Ilmu dan harta itu akan punya efek yang sama setelah Anda cintai, yakni sama-sama muncul “rasa kurang”.

 

Ketika “rasa kurang” muncul itu tandanya Anda telah mencintainya.

 

Imam Syafi’i selalu sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Berbagai rintangan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu.

 

Diriwayatkan, karena kemiskinan dan ketidakmampuannya membeli buku, ia terpaksa mengumpulkan kertas bekas atau tulang belulang untuk mencatat pelajaran. Minatnya terhadap ilmu pengetahuan terutama fikih mulai tampak setelah ia menghapal kitab Al-Muwaththa’ karangan Imam Malik.

 

Ia pun berguru dan belajar dengan pendiri mazhab Maliki ini, hingga dirinya menjadi salah seorang murid kesayangan sang Imam.

 

Setelah belajar dengan Imam Maliki, dahaga ilmunya yang teramat sangat, ia kemudian pergi ke Irak (Baghdad) untuk belajar kepada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.

 

Namun demikian, Syafi’i tetap belum merasa puas akan ilmu yang telah diperolehnya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ia masih merasa sebagai orang yang paling bodoh. “Bila aku mendapatkan satu ilmu baru, maka hal itu menunjukkan betapa bodohnya diriku.”

 

Imam Syafi’i bergulat begitu jauh di dalam ilmu, ia pun benar-benar menyintai ilmu, rasa yang ia peroleh hanya “rasa kurang” yang tidak ada puasnya.

 

Abdullah Ibn Mubarak R.A. juga temukan hal yang sama,

 

لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ

 

Seseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.” (Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi, wafat 797 M; dikutip dari Ihya ‘Ulûmiddîn karya Imam Al-Ghazali)

 

Jadi tanda Anda adalah pecinta ilmu tulen, Anda justru akan merasa “bodoh”, efek dari rasa kurang tersebut.

 

Kalau Anda mencari ilmu lalu Anda temukan “rasa pintar” di situ Anda bukan pecinta ilmu tulen, ya Anda masih abal-abal dalam ilmu.

 

Harta pun begitu. Tanda Anda menyintai harta di situ akan muncul “rasa kurang”.

 

Rasa kurang pada harta, tidak yang miskin, tidak yang kaya, semua alami rasa ini. Persis seperti ilmu, makin cinta makin terasa kurang, makin terasa miskin, sehingga tanda Anda melekat cinta pada harta, tandanya Anda jadi punya rasa kekurangan.

 

Sebab ini hubbud dunyâ (cinta dunia) bukan urusan Anda miskin atau kaya, itu semata-mata urusan hati Anda, tandanya ada rasa kurang atau tidak.

 

Tanda cinta Anda kepada keduanya itu sama, yakni rasa kurang, tetapi untuk raih sukses, Anda harus mengapreasi dengan sikap hati yang berbeda.

 

Harta itu tidak diciptakan istimewa untuk Anda, ayam pun diberi harta. Ya Anda lempar saja sekepal nasi pada ayam, pasti mereka berebut dengan antusias. Artinya penciptaan harta tidak lah istimewa untuk tinggikan derajat manusia.

 

Di sini derajat manusia jauh lebih tinggi dari harta, makanya kalau Anda sampai jual diri untuk dapatkan harta, diri Anda akan auto hancur.

 

Karena derajat Anda lebih tinggi dari harta, Anda tidak diperkenankan merendahkan diri kepada harta. Demi harta lalu Anda minta-minta, itu salah satu sikap merendahkan diri kepada harta.

 

Sering saya sampaikan, Anda di depan murid bilang, “Nurut! Saya ini gurumu!” Itu ucapan meninggikan dan membesarkan diri guru di depan murid.

 

Namun karakter guru yang besarkan diri semacam itu etis-etis saja karena memang kedudukan guru lebih tinggi dari murid.

 

Sama saja Tuhan sangat sombong kepada Anda sebagai malhluk, Dia mengaku Maha Kuat, Maha Bijak, Maha Cinta, Maha Dahsyat siksa-Nya, dan seterusnya, namun kesombongan Tuhan itu etis-etis saja karena memang kedudukan Tuhan lebih tinggi dari makhluk.

 

Anda dengan uang kedudukannya lebih tinggi Anda, lagi pula uang tidak lah istimewa tercipta untuk Anda, karena itu sikap hati Anda pada uang harus “membesarkan diri”, menyombongkan diri.

Berhati kaya, bermental kaya, berpikir kaya, bertindak kaya, itu semua sikap hati yang besar diri kepada uang.

 

Ketika rasa cinta hadirkan rasa kurang namun rasa kurang pada harta, di situ hati Anda harus mengapreasinya dengan membesarkan diri pada uang, seperti bangkitkan rasa kaya, rasa cukup, rasa berlimpah.

 

“Saya kaya. Saya cukup. Saya berlimpah,” itu kata hati yang paling disegani oleh uang di saat Anda merasa kekurangan.

 

Rasa kurang kepada uang kok dituruti irit, dituruti rakus, dituruti meminta-minta, dituruti mengeluh, ya sudah Anda ludes sekalian. Karena di situ Anda nengecilkan diri di depan uang, bukan membesarkan diri.

 

Beda dengan ilmu. Ilmu diciptakan istimewa hanya untuk meninggikan derajat manusia. Coba Anda ajari ayam 1×1=1, bisa tidak ayam menerimanya? Tentu tidak. Itu artinya ilmu istimewa untuk tinggikan derajat manusia.

 

Karena istimewa untuk Anda dan berfungsi tinggikan derajat Anda, kepada ilmu Anda harus bersikap mengecilkan diri, artinya mengakses rasa kurang, rasa miskin, dan rasa butuh kepada ilmu.

 

Dengan ilmu kok mengakses rasa besar diri, semisal, “Aku sudah pintar! Buat apa belajar!” sikap mental begitu ya Anda ludes.

 

Karena itu ketika Anda menyintai ilmu lalu Anda merasa kurang, di situ rasa tersebut harus Anda ikuti, rasa miskinnya kepada ilmu harus makin dipupuk, berbalikan 180° dari rasa kurang kepada harta.

 

Nah orang kaya itu orang yang kemampuan menyikapi rasa kurang pada ilmu dengan rasa haus dan rasa miskin, namun menyikapi rasa kurang kepada harta dengan berlimpah alias rasa kaya.

 

Kalau sebaliknya? Rasa kurang pada harta disikapi dengan rasa miskin dan kepada ilmu disikapi dengan rasa berlimpah, ya sudah keludesan hidup Anda akan hadir tidak akan lama lagi.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *