Sudah populer, cerita dalam hadits Nabi S.A.W tentang 3 orang yang terjebak dalam goa, kisahnya shahîh diriwayatkan Al-Bukhâri dan Al-Muslim.

 

Ketiga orang tersebut dalam perjalanan dan sedang beristirahat di dalam goa. Tiba-tiba ada batu besar longsor menutup pintu goa. Sangat panik.

 

Akhirnya suara hati ketiganya menunjuki jika ingin selamat mereka harus berdoa dengan menukarkan energi kebaikan ke langit, “Tidak ada jalan lain selain kita harus memohon pertolongan-Nya dengan menyebutkan amal-amal shaleh kita,” ungkap salah satu di antara ketiganya.

 

Orang pertama berdoa agar Dia menolong mereka dengan menyatakan kalau ia tanpa pamrih melayani kedua orang tuanya yang telah tua renta, hingga kerap menomorduakan kepentingan anak istrinya demi istimewakan orang tuanya. Itu semua ia lakukan demi mencaei ridha-Nya. Usai ia berdoa, batu besar penutup goa begesar.

 

Orang kedua berdoa dengan menyebutkan kalau ia pernah jatuh cinta pada seorang cewek, keduanya saling menyintai. Saat akan berbuat mesum, dan tinggal tembakan tombak ke dalam, si pemuda mengurungkannnya karena takut dengan-Nya. Usai ia berdoa dengan amal ini, batu besar penutup goa bergeser lagi.

 

Orang ketiga berdoa dengan menyebutkan kalau ia pernah khianati bayaran seorang buruh. Uang bayaran buruh tersebut tidak diberikan, malah ia gunakan untuk modal usaha ternak. Usahanya pun maju pesat.

 

Di saat usahanya telah maju, si buruh datang kepadanya menagih bayaran kerja. Merasa pernah menzalimi si buruh, ia menyerahkan semua ternak beserta para gembala ternaknya. Itu ia lakukan untuk menebus kezalimannya di masa lalu. Usai ia berdoa dengan amal kebaikan ini, batu besar penutup goa terbuka lagi hingga ketiganya bisa keluar dengan selamat.

 

Anda kerap kan hadapi kesulitan yang Anda tidak tahu jalan keluarnya, sana-sini buntu?

 

Saya sudah lama melakukan konsistensi amal baik yang sengaja dengan penuh sadar saya lakukan. Nah konsistensi amal baik ini kerap saya tukarkan kepada-Nya dalam keadaan darurat tertentu.

 

Jujur ya, saya dengan konsisten menggaji orang tua dan seorang guru spiritual. Dalam keadaan sepayah apapun, saya tetap konsisten. Sedikit pun tidak ada plin-plannya, tidak dalam keadaan luas rezeki maupun sempit rezeki. Konsisten.

 

Nah dalam keadaan darurat tertentu di mana saya alami kesulitan dan tekanan dahsyat, saya kerap bicara kepada-Nya, “Ya Allah. Saya sudah berusaha keras memuliakan orang tua di mana orang tua adalah azimat bagi anak, dan saya juga telah berusaha keras memuliakan salah satu hamba-Mu yang shaleh, itu semua saya lakukan dengan konsisten hanya agar hidup saya diberkahi. Karena ini saya mohon kepada-Mu keluarkan saya dari kesulitan dan tekanan ini dengan kemuliaan dan kekayaan lahir batin, kemuliaan dan kekayaan dunia akhirat.”

 

Dan doa tersebut auto keluar dari hati saya dengan yakin di setiap kali saya hadapi kesulitan dan tekanan. Sehingga ada rasa percaya diri besar keluar dari hati saya, bahkan saya merasa tidak layak kalau hidup saya terpuruk, masalahnya yang durhaka pada orang tua juga banyak yang kaya raya, kenapa saya yang memuliakan orang tua malah terpuruk? Saya merasa tidak layak terpuruk.

 

Dan hasilnya saya ditekan kesulitan karena ada orang dengki, yang mendengki terkunci sendiri langkahnya tidak bisa berbuat apa-apa, lalu dipaksa oleh alam semesta untuk memakan pahitnya menyaksikan saya makin berjaya.

 

Saya ditekan kesulitan finansial, banyak tanggungan biaya, tapi duit tidak ada, alhamdulillah makin hari rezeki makin murah.

Saya direndah-rendahkan orang, alhamdulillah yang terbukti saya malah makin mulia. Dan banyak lagi.

 

Jadi sangat perlu Anda membentuk pola pertukaran energi ke langit dengan konsisten. Harus ada amal shalih yang Anda bentuk dengan konsisten dengan tujuan semata-mata berbuat kebaikan. Dan pola amal yang Anda bentuk tersebut memang terasa berat bagi Anda, bukan yang ringan-ringan dan gampangan.

 

Kalau saya memang merasa mantap dengan konsisten memuliakan orang tua dan salah satu guru yang memang secara spiritual sangat saya sandari. Anda membentuk polanya ya terserah sesuai keyakinan Anda, mau mengasuh anak yatim, menyantuni fakir miskin, menyubsidi pendidikan dan kesehatan, terserah Anda apapun yang dimantapi hati Anda.

 

Kalau belum bisa dengan materi harta, tentu dengan tenaga, pikiran, dan lainnya, yang penting itu bentuk amal shaleh.

 

Kalau ada pola amal shaleh yang konsisten Anda bentuk, fungsinya itu sewaktu-waktu Anda terdesak sangat darurat, Anda bisa mempertukarkan energinya ke langit.

 

Kenapa harus ada pola amal shaleh yang Anda bentuk? Karena tidak mungkin Anda hidup tanpa kesalahan, tanpa dosa, tanpa khilaf. Kalau sama sekali tidak ada pola amal shaleh yang secara sadar Anda bentuk, lalu Anda mau bayar salah, dosa dan khilaf itu dengan apa?

 

Hidup kerjaannya mengolok-olok orang, sedekah Jumat cuma 2 ribu perak, sama orang tua berani geram dan bentak-bentak, ada perempuan gatel pingin menggoda, mentalnya miskin penuh rasa kurang, lah hidup begitu ya pantas belangsakan.

 

Jadi bentuk pola amal shaleh dengan konsisten dan istiqamah, sesuatu yang memang berat, jangan yang enteng-enteng, sehingga dalam keadaan yang Anda sangat sulit, Anda bisa menukarkannya ke langit.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *