DOSA KEGIATAN AKTIF MENEROR DAN MENGINTIMIDASI DIRI, ISTIGHFAR KEGIATAN WELAS ASIH KE DIRI

Berbuat dosa sebenarnya butuh nyali dan effort yang lebih besar ketimbang berbuat baik.

Selingkuh misalkan, nyalinya harus besar sekali. Mungkin nanti pasangan sah dari selingkuhannya tidak terima, sangat mungkin melabrak, meneror, mengintimidasi dan lainnya. Belum lagi resiko pengucilan sosial, cibiran sosial, hukuman, dan lainnya.

Effortnya juga sangat besar. Lah iya, kalau Anda mau berbuat baik sedekah ke rumah orang, effort Anda cukup ketuk pintu, namun kalau mau mencuri di rumah orang, effort Anda harus dongkel pintu, mengendap-endap, pasang mental waspada sangat tinggi, dan lainnya.

Berbuat dosa sebenarnya butuh nyali sangat besar, tidak ada apa-apanya dengan effort berbuat kebaikan. Hanya mental mafia yang sanggup menjalankannya.

Berbuat dosa itu kegiatan aktif meneror dan mengintimidasi diri sendiri. Nyali harus besar, effort besar, dengan resiko buruk besar, itu yang harus dihadapi pelaku dosa.

Anda mau mengiris lengan sendiri butuh nyali dan effort besar kan? Iya, nyali dan effortnya sangat besar, karena itu adalah kegiatan menyakiti diri sendiri.

Berbuat dosa pun begitu. Berbuat dosa hakikatnya kegiatan meneror dan mengintimidasi diri sendiri.

Karena meneror dan mengintimidasi diri sendiri, dosa lalu memicu stres sangat tinggi, memicu masalah ruwet, dan kehidupan menjadi sempit, karena mentalnya dirinya sendiri terus-terusan diteror dan diintimidasi.

Ibn Rajab menjelaskan;

ﻣﺎ ﺃﺛَّﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺣﺮﺟﺎً ، ﻭﺿﻴﻘﺎً ، ﻭﻗﻠﻘﺎً ، ﻭﺍﺿﻄﺮﺍﺑﺎً ، ﻓﻠﻢ ﻳﻨﺸﺮﺡ ﻟﻪ ﺍﻟﺼَّﺪﺭ
“Apa yang mempengaruhi dada/hati yaitu berupa kesusahan, kesempitan, gelisah dan kegoncangan serta tidak membuat dada menjadi lapang/tenang.” (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 256)

Iya kan? Efeknya itu stres, karena effort yang dibutuhkan untuk berbuat dosa sangat besar, nyali yang dibutuhkan sangat besar untuk terima teror dan intimidasi.

Karena itu, ciri itu adalah dosa;

1. Berefek gelisah hati.

فَإِنَّ الخَيْرَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الشَّرَّ رِيْبَةٌ

“Kebaikan itu ketenangan hati, dan keburukan itu kegelisahan hati.” (H.R. Al-Hakim)

Perbuatan dosa itu perbuatan meneror dan mengintimidasi diri sendiri. Sehingga semua perbuatan dosa itu jadikan hati resah gelisah, dikarenakan resiko dan belitan masalah ruwetnya tidak main-main.

Lah iya, selingkuh misalkan, betapa tidak gelisah, takut ketahuan pasangan sendiri, takut ketahuan anak, takut karma buruk, takut dicaci maki banyak orang, dan lainnya.

2. Tidak berkenan diketahui orang.

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah pakerti yang mulia. Sedangkan keburukan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan engkau tidak suka hal itu diketahui manusia.” (H.R. Muslim)

Lah iya, Anda saat onani misalkan, apa mau diketahui orang?

Karena itu dosa sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya mental baja, bernyali besar dan pemberani, sebab dosa sebenarnya kegiatan aktif meneror dan mengintimidasi diri sendiri.

Namun jika mentalnya sudah sudah siap, teror dan intimidasi ke arah dirinya sudah tidak lagi mempan, ibaratnya Anda sebenarnya takut hantu, tapi karena mentalnya sudah siap, ya hantu tak mempan lagi untuknya.

Di level ini, dosa yang diperbuat tak lagi merisaukannya. Misal Sora Aoi, mantan artis JAV Jepang.

Dia ditanya, “Bagaimana Anda merespons citra publik Anda sebagai artis porno?”

Dengan santuy dia menjawab, “Benar bahwa saya punya pengalaman di industri film (porno) itu. Kalaupun ada orang yang memberikan pandangan negatif, saya tak mau ambil pusing. Sebab, ini pilihan hidup saya. Saya merasa bahwa saya masih ada di jalan yang benar. Jadi, kalau ada kritik seperti itu, tidak saya tanggapi.”

Nah kan, Sora Aoi sudah sangat siap mentalnya? Dosa publik yang diperbuatnya tidak lagi meneror dan mengintimidasinya?

Yang begitu oleh Al-Qur’an disinggung,

ﻛَﻠَّﺎ ﺑَﻞْ ﺭَﺍﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin:14)

Diri sendiri terima teror dan intimidasi sehingga stres. Diri yang disakiti begitu tentu babak-belur.

Diri Anda sedang stres dan panik, dibawa kerja apa punya mood? Diri Anda babak-belur sakit, dibawa aktifitas cari rezeki apa punya power? Remuk redam sekalian. Duitnya enggak dapat, badan makin sakit. Kecuali yang sudah “ndablek” sekalian seperti Sora Aoi.

Nah ketika istighfar, diri yang diteror dan diintimidasi lalu diberi energi welas asih. Pipi yang tadinya ditampar, dengan istighfar lalu pipinya dielus-elus dan disayang-sayang dengan cara diri sendiri dimohonkan ampunan kepada-Nya.

Sebab itu energi istighfar mampu menarik energi ketenangan hati dan energi keberlimpahan kekayaan, sebab istighfar hakikatnya energi berwelas asih dengan diri sendiri, energi mengasihi diri, energi menyembuhkan luka.

Imam Al-Qurthubi menukil dari Ibn Shubaih dalam tafsirnya, bahwasanya ia berkata,

شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”

”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya, ”Beristighfarlah”,
yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ”Beristighfarlah,”
yang lain lagi berkata kepadanya, ”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Dia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya, ”Beristighfarlah,” dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya, ”Beristighfarlah,” dan kamipun menganjurkan demikian kepada orang tersebut. Maka Hasan Al-Bashri menjawab, ”Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri.tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh ayat 10-12.” (Jami’ Li-ahkamil Quran 18/302).


– Muhammad Nurul Banan
– Gus Banan
– Spiritual Prosperity Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *