Kalau Anda seorang germo mustahil akan ada cewek yang datang ingin mengaji dan belajar agama kepada Anda, yang datang pada Anda tentu cewek yang hendak menjual diri.
Itu karena alam semesta ini mengenal sistem brand atau merek, brand apa yang Anda kenalkan ke alam semesta maka itulah yang akan datangi dan terhubung dengan Anda.
Toko dan rumah saya itu berjejeran, keduanya sama-sama bangunan gedung, namun yang datang itu orang yang beda. Yang datang ke bangunan gedung “toko” itu para pembeli yang mau kasih uang ke saya, sementara yang datang ke bangunan “rumah” saya ya para tamu biasa.
Toko dan rumah saya bangunannya sama, sama-sama dari semen, batu, bata, genteng, cat, pasir dan seterusnya, tapi orang-orang yang datang itu berbeda keperluan. Itu dikarenakan 2 bangunan tersebut oleh saya diberi “brand” yang berbeda, ruhnya keduanya pun jadi beda.
Banyak orang jualan kesulitan peroleh custamer, tidak laku, namun sebagian yang lain banyak juga yang pembelinya datang sendiri, ini disebabkan perbendaan kemampuan mem-branding diri.
Yang ongkang-ongkang saja tapi tetap didatangi pembeli itu karena alam semesta sudah mengenali brand dirinya, ia dikenali sebagai pedagang. Sebaliknya yang sudah nawar-nawarkan capek tapi tidak ada yang beli itu karena brand-nya sebagai pedagang belum dikenali alam semesta.
Anda pernah alami kan, Anda sedang dagang malah yang datang kepada Anda bukan orang yang mau beli, tapi orang yang mau minta bantuan sosial? Jualan buku, misalkan, yang datang malah bukan orang yang mau bayar buku, tapi minta buku. Itu disebabkan Anda belum mampu meyakinkan alam semesta kalau Anda adalah pedagang.
Si peminta bantuan sosial tersebut meminta gratis dari dagangan Anda ya karena diri Anda sendiri yang memanggilnya, artinya Anda belum bisa meyakinkan diri Anda sendiri sebagai pedagang. Identifikasi brand diri Anda belum jelas, apakah pedagang ataukah penyantun sosial?
Ibaratnya belum jelas brand Anda, seorang germo atau ustadzah? Disebut germo tapi yang datang pada Anda adalah cewek yang mau mengaji, disebut ustadzah tapi yang datang adalah cewek yang mau melacurkan diri, ya jelas di situ identititas brand Anda yang dipertanyakan.
Jadi kalau mau yang datang adalah pembeli barang dagangan, perjelas dulu brand diri Anda.
Lalu bagaimana cara membentuk brand pedagang? Ya Anda butuh waktu kontinyu yang konsisten untuk membentuknya.
Ada kisah seorang cewek lulus SMA, ia bisnis MLM. Sudah niat berdagang tentu ia sibuk membangun jaringan dan promosi. Saking masih kecil jaringannya, di group WhatsApp keluarga, ia kerap share produk dagangannya. Tentu ujung-ujungnya keluarganya enek, agak sebel. Disebelin, ia tetap masa bodoh dan cuek karena sadar kepentingannya adalah buka jaringan jualan.
Status WhatsApp ia aktif share produk-produknya, di semua akun medsosnya dia juga konsisten bicara dagangannya. Terus konsisten.
Pada akhirnya 60% anggota keluarganya di grup WhatsApp terjaring di MLM-nya. Awalnya disebelin, karena belum teridentifikasi jelas dia pedagang atau family, lambat laun identitas pedagangnya makin jelas.
Saat sudah diidentikasi sebagai pedagang, brand-nya sebagai family di group WhatsApp tersebut kalah oleh brand pedagangnya. Jelas sudah identitas brand-nya, ia adalah rumah yang dibuat “toko”, dikenali sebagai “toko”. Dikenali sebagai toko yang datang adalah para pembeli walaupun itu saudara sendiri.
Jadi jelas cara bangun brand diri, harus konsisten sebagai pedagang yang sedang cari untung. Jangan ragu, jangan sungkan, jangan enggan, kenalkan ke alam semesta dengan konsisten kalau Anda pedagang.
Ya tentu saat bangun brand diri sebagai pedagang jadi disebeli orang, ditolak tawarannya, dicibir, dan seterusnya. Sudah begitu ada saja orang yang datang bukan mau beli tapi mau minta sedekahan, sudah capek tawar-tawarkan dagangan, tidak ada yang beli. Tapi ya itu proses identifikasinya begitu, selagi brand diri Anda belum dikenali jelas, kendala seperti itu tetap hadir.
Anda amati iklan-iklan kelas pemberdayaan diri saya sekarang, selalu tertera jelas harga tarifnya. Itu saya sengaja sedang bangun brand kalau saya adalah penjual kelas pemberdayaan diri yang bermisi bisnis bukan pengkhutbah Jumat yang bermisi dakwah.
Harus jelas identitasnya, sedang jualan apa dakwah, tegas dan terus terang kepada diri diri sendiri. Tidak plin-plan, pingin dibayar kelas pemberdayaan dirinya, sikapnya jangan umpat-umpet tarif seperti kyai yang diundang pengajian.
Orang yang ragu-ragu sebagai pedagang itu jelas kok, nyebutin harga dengan terus terang tidak berani tegas, tawarkan barang jualan semi-semi gratisan dan semi-semi murah walaupun dia sendiri belum puas dengan keuntungannya, kalau pas ditawar dengan batingan harga murah ia tidak berani menolak tegas, hatinya goyang, kalau tawarkan harga mahal walaupun memang itu harga standartnya dia muter-muter dulu karena tidak enak hati, dan seterusnya.
Sekarang ini ya, walaupun saya sedang malas buka kelas pemberdayaan diri, ya tetap orang menanyakan kelas saya datang sendiri. Nanya dan mau membayar. Itu karena brand saya dalam ilmu pemberdayaan diri sudah dikenali sebagai pedagang, yang datang ya orang yang mau beli dan bayar.
Nah sebagian orang ada yang walaupun dia tidak pernah tawar-tawarkan dagangannya lagi tetap saja para pembelinya datang sendiri, itu karena identitas brand dirinya sudah kuat sekali. Dan tentu perjuangannya di masa lalu untuk kenalkan diri ke alam semesta sebagai “pedagang” penuh jerih payah.
Jadi sedari awal niatlah yang kuat sebagai pedagang yang cari untung, jangan mau direcoki bisikan misi dakwah, misi sedekah, misi khidmah, misi pendidikan, dan seterusnya, jangan mau direcoki nilai-nilai spiritual dan sosial, dagang ya dagang, terus tegas dan konsisten, “Saya Dagang!” nanti lama kelamaan identitas brand Anda kokoh, dan pada saat itu Anda pergi ke rumah tetangga untuk Yasinan dan Tahlilan tetap saja di situ ada orang yang minta beli dagangan Anda.
Demikian pula karir-karir yang lain, sama. Anda mau jadi apa, kenalkan diri Anda dengan konsisten ke alam semesta tentang siapa diri Anda.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply