itu akibatnya akan berbalik pada rasa menyesal.”   Anda marah-marah kepada anak, lalu muncul rasa melas dan hati jadi gundah, lalu menyesal, itu artinya marah Anda tidak proposional, di situ Anda sudah menganiaya anak.   Anda mencak-mencak kepada orang tua, pada karyawan, pada murid, pada nerizen, pada tetangga, kalau kemudian muncul rasa gundah lalu Anda menyesal, itu artinya Anda sudah zalim, tidak proporsional dalam meluapkan emosi.   Saat gundah dan menyesal itu artinya antena radar-Nya sedang bekerja.   Maka dengan ini, dengan kerendahan hati saya mohon maaf kepada teman-teman facebook yang kemarin saya balas komentarnya dengan rasa enek hati saya.   Terus kelakuan saya kemarin ada juga yang merupakan perbuatan baik, artinya sudah proporsional, sehingga tidak sisakan gundah apalagi menyesal, malah hati saya bilang, “Modar kamu. Saya injak sekalian!”   Ceritanya, tengah malam saya buka page facebook saya, eeh di kolom komentar muncul sosok orang yang selama ini memang kalau ngomong dan mengritik ketus. Kalimat yang ia pilih sadis.   Nah ia muncul, sekalian saya berniat, “Ini kesempatan injak sekalian!” Dibiarkan ia menjadi, saya lihat kurang etis kepada sesama begitu. Saya lawan lebih sadis.   Nah saya ngamuk dengan tegar padanya, namun saya tidak gundah tidak menyesal, malah saya kepedean, itu artinya ngamuk saya itu perbuatan baik dan berpahala ria.   Jadi marah, ngamuk, melawan, keras batu dan lain-lain itu bisa menjadi perbuatan baik bila proporsional.

JUNI 2023

SPIRITUAL “REZEKI LEWAT”

“Ah rezeki kok lewat saja,” Anda sering alami itu kan? Baru saja terima rezeki, langsung dipaksa alam semesta untuk mengalirkannya pada yang lain.   Sering saya sampaikan, karakter dasar rezeki adalah “mengalir” sesuai karakter pusat rezeki yakni Tuhan Yang Maha Rezeki (Ar-Razzaq). Tuhan sebagai Yang Maha Rezeki selalu mengalirkan rezeki di sisi-Nya untuk menghidupi makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sepeser pun rezeki yang Dia genggam di sisi-Nya.   Setelah Tuhan tidak lagi menggenggam rezeki, Dia malah jadi Maha Hartawan (Al-Ghina).   Maka itu jalan menjadi kaya harta justru mengalirkan rezeki yang ada pada diri Anda, berbalik arah dengan kesadaran reptil Anda yang mengertinya kalau kaya harta adalah nominal yang terkumpul.   Mau diteliti bolak-balik pun profesi yang paling mendatangkan duit banyak adalah wirausaha. Kenapa? Karena dalam wirausaha sistem pengaliran rezeki sangat baik. Sistem belanja, modal, investasi, gaji, bayaran, dan seterusnya terjadi dalam wirausaha. Wirausaha model peluang besar pengaliran rezeki, maka ini duit terbesar di alam semesta ini dari dunia wirausaha.   Dimanapun asal di situ terbentuk pengaliran rezeki besar-besaran, di situ terbentuk kekayaan. Dalam sistem keluarga terbentuk aliran rezeki melalui nafkah, maka ini banyak bujangan melarat lalu temukan kekayaan sesudah menikah. Dunia selebritis juga banyak duit karena di situ terpasang sistem pengaliran rezeki yang baik, yakni dunia belanja dan happy boros.   Berbeda dengan masjid, duit masjid sedikit karena dalam sistem masjid sangat kecil sistem aliran rezeki yang terpasang.   Itulah realita kekayaan terbentuk dari sistem aliran rezeki bukan sistem pengumpulan nominal rezeki, Al-Ghina Tuhan terbentuk dari sistem Ar-Razzaq-Nya. Ingin kaya? Gemarlah mengalirkan rezeki, bukan mengumpulkan dan menggengamnya.   At-takatstsur (berlomba dalam banyak-banyakan harta) itu sistem kemiskinan nyata. Biasanya Anda hanya membidik orang berharta banyak sebagai pelaku at-takatstsur. At-takatstsur tidak terhubung dengan nominal harta yang dimiliki, at-takatstsur itu terhubung dengan mentalitas seseorang.   Saya malah melihat at-taktstsur justru banyak terjadi pada orang-orang miskin. Lah iya, yang berharta sedang berlomba-lomba belanja, yang miskin malah berlomba-lomba irit, irit itu berlomba mengumpulkan banyak harta kan? Yang berharta berlomba membayar wakaf dan amal kemanusiaan, yang miskin berlomba terima zakat dan bantuan, bukankah itu at-takatstsur? Yang berharta berlomba investasi, modal dan bayar gaji untuk bisa mengalirkan rezeki, yang miskin berlomba terima gaji, at-takatstsur lagi? Itu semua bukti realita kalau at-takatstsur itu sistem kemiskinan.   Hahaha kadang saking gemarnya at-takatstsur, si miskin dapat Supermi oleholeh kondangan juga masih dikumpul-kumpulkan, mau memakannya takut besok ada kondangan lagi, kalau kreatif mengumpulkan Supermi oleholeh hajatan besok saat ada kondangan lagi tidak perlu modal. Dapat pemberian sarung tahun ini dipakainya tahun depan, sarungnya disimpan-simpan dengan kreatif sampai mau menyenangkan diri sendiri dengan sarung baru saja enggan. Kreatifnya cari “harga miring”, takut amat dengan harga, dia kira surga Tuhan juga dengan “harga miring”. Gaji cuma 800 ribu sebulan, maksa-maksa bisa nabung 75 ribu per bulan, takut sekali tidak bisa kumpulkan harta sampai-sampai 75 ribu masih dikreatif-kreatifkan untuk terkumpul. Sekali lagi, at-takatssur itu sistem kemiskinan.   أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣)ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤)كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥)لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧)ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (٨)   “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Q.S At-Takatstsur : 1-8)   Sudahlah, alirkan rezeki Anda di situ cara Anda mengkayakan harta. Terserah cara mengalirkannya, bisa untuk nafkah, bisa untuk belanja, bisa untuk modal, bisa untuk investasi, bisa untuk berbagai biaya, dan bisa untuk sedekah, yang penting mengalir. Nah, Anda sering tersinggung kan ketika rezeki Anda hanya lewat? Merasa susah hati? Justru ketika Anda mengalami “rezeki lewat” di situ keberkahan rezeki sangat besar bagi Anda, karena saat itu alam semesta merindukan rezeki Anda mengalir untuk yang lain. Di saat mengalami “rezeki lewat” Anda berbahagialah, terima dengan senang hati, sebab di situ rezeki berada pada karakter murninya yakni mengalir.   Termasuk prilaku kufur nikmat itu tersinggung dan bersusah hati dengan “rezeki lewat”, itu sama saja bos yang enggan bayar karyawannya, bos yang enggan penuhi hak dan tanggung jawabnya, padahal hak rezeki adalah dialirkan.   Hak rezeki adalah dialirkan, ketika rezeki hanya sekedar lewat, Anda berbahagialah dengan riang gembira, “rezeki lewat” itulah titik berkahnya rezeki.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

MENUKAR ENERGI ITU CARA MENOLAK MALAPETAKA

Seorang yang suka menyuruh orang lain untuk menyelesaikan pekerjaannya sebenarnya seorang yang masih menginginkan tenaga orang lain untuk kepentingan dirinya. Tindakan “menyuruh” merupakan wujud dari rasa thoma’ di dalam hatinya, “ngarep-ngarep” atas tenaga orang lain. Ini mental kere.   Karena ini, sikap suka menyuruh merupakan sikap yang melawan karakter zuhud. Karena pada dasarnya zuhud itu tidak menginginkan apa yang ada di tangan manusia, termasuk tenaga. Suka menyuruh jelas sikap anti zuhud, dan bagian dari jiwa yang labil, tidak mandiri, dan thoma’.   Anda enek, ingin nendang, ingin mengepal dengan orang yang suka nyuruh? Dia tidak disukai oleh hati Anda karena dia thoma’, juga hedonis murni, yang jauh dari karakter zuhud. Seorang yang tidak zuhud, susah mendapatkan cinta dari hati manusia.   إِزِهَدْ فِى الدُّنْيَايُحِبُّكَ اللهُ وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ لنَّاسُ (رواه إبن ماجاه)   “Zuhudlah di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang ada di sisi manusia maka manusia akan mencintaimu.” (H.R. Ibn Majah)   Tentu beda urusannya ketika Anda menyuruh orang lain tetapi Anda sudah menetapi mekanisme pertukaran energi. Semisal menyuruh mengepel lantai kepada asisten rumah tangga yang sudah Anda kontrak dengan gaji, menyuruh kepada karyawan, dan lain-lain. Hal ini tidak masalah karena sudah memakai prosedur kontrak jasa, dan tetap sesuai kode etiknya.   Bukan hanya hati manusia yang membencinya, seorang yang suka menyuruh juga dibenci seluruh makhluk Tuhan, baik benda hidup maupun benda mati. Kalau Anda marah ketika disuruh-suruh, benda-benda lain juga marah diperlakukan seperti itu. Anda memakai Android dari pagi sampai malam, full sehari semalam, hakikatnya Anda sedang menyuruh Android untuk melayani keinginan kepuasan Anda, lalu Android meledak. Ketika Android meledak, dia sudah di titik jenuh dengan rasa marahnya karena disuruh-suruh tanpa etika. Jadi benda mati saja tersinggung jika banyak disuruh.   Ketika Anda suka menyuruh orang untuk menyelesaikan pekerjaan Anda, getarannya juga menyebar ke area benda-benda di sekitar Anda, karena ini Anda suka mengeluh, rezeki jadi seret. Padahal mengeluh urusan batin, rezeki urusan bendawi, tapi mengeluh mempengaruhi rezeki?   Karena hati Anda terhubung dengan benda-benda di sekitar Anda. Sebab ini ketika Anda suka menyuruh, benda-benda di sekitar Anda juga tidak menyukai kehadiran Anda di sisi mereka, termasuk rezeki.   Benda-benda tidak suka pada Anda, sekali marah ya mereka menimpakan malapetaka kepada Anda. Motoran tahu-tahu kecelakaan, jalan kaki tahu-tahu tersandung, nonton televisi, televisinya terbakar, sial melulu. Ini lantaran Anda tidak disukai oleh benda-benda di sekeliling Anda.   Hidup pun jadi banyak masalah. Sana-sini ruwet. Karena semua tidak bisa menerima kehadiran Anda di sisi mereka.   Jadi jangan suka menyuruh, suka menyuruh itu hati thoma’, thoma’ itu tidak zuhud, tidak zuhud itu awal ketidaksukaan hati manusia, ketidaksukaan hati manusia itu awal ketidaksukaan benda-benda di sekitar Anda. Ketika benda-benda di sekitar Anda tidak suka dengan kehadiran Anda, mereka akan menimpakan malapetaka kepada Anda.   Karena ini, Nabi Saw menjelaskan;   وَمَنْ زَهَد َفِى الدُّنْيَا هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيْبَاتُ (رواه ابن حبان)   “Barangsiapa zuhud di dunia maka malapetaka menjadi tenang (jauh) atasnya.” (H.R. Ibnu Majah)   Sehingga suka mengerjakan apa-apa sendiri itu bisa menolak malapetaka pada diri Anda, karena suka mengerjakan pekerjaan sendiri itu bagian dari sikap zuhud, tidak menginginkan tenaga orang lain, tidak bermental kere.   Nah hal di atas berbeda masalah bila memang Anda sudah punya “hak menyuruh”.   Hak menyuruh, biasanya, didapatkan sesudah Anda punya kontrak kewajiban-kewajiban tertentu dengan orang lain. Misal bos pada karyawan, si bos berhak menyuruh karyawannya karena si bos telah mengontrak si karyawan dengan perjanjian gaji tetap. Orang tua berhak menyuruh anak karena si anak telah ditanggung nafkahnya. Kyai berhak menyuruh santri karena kyai sudah mengajari ilmu pada si santri. Dan seterusnya.   Namun semua tetap ada koridor dan barometernya. Iya, misalkan karyawan digaji sesuai UMR, disuruh kerja 20 jam, itu namanya sudah kurang ajar.   Maka ini salah satu tips agar hidup Anda itu “hânat ‘alaihil mushîbât” yakni netral dari malapetaka, Anda gemar lah melakukan pertukaran energi.   Misal, merasa menyuruh orang, beri ia timbal balik energi, selayaknya. Merasa meminjam barang, saat mengembalikannya berikan hadiah yang layak. Jangan apa-apa suka numpang gratis. Mobil cari gratis, pulsa cari gratis, kelakuan begitu yang memanggil malapetaka dan musibah.   Gemar menukarkan energi, gemar membayar, itu cara-cara menetralkan hidup Anda dari malapetaka dan musibah.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

DI DIMENSI ENERGI SEBENARNYA PASAK MEMANG HARUS LEBIH BESAR DARI TIANG

Anda keluar duit untuk ganti oil mesin motor, mesin motor pun mengeluarkan kekuatan mesinnya untuk Anda dengan optimal. Tapi kalau Anda menghentikan pertukaran duit Anda dengan oil motor, maukah mesin motor mengeluarkan daya mesin terbaiknya untuk Anda?   Jadi energi hidup selalu didapatkan dari apa yang Anda keluarkan. Mustahil Anda dapatkan energi berupa oil mesin tanpa Anda mengeluarkan uang dari dalam diri Anda kepada orang lain.   Karena ini membayar, sedekah, menolong orang, berbagi, melayani, dan segala bentuk pengeluaran dari dalam diri Anda kepada orang lain, entah bentuknya pengeluaran materi maupun non materi, itu semua sistem mekanisme bagaimana Anda dapatkan energi hidup.   Untuk bisa makan, Anda peroleh dari apa yang Anda dapatkan, tapi untuk bisa hidup Anda peroleh dari apa yang Anda keluarkan. Anda punya “materi” berupa motor, tanpa “energi” oil mesin, apa berguna?   Banyak orang “nyungsep” hidupnya lantaran kekurangan energi hidup. Ini diakibatkan ia terlalu “irit” mengeluarkan.   Facebook, WA, BBM, Tweetter, tidak pernah aktif lantaran takut beli pulsa. Play video di Youtube seperti trauma lantaran harus keluar duit. Haha baru lihat postingan facebook saya berbagi ilmu di Youtube langsung muncul di hati, “Haduh Gus Banan ilmunya disampaikan di Youtube, makan kuota ini.”   Rumah, lampunya cukup 10 watt di ruang tamu lantaran tagihan listrik. Isi bensin tidak pernah penuh, pilih bolak-balik ngecer 1 literan. Sabun pilih Harmoni, rokok pilih Mustika, pasta gigi pilih Ciptadent, shampo pilih Zinc, sayur pilih kangkung. Dan kelakuan irit dan cari murah meriah lainnya.   Membayar itu sistem pengisian energi hidup, kalau terlalu irit, hidup Anda akan jadi kekurangan energi.   Kekurangan energi, itu yang sebabkan Anda bisnis bangkrut-bangkrut terus, sebabkan dagangan tidak laku, sebabkan terlilit hutang, susah dapatkan pekerjaan, dan lain-lain.   Sayang banget sih mengeluarkan sesuatu? Itu yang jadi masalah, stok energi Anda jadi minus.   Segala sesuatu makin mahal makin berkualitas. Memang tidak selalu mahal artinya berkualitas, namun bisa menjadi standar umum kalau “rega nggawa rupa” (harga membawa kualitas).   Otak kok mikirnya irit terus, mikirnya yang tidak membayar, mikirnya dapat yang murah meriah. Ingat! Oil harga murah beda kualitas energi kan dengan oil harga mahal? Jadi mengeluarkan biaya itu cara dapatkan kualitas energi terbaik. Ayo gemari bayar mahal! Ayo!   Kenapa Anda dianjurkan memberi sedekah terbaik? Ya supaya energi hidup yang Anda peroleh juga terbaik. Hidup kurang sedekah, rezeki Anda bisa mencret, usaha bisnis Anda bisa lowbat, penghasilan Anda bisa impoten. Sebab sedekah itu hakikatnya mengeluarkan sesuatu dari dalam diri Anda kepada orang lain. Mengeluarkan sesuatu dari dalam diri itu cara peroleh energi. Kalau belum punya duit, bagaimana? Tenaga Anda, pikiran Anda, manfaat diri Anda, itu semua bisa dijadikan tool peroleh energi.   Anda tidak sanggup dapatkan energi hidup dengan bayarkan uang semuanya, karena itu jerih payah menjadi hal utama untuk Anda keluarkan. Saya berbagi ilmu gtatis di media sosial pun dalam usaha membeli energi hidup, karena tidak semua energi bisa saya bayar dengan uang.   Karena ini, kehidupan ini selalu menuntut “jerih payah” Anda untuk peroleh sesuatu. Kegigihan Anda dalam berjerih payah itu dalam rangka memperoleh energi hidup, dalam rangka membayar.   Syaikh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim menyebut orang yang lemah konsistensinya dalam berjerih payah sebagai “al-junûnu funûnu”, saya terjemahkan bebas sebagai “gila kuadrat”.   تَمَنّيتَ أن تُمْسِي فَقِيها مُنَاظِرا # بِغَير عَناء، والْجُنون فُنون! وليس اكتسابُ المال دون مَشَقّة # تَلَقّيْتَها، فالعلم كيف يكون؟   Artinya: “Kamu berharap untuk menjadi ilmuan faqih yang vokal tanpa bersusah payah, dan kegilaan itu kuadrat. Usaha peroleh harta saja tidak akan berhasil tanpa susah payah yang kamu tanggung, maka bagaimana dengan ilmu?”   Gila kuadrat (al-junûnu funûnu) itu sematan bagi orang yang tidak nalar kalau peroleh cita-cita itu harus berjerih payah. Berjerih payah itu membayar energi hidup namun berupa bayaran non materi. Maka ini yang enggan bayar, yang cari barang murahan, yang irit dan hemat-hematan, itu juga disebut? Hahaha Anda jawab sendiri.   Menolong, melayani, berbagi, membayar, sedekah, itu semua sistem mekanisme peroleh energi hidup, karena di dimensi energi itu pasak memang harus lebih besar dari tiang.   Di dimensi energi, banyak yang al-junûnu funûnu, mereka sangka hemat pangkal kaya, mereka ingin hidup mapan mulia tapi enggan berjerih payah. Ya di dimensi energi memang banyak al-junûnu funûnu.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

PERASAAN BAIK SAAT KENA KENDALA

“Kucing sering terlindas kendaraan lantaran berperasaan terlalu baik kalau jalan yang dia seberangi aman,” lain kali saya membatin, “Kemalingan motor karena si pemilik motor terlalu berperasaan baik kalau motornya aman ditinggal di sini.”   Begini, rasa itu pewujud realita. Propinsi NAD memilih otonomi syariah karena perasaan warga NAD dikuasai oleh rasa kesyariatan Islam sebagai yang terbaik. Namun di Papua, Anda tidak pernah menemukan suara kesyariatan Islam tersebut, bahkan koneksi juga tidak. Rasa warga lah yang mewujudkan realita.   Mengetahui ini Anda jadi perlu memahami rasa apa yang sedang Anda rasakan. Rasa marah, anak saya menangis ketakutan kalau saya bentak. Rasa sombong, saya sering dinyinyiri orang ketika saya ngaku, “Saya ganteng”. Rasa putus asa, banyak kasus bunuh diri karena rasa ini. Rasa sederhana, Presiden ke-4 Abdurrahman Wachid mengagetkan orang dalam kagum ketika beliau yang mantan presiden meninggal hanya memegang uang 200 ribu. Rasa syukur, Anda baru keluarkan duit belasan juta untuk beli motor, masih sanggup mengundang tetangga untuk selamatan motor yang biayanya mencapai jutaan rupiah, artinya rasa syukur membawa kelimpahan.   Jadi perasaan itulah yang mengeksekusi realita. Karena ini nilai kebahagiaan hidup ini berasal dari perasaan baik Anda dalam menjalani keseharian. Melihat realitas seburuk apapun Anda tetap memberi perasaan baik terhadap kejadian, karena perasaan Anda yang akan mewujudkan realita.   Namun perasaan baik sering ditafsirkan hanya dengan menduga-duga kebaikan.   Ya benar, kurang-lebihnya perasaan baik itu banyak menduga-duga kebaikan, tetapi keterjebakan kita sering praduganya saja yang dipelihara baik, akhirnya mengarah ke harapan-harapan keajaiban yang tidak masuk akal.   Begini, praduga baiknya sudah benar, tetapi kontrol juga “rasa Anda di saat ini”.   Umpama Anda dapat kendala kecurian motor, Anda menduga insyā-a-llāh nanti pencurinya tertangkap polisi, tetapi monitering juga rasa Anda di saat itu, apakah kecewa, apakah panik, apakah ridha, apakah pasrah, apakah marah?   Kalau Anda menduga baik, tetapi dibarengi marah, itu artinya bukan mengunggah perasaan baik, tetapi mengunggah perasaan buruk. Dan rasa itu yang nanti wujud nyata.   Umpama dibarengi rasa marah, wujud realita dari rasa marah itu amuk dan keberantakan, berarti motor Anda yang hilang itu berakhir berantakan, walau pun diiringi praduga baik akan ditemukan polisi.   Umpama dibarengi rasa pasrah, berarti motor Anda kemungkinan balik, kemungkinan tidak balik, tetapi pasrah itu berserah kepada Tuhan, sementara Tuhan tidak pernah berbuat buruk kepada hamba-Nya, sehingga motor ketemu lagi atau tidak, Anda pasti dapat kebaikan, entah kebaikan lahir maupun kebaikan batin.   Nah kalau dibarengi rasa syukur saat kehilangan motor? Dan Anda tahu kan wujud realita dari rasa syukur? Wujud real dari syukur itu keberlimpahan. Hehehe jadi bisa bersyukur saat kehilangan motor itu bisa menambah motor lagi.   Itulah hakikat perasaan baik.   Ngawur! Dapat kendala malah unggah rasa syukur? Bukankah harusnya sabar? Iya, dapat musibah misalkan, lah kok di hati Anda temukan rasa syukur, rasa syukur Anda di situ sudah melampoi rasa sabar terkena musibah.   Kalau sekedar sabar mungkin Anda masih berduka, ada rasa sakit hati di dalamnya, namun kalau temukan rasa syukur dalam musibah, artinya rasa sakit hati itu sangat tipis.   Syukur dalam nikmat itu biasa sebagaimana biasanya sabar dalam musibah. Namun kalau level sabar Anda sudah tingkat dewa, yang ditemukan justru rasa syukur dalam musibah.   Ibnu Abbas R.A, merasa sangat bersyukur dengan hilang penglihatannya pada usia tua. Guru dari Ibnu Mubarak ini berujar sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Rasulullah, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.” (H.R Bukhari).   Nah kan syukur dalam musibah itu level sabar di tingkat dewa. Nah dari perasaan baik itu lalu akan memicu Anda untuk waspada. Anda punya perasaan baik “selamat saat menyeberang jalan” maka kemudian Anda tengak-tengok dulu saat hendak menyeberang. Anda punya perasaan baik “motor ini aman” maka yakinkan kunci stang dengan baik, kalau perlu beri kunci ganda saat memarkirnya.   Perasaan baiklah yang membawa Anda bersikap waspada dan hati-hati.   Kalau kasus kucing banyak terlindas kendaraan seperti di atas itu sih kasus “grasa-grusu”. Grasa-grusu muncul dari karakter buruk. Dan perasaan baik itu bahasa Arabnya husnu zhann.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

DIAM KADANGKALA BUKAN EMAS

Beberapa bulan lalu konten “Diam” Didit Deelon di channel Youtubenya viral, jutaan views menontonnya, padahal ia hanya diam di depan kamera shooting berjam-jam.   Menurut Anda itu ringan apa berat? Berjam-jam cuma diam di depan kamera tentu berat, melampoi beratnya acting Maria Ozawa yang main keroyokan.   Diam malahan menarik jutaan views, yang banyak acting malah biasa-biasa saja.   Tapi Anda perlu tahu motif Didit Deelon untuk diam. Dia diam untuk menarik perhatian penonton, itu motifnya.   Ini bukti kalau segala sesuatu itu ditarik oleh kesadarannya, ditarik oleh niat di baliknya. Didit Deelon itu tindakannya “diam”, tapi aslinya “sedang kebanyakan ulah”.   Ada salah satu peserta kelas online saya di Servo Prosperity Online Workshop yang sudah kebanyakan aksi untuk menarik rezeki banyak, ia seorang wanita, eeh dalam aksi bisnisnya ketemunya hutang dan apes.   Karena apes, ia diam dan diam, hanya menerima nalurinya sebagai wanita. Ia punya calon suami, ya kegiatannya hanya sibuk komunikasi ini dan itu dengan calon suami. Ia pasrah dengan bisnisnya.   Dan antik, di hari Senin ini ia diajak calon suami ke dealer mobil, dibelikan mobil baru.   Waktu ia kebanyakan aksi malahan rezeki semawrut, diam malahan narik mobil baru.   Namun ingat! Prosesnya untuk sampai pada kesadaran diam itu yang sudah jatuhkan banyak pengorbanan. Sehingga ia diam, tapi motif di baliknya itu ingin rezeki membludak.   Itu diam yang penuh kesadaran, diam yang jadi emas.   Lalu diam seperti apa yang tidak jadi emas? Itu adalah diam yang tanpa proses dan tujuan.   Nah yang sering alami diam tanpa kesadaran, yang tidak melalui proses dan tujuan, itu biasanya terjadi pada karakter orang kalem. Kalem yang bawaan lahir, itu diam yang tidak berkesadaran.   Ya kalem dan pendiam memang menarik ketenangan, kerap tidak menarik gejolak dalam hidup, tapi ya namanya juga “anteng” jadi tidak banyak tantangan, efeknya hasilnya juga biasa-biasa saja. Itu diam yang bukan emas.   Diam yang emas itu diam yang sebenarnya saking banyak ulah, hahaha.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

REZEKI YANG DITARIK DENGAN RASA DAN DENGAN OTOT

Rasa itu sebuah getaran yang tidak dapat Anda kontrol, cenderung bergetar dengan sukarela.   Bila di dimensi gerak fisik ada gerakan sukarela yakni gerakan yang tidak dapat Anda kontrol, seperti berak dan pipis, maka di dimensi getaran itu ada rasa.   Anda tidak bisa kan mengontrol pipis dan berak Anda? Kalau bisa mengontrol, cobalah Anda buat jadwal berak dan pipis. Jam 2 siang jadwalnya berak, tapi belum kebelet, lalu mau Anda paksa keluarkan berak? Tidak bisa. Berak bergerak sukarela tanpa kontrol Anda.   Demikian pula rasa, getarannya sukarela dan cenderung tidak dapat Anda kontrol.   Karena ini siapa sih yang ingin menyintai suami orang? Dan siapa sih yang ingin berbagi hati antara istri dan pacar? Tidak ada. Namun ya begitu itu getaran rasa, tidak dapat dikontrol dan bergetar sukarela.   Siapa yang ingin menyimpan rasa cinta dengan mantan pacar di saat ia telah menikah? Namun kenyataan di antara Anda banyak kan yang suka kepo akun Facebook mantan? Ya begitu itu getaran rasa, ia bergerak tanpa peduli etis atau tidak, layak atau tidak, logis atau tidak, benar apa batil, bahkan tidak peduli susah atau senang.   Lah seperti apa sedihnya Qais memanggul rasa cintanya pada Layla? Menyintai perempuan sampai ia dilabeli Majnun. Rasa tetap bergetar tanpa kontrol tidak mau peduli walau itu adalah derita yang paling pahit.   Suatu ketika Qais diajak ayahnya ziarah ke Ka’bah, lalu ayahnya menasehati,   اُنْظُرْ عَلَّكَ تَجِدْ دَوَاءً لِمَا بِكَ. فَتَعَلَّقْ بِاَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَاطْلُبْ لِنَفْسِكَ الْخَلَاصَ. فَبَكَى الْمَجْنُونُ وَضَحِكَ. ثُمَّ تَعَلَّقَ بِحَلَقَةِ اْلكَعْبَةِ وَقَالَ : بِعْتُ رُوحِى فِى حَلَقَةِ اْلِعشْقِ. وَالْعِشْقُ قُوتى وَبِدُونِ هَذَا الْقُوتِ فَوَاتِى . فَلَا جَرَى الْقَدَرُ لِى بِغَيْرِ الْعِشْقِ. فَيَا رَبِّ رَوَّنِى بِمَائِهِ , وَأَدِّمْ لِعَيْنِى حُلْيَة الْاِكْتِحَالِ بِهِ. وَيَا رَبِّ زِدْنِى مِنْ عِشْقِهَا وَإِنْ قَصُرَتْ عُمْرِى بِالْعِشْقِ فَزِدْهُ فِى عُمْرِهَا. اَللَّهُمَّ زِدْنِى لِلَيْلَى حُبًّا. وَلَا تَنْسَنِى ذِكْرَهَا أَبَداً.   “Lihatlah, semoga kamu temukan obat bagi dirimu. Peganglah kiswah (kain penutup) Ka’bah dan berdoalah agar Allah menghilangkan rasa cintamu itu.” Mendengar nasehat ayahnya itu, Qais menangis dan tertawa sendiri. Sambil tangannya memegang kelambu Ka’bah, ia berdoa, “Aku telah menjual ruhku dalam ruang sirkuit rindu-dendam yang menderu-deru. “Isyq” (rindu dendam) adalah makananku, tanpa itu aku akan mati. Jangan takdirkan aku tanpa rindu-dendam kepada Layla. Duhai Tuhan, tuangkan air bening rindu. Cemerlangkan mataku dengan celak hitam selamanya. Duhai Tuhan, tambahkan aku rindu kepadanya. Bila umurku pendek, tambahkan rindu itu kepadanya. Duhai Tuhan, tambahkan rinduku kepada Layla, dan jangan biarkan aku melupakan dia selama-lamanya.”   Sekali lagi, rasa hati bergetar sukarela tanpa bisa Anda kontrol, maka ini melarang orang untuk jangan menyintai atau jangan membenci itu yang begonya kuadrat adalah yang melarang, dan menasehatinya maka yang bego kuadrat adalah yang menasehati.   Karena ini kaya harta yang tidak bisa dikontrol oleh kondisi ekonomi, tidak dapat dikontrol oleh kerja atau tidak, tidak dapat dikontrol oleh nganggur atau aktif, tidur atau berjaga, itu adalah kaya yang dibangun dengan rasa, yakni “rasa kaya”.   Banyak kan di masa pandemi sekarang di mana banyak orang kehilangan pekerjaan, kehilangan peluang bisnis, kehilangan sendi-sendi finansialnya, namun justru ada orang-orang yang finansialnya tetap stabil, dan banyak pula yang naik penghasilannya?   Nah Anda yang alami itu, artinya Anda berada di dimensi kaya harta dengan rasa.   Ada huru-hara pandemi Covid, rezeki anjlok, itu tanda Anda masih menarik rezeki dengan otot, rezekinya masih harus logis dan statis. Banyak kan kerja pensiun, rezeki pensiun? Tidak kerja berarti tidak makan? Nah itu rezeki yang masih ditarik dengan otot, bukan dengan rasa.   Rasa itu yang kondisinya persis seperti Anda yang menyintai suami orang, atau Anda yang berbagi hati antara istri dan pacar, ia primitif, bego dan dungu, tidak dapat dikontrol oleh dirinya sendiri.   Karena itu Anda yang punya “rasa kaya” juga rezekinya cenderung primitif, bego dan dungu. Tahu-tahu bisnis sedang sepi, eeh duitnya ngalir dari jalan yang tidak disangka-sangka, tahu-tahu ada PSBB, eeh orderan malah membludak. Itu rezeki dari tarikan rasa.   Maryam ibunda Isa A.S, sebagai perawan suci ia menempat di Mihrab Zakaria, kamar ibadah yang Maryam tidak bisa keluar untuk kerja. Namun aneka rezeki selalu hadir di mihrab tempat tinggalnya. Itu rezeki dari tarikan rasa, artinya Maryam itu pemilik rasa kaya.   Khidhir A.S, konon hidup di dalam air. Dinalar dengan logis, hidup di air bagaimana beliau masak makanan, menyalakan api saja tidak bisa? Lah dari mana rezekinya? Nah itu juga rezeki tarikan rasa kaya.   Rasa kaya itu namanya juga bagian dari rasa hati, ia persis seperti rasa cinta, seperti rasa benci, bergerak sukarela tanpa kontrol diri apalagi kontrol lingkungan ekonomi.   Rasa kaya, bagaimana menempuhnya ke dimensi sana? Rasa kaya itu rasa di mana Anda merasa menjadi orang kaya, itu saja. Dalam hadits Nabi S.A.W jelas disampaikan agar Anda dalam urusan harta supaya mengamati orang-orang di bawah Anda, tujuannya apa? Itu supaya di dalam hati Anda terbangun rasa telah banyak dianugerahi oleh Tuhan.   Duit sedang seret, misalkan, lalu Anda mengamati tetangga yang duitnya seret sekaligus banyak hutang, yang di hati Anda itu rasa apa? Tentu rasa cukup telah dianugerahi.   Nah rasa kaya itu berarti rasa dimana Anda merasa telah dianugerahi kekayaan, dianugerahi rezeki oleh-Nya. Itu saja. Hanya saja masalahnya Anda kan lebih banyak fokus kepada kesulitan dan kekhawatiran daripada fokus pada kebaikan yang telah Anda terima. Kemerungsung terus, itu masalahnya.   Kenapa si kemerungsung? Ya karena obsesi Anda mengumpulkan harta dan melekati harta sangat kuat. Obsesi ingin agar duit terkumpul kok ya sampai duit pribadi dimanajemeni seperti perusahaan, maunya keluar seirit-iritnya dan masuk sebanyak-banyaknya. Obsesi melekati harta kok ya sampai “ngituuuung” ketat dengan duit. Ada sedikit boros, tersinggung dan sakit hati, ada sedikit beban biaya yang harus dikeluarkan, mengeluh.   Itu penyegel rasa kaya, yang sebabkan Anda harus pakai otot untuk menarik rezeki.   Allah berfirman,   قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ   “Katakanlah, hai Muhammad! Dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya seyogyanya mereka bergembira. Dan itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunûs : 58)   Jelas kan? Merasa dianugerahi, merasa dikaruniai, merasa dirahmati itu yang seharusnya mendominasi mental Anda untuk bergembira. Mau gembira kok menunggu financial planning Anda

JUNI 2023

PENOLAKAN KADANG ITU WUJUD PEMBERIAN, DAN PEMBERIAN KADANG WUJUD PENOLAKAN

Alam semesta bekerja mengikuti perasaan Anda. Jika rasa Anda damai, realita yang terwujud damai, jika rasa Anda rusuh, realita yang terwujud rusuh. Di dunia binatang tidak ada kisruh Pilpres, tenang seperti biasa, karena rasa hati binatang-binatang tidak mengakses apa yang diakses oleh rasa Anda. Sehingga rasa Anda lah pengeksekusi realita alam semesta.   Karena rasa hati Anda pengeksekusi realita alam semesta, Tuhan banyak menjanjikan wujud realita hanya dengan bermain hati. Misal rasa syukur jadikan berlimpah rezeki, rasa kufur nikmat jadikan azab, rasa tawakal jadikan rezeki min haitsu lā yahtasib, rasa takwa jadikan semua problem menemukan jalan keluar, rasa dengki jadikan fakir, rasa pelit jadikan miskin, dan sebagainya. Tuhan menjanjikan itu karena memang rasa Anda pemegang reaksi alam semesta.   Di Serv0 Prosper1ty Onl1ne W0rkshop saya berikan shock mental kepada peserta dengan membatasi nominal tertentu untuk belanjakan uang. Rata-rata mereka alami tekanan mental. Karena tertekan mentalnya, ada-ada saja peserta yang kemudian alami ketidaknyamanan, seperti “ndilalah” bangun tidur bertengkar dengan istri, “ndilalah” di hari itu ada orang minta dihutangi, dan lain-lain.   Itu kasus nyata kalau perasaan Anda itu yang memanggil realita, rasa stres dan tertekan mentalnya memanggil ketidakberuntungan.   Dua tahun lalu saya bertemu dengan seorang teman yang punya masalah dibuang oleh mertua. Dia menantu miskin, si mertua merasa tidak selevel kerezekiannya dengan si menantu. Dia diusir, untung si istri memilih mengikutinya.   Dalam keadaan ngap-ngapan, si menantu membawa istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Rumah orang tuanya tentu seperti kandang bebek. Dua bulan kemudian dia pilih mengontrak satu kamar kecil setelah dia diterima menjadi guru honorer di sebuah Madrasah Aliyah.   Yang menarik darinya, dia tidak pernah merasa perlakuan mertuanya sebagai suatu penistaan. Dia berpikir terbalik, dia merasa itu jalan kekayaan. Waktu itu saya terus menelusuri jalan pikirannya, ternyata dia memang bermental kaya. Dia berperasaan, “Ketika semua pemberian dihentikan, itu artinya jalan pemberian”.   Dia mengambil hikmah dari kitab Al-Hikām karya Ibn ‘Athāi-llāh,   رُبَّماَ اَعْطاكَ فمَنَعكَ وَرُبَّماَ منَعَكَ فأَعْطاكَ   “Terkadang Dia memberi kepadamu, (dengan cara) Dia meghentikannya untukmu. Dan terkadang Dia menghentikan untukmu, (dengan cara) Dia memberinya kepadamu.”   Maksudnya, Tuhan seringkali mewujudkan pemberian dalam bentuk penolakan, dan sebaliknya seringkali Tuhan mewujudkan penolakan dalam bentuk pemberian.   Teman saya mengunggah rasa kepada alam semesta, kalau penghentian pemberian simpati dan jalan rezeki dari mertuanya sebagai jalan Tuhan memberikan semuanya kepadanya.   Ini mental kaya, di mana seorang yang bermental kaya tidak berpikir bagaimana dia diberi, sebab rasa ingin diberi itu merupakan rasa tidak berpunya. Dia memahami maksud Tuhan, bahwa dengan terhentinya pemberian dari mertua, sementara orang tua kandungnya sendiri cukup sangat kekurangan, dia tidak bisa mengharapkan sesuatu dari siapa-siapa lagi selain kepada dirinya sendiri. Harus sukses, harus sukses, harus sukses, dia didesak motivasi seperti itu.   Dimulai ikut teman jualan sayuran di pasar. Sebelum dia berangkat ke sekolah, dia bangun jam 2 malam, menjadi kuli temannya jualan sayuran di pasar, rezekinya terus mengalir. Lama-lama dia jadi pemborong sayuran pada petani, dan kemarin saya bertemu dengannya, dia sudah bisa beli tanah dan mobil Carry Pick Up terbuka. Loncatan finansial yang hanya ditempuh dalam 2 tahun.   Dan saya rasa itu dimulai dari rasa kayanya kepada alam semesta, bahwa sekalipun itu “penghentian pemberian”, dia bisa menilainya sebagai jalan Tuhan memberikan semuanya kepadanya. Rasa yang Anda kirim ke alam semesta adalah yang akan alam semesta realisasikan.   Berbeda dengan kenalan saya yang lain. Suami istri sama-sama guru PNS. Rumah tinggal menempati karena orang tua dari pihak suami maupun dari pihak istri sama-sama mampu. Warisannya banyak.   Tetapi karena keduanya mengirim rasa kurang kepada alam semesta, di mana rasa kurang itu adalah rasa “masih banyak yang belum aku miliki,” keduanya sekarang terjebak hutang bank sampai milyaran. Keduanya menjadi korban Dimas Kanjeng. Tergiur penggandaan uang, keduanya hutang bank 1 milyar untuk digandakan dengan agunan gaji guru PNS. Pasca tertangkapnya Dimas Kanjeng, keduanya baru kelepek-kelepek.   Tuhan memberi jalan pemberian kepada keduanya, ternyata sebagai cara Tuhan menghentikan pemberian-Nya. Dan itu semua dimulai dari rasa hati Anda.   Karena itu pentingnya mengambil hikmah kehidupan. Karena dengan mengambil hikmah, rasa yang kita unggah kepada alam semesta akan menjadi informasi keberlimpahan, bukan informasi kemiskinan, sebab alam semesta mewujudkan realita dari rasa hati kita.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

ALGORITMA KEHIDUPAN; SEMUA BIASA-BIASA SAJA

Pola alam semesta akan selalu menarik diri kembali kepada kesederhanaan, dikarenakan alam ini susunan pola aslinya adalah pola kesederhanaan.   Lah iya, Anda mau bicara mobil semewah dan secanggih apapun, itu hanyalah rumusan sederhana Newtonian dalam fisika yang asal muasalnya adalah unsur tanah yang diproses menjadi logam-logam tertentu.   Anda bicara tehnologi komputer serumit apapun, itu hanyalah kode-kode bilangan binner 0 dan 1 yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga membentuk algoritma tertentu.   Anda gunakan tehnologi internet secanggih apapun, serumit apapun dunia hack dan keamanannya, itu hanya komunikasi angka 0 – 9 dan simbol-simbol kaypad komputer.   Anda bicara karya sastra tinggi, itu hanyalah susunan abjad sederhana dari A – Z yang dikomunikasikan dengan rasa artistik tertentu.   Anda cari komponen alam semesta ini yang tidak tersusun dari pola kesederhanaan itu tidak ada.   Sebagaimana simbol lafal innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn (sungguh kita milik Allah, dan kepada Allah kita kembali), artinya berasal dari Allah kembali ke Allah lagi, maka bila pola penyusun asalnya adalah pola kesederhanaan, maka perjalanan gerak seluruh alam semesta ini menuju pola kesederhanaan lagi.   Lah iya, mobil canggih, komputer canggih, dan seterusnya ujung-ujunhnya kembali sederhana menjadi “rongsokan”. Dari sederhana, kembali sederhana.   Perasaan Anda pun demikian, ujung-ujungnya hanya akan menuju kesederhanaan, segala renik hidup yang Anda alami menjadi biasa-biasa saja.   Dulu saya sangat membenci iblis, saya anggap malaikat simbol suci sehingga sangat memuja, iblis simbol kejahatan dan kerusakan sehingga layak terkutuk. Tapi pada akhirnya pandangan itu menyederhana sendiri, malaikat dan iblis sama baiknya, tercipta untuk mendukung proses kehidupan ini.   Tanpa iblis yang merupakan wujud api, apa iya Anda bisa hidup? Anda tidak mungkin hidup dalam naungan kesejukan dan kedamaian terus menerus, tumbuhan saja tidak sehat tumbuhnya kalau kurang unsur panas matahari. Kalau Anda hanya sejuk dan damai sejahtera bersama malaikat dan Anda kurang setok musuh dan pesaing bersama iblis, hidup Anda juga tidak bisa bertumbuh baik, layaknya tumbuhan.   Itu artinya dikte buruk saya kepada arti baik dan buruk itu menjadi sederhaha seiring jalannya waktu.   Kemarin saya baru saja menyerang satu aplikasi money game tertentu yang di situ jelas rawan caci-maki dan serangan publik, dan memicu gontok-gontokan pro dan kontra, tapi kenapa saya jadi berani? Ya karena perasaan saya menganggap caci maki itu biasa saja, buat apa mau sakit hati?   Sakit hati pada caci maki itu emosi terlalu mewah dan norak, seolah hidup ini hanya pujian dan perdamaian saja yang diterima. Tidak, pupuk penyubur tanaman saja disebut unsur hara, itu unsur panas tanah.   Emosi saya menyederhana, menganggap caci maki dan puja puji itu selevel, jadi ya saya buat apa takut? Itu biasa saja.   Kemarin saya baru merasa bertindak ceroboh, memberi informasi publik kalau akun saya kena hack, dan yang di-hack itu posting pemberdayaan spiritual saya memakai pemograman Javascript. Saya menilai lumayan ceroboh karena sebenarnya belum sangat terdesak untuk diinformasikan ke publik, tapi ya saya sedang ceroboh.   Menyikapi penyesalan kecerobohan saya, saya menyederhanakan rasa menyesal saya, saya anggap segala kekhilafan itu biasa saja. Saya tahu diri saya menyesal, tapi saya sederhanakan menjadi biasa saja, toh hal itu tidak merugikan publik dan pihak lain.   Dulu awal saya mulai sadar memaafkan, saya anggap mengalah dan diam itu segala-galanya. Ternyata kesadaran emosi saya menyederhana sendiri dalam memaafkan. Dimaafkan makin menyepelekan, dengan sederhana saya beri amukan.   Dulu awal saya mengerti kalau rezeki makmur itu dengan memberlimpahi orang lain, kegemaran saya berbagi, di mana-mana saya “nyah-nyoh” duit. Pada akhirnya emosi itu menyederhana sendiri dengan saya sadar kalau diri saya pun layak “menerima” bukan hanya “memberi”, karena “hanya memberi tanpa menerima” itu hanya Tuhan yang sanggup punya karakter itu.   Awal membangun mental kaya, saya sangat tidak suka, kerap mencibir dan menertawakan pemilik mental miskin, tapi pada akhirnya emosi saya menyederhana, menganggap mental kaya pun punya kemiskinannya sendiri-sendiri, karena di setiap level kekayaan itu punya level kemiskinannya masing-masing.   Dulu awal saya pakai barang branded, saya maunya pamer, seperti euforia untuk cerita pada orang lain. Pada akhirnya menyederhana sendiri emosinya, sekarang walaupun baru beli bonsai harga 5 juta, ya tidak ingin cerita tidak apa, karena menganggap bonsai harga 5 juta itu biasa-biasa saja.   Algoritma kehidupan ini berasal dari pola kesederhanaan, akar pokoknya adalah “biasa-biasa saja”, maka pengguna kehidupan di alam semesta ini mau tidak mau dikontrol oleh algoritma ini. Siapapun yang masih mewah emosinya, baik mewah dalam emosi kebaikan maupun keburukan, kedua-duanya akan dikontrol oleh algoritma kesederhanaan alam semesta yang akibatnya rawan terjadi “kejatuhan diri”.   Tapi harus diingat! Seluruh benda-benda alam semesta ini energinya netral, perasaan Anda lah yang berikan nilai mewah ataupun sederhana.   Kaos oblong harga 5 juta itu energinya netral, tidak percaya? Begini, kaos oblong harga 5 juta dengan mainan anak harga 5 ribu, Anda berikan kepada anak balita Anda, mana yang dipilih? Tentu yang dipilih mainannya. Itu karena balita Anda belum punya emosi perasaan yang cukup untuk menyerap nilai kaos oblong mewah.   Itu artinya Anda sah-sah saja punya ini dan itu yang mewah-mewah, yang bermerk dan branded, tinggal emosi perasaan Anda dimana. Itu saja.   Lalu bagaimana sih untuk sampai di emosi yang sederhana? Begini, Anda tidak tahu kalau ada di bawah itu membahayakan kalau Anda tidak pernah naik ke ketinggian. Dengan Anda naik pohon tinggi, Anda jadi sadar kalau “bawah” itu bahaya ekstrem.   Jadi untuk temukan pola sederhana yang menjadi algoritma kehidupan, Anda perlu naik yang tinggi dulu. Baru kenal mental kaya, ya euforia dulu. Baru kenal agama, ya euforia dulu. Baru kenal barang branded ya euforia dulu. Baru kenal memaafkan, ya euforia dulu. Baru kenal makrifat, euforia dulu. Baru kenal duit gede, ya euforia dulu. Baru kenal marah, euforia dulu. Dan seterusnya.   Naik lah dulu ke ketinggian, nanti Anda baru tahu kalau semuanya “biasa-biasa” saja.   Yang tidak kenal arti pola kesederhanaan itu orang yang tidak pernah naik di ketinggian, bisa jadi ia sederhana tapi hatinya tidak pernah sadar arti sederhana.   Jadi naik dulu ke atas sana, naik yang tinggi, nanti Anda tahu kalau semua biasa-biasa saja.   Pada saat hati Anda temukan semua biasa-biasa saja, itu artinya bahagia dan

Scroll to Top