Ketika Anda berdoa, yang pertama kali Anda terima itu proses.
Begini, dulu di pesantren saya kerap baca zikir, “Yâ Fattâhu Yâ ‘Alîm”, zikir Asmâ-ul Husnâ yang artinya “hai Zat Pembuka ilmu, hai Zat Yang Maha Berilmu pengetahuan”.
Zikir itu saya baca karena santri penimba ilmu tentu doanya ingin pintar kuasai ilmu, cepat bisa baca kitab kuning, mudah menghapal, dan seterusnya. Itu doa saya waktu itu.
Apa yang terjadi? Justru tekanan masalah saya di pesantren bertubi-tubi datang. Saking depresinya saya dengan masalah sampai saya kena diare 5 bulan belum sembuh.
Karena tubian masalah sepertinya susah diurai, saya pilih mengalihkan perhatian agar tidak fokus hadapi masalah. Ya masalahnya tidak saya urus, tapi saya fokus urusi ngaji dan ibadah.
Kerjaan saya cuma ngaji, diskusi ilmu, penuhi afsahan kitab, zikir, jamaah, mujahadah, dan lain-lain. Saking ingin lupakan masalah, saya kalau zikir di maqam syaikh pendiri pesantren, itu zikirnya di tempat terbuka tanpa atap, kalau ada gerimis saya tidak sadar, tahu-tahu usai zikir baju saya basah. Kalau zikir berjamaah, saya kerap ditertawakan orang, karena jamaah sudah selesai zikir tapi saya masih teriak-teriak zikir sendirian. Ya karena terlatih fokus untuk lupakan tekanan masalah, jadi begitu.
Hasilnya 2 tahun saya disiplin fokus, yakin saya jadi pintar ngaji sendiri, baca kitab kosongan serasa baca koran.
Nah di situ artinya saat saya berdoa agar dibukakan pintu ilmu, yang turun pertama adalah proses menuju ilmu, yakni ujian masalah. Bukan “ujuk-ujuk” ilmunya turun bak lautan laduni, bukan. Yang turun adalah prosesnya.
Selulus dari pesantren saya berdoa ingin jadi penulis dan pembicara terkenal tentu agar kaya rezeki. Saya mulai dari menulis buku. Lagi-lagi yang turun itu proses.
Sudah susah payah menulis pakai komputer rongsok pentium 3, melaratnya tidak tertolong, sampai saya cuma jadi olok-olokan tetangga kanan-kiri, “Mondok lama sampai pintar, tapi busyet jadi orang bingung,” itu olokan mereka. Asu banget pokoke.
Akhirnya bukunya ada yang terbit, tapi ya tidak mengubah hidup saya tidak apa, hasil duit tidak ada, hasil popularitas juga enggak. Kosong melompong.
Setelah berproses lama, 7 tahunan kemudian baru saya dibukakan ilmu spiritual prosperity oleh-Nya. Di situ doa saya baru terkabul.
Sekali lagi, saat Anda berdoa itu yang turun pertama adalah proses.
Kenapa proses yang turun, tidak langsung diijabah isi doanya? Itu agar Anda tidak idiot.
Anak kalau idiot itu tubuh fisiknya bertumbuh normal, sehingga pertumbuhan biologisnya sudah dewasa tapi mentalnya masih kanak-kanak.
Umpama Anda berdoa ingin kaya, lalu langsung turun kekayaan harta, itu tubuh fisik Anda saja yang tumbuh, mental kayanya tidak tumbuh. Harta banyak tapi mentalnya miskin, apa yang terjadi? Yang terjadi cacat idiot.
Karena itulah Anda berdoa ini dan itu, yang turun adalah prosesnya agar mental dan kesadaran Anda selaras.
Kemarin sore saya kedatangan tamu, Lusinah Surismah. Ibu ini belajar pada saya sudah lama, duit yang beliau habiskan untuk bayar saya tidak sedikit. Entah bayar tarif, entah ngasih pesangon, pokoknya keluar banyak, hahaha.
Apa yang beliau hasilkan? Ujian dan masalah.
Lah iya, belajar spiritual prosperity sama saya, katanya ingin kaya raya, ingin berlimpah, ingin bahagia, lah kok tidak ada yang berubah, malah temui ujian dan masalah?
Nah itu, yang turun ketika Anda berdoa dan bercita-cita itu adalah proses.
Makanya goblok bin super goblok kalau misalkan Anda amalkan ilmunya Yusuf Mansur dengan sedekah, lalu tiba-tiba Anda berlimpah kaya raya. Sedekah sekali kembali beratus-ratus kali lipat, ajaib.
Tidak. Anda belajar pada Yusuf Mansur yang akan turun prosesnya dulu. Sedekah banyak sudah dilakukan ya malah duitnya ilang dulu, boro-boro balik beratus-ratus kali lipat, tidak tombok sudah untung. Yang turun itu proses dulu.
Makanya Anda belajar dengan saya, ya minimal belajar di tulisan facebook lah, lalu Anda gemar belanjakan harta, gemar sedekah, gemar melepaskan uang, tidak sayang lagi dengan uang, lalu dengan ajaib rezeki Anda terus datang berjibun seperti yang saya alami sendiri, itu ya malah saya katakan, “Anda idiot!”
Kalau Anda waras yang turun justru proses dari apa yang Anda pelajari. Itu.
Diberu proses itu menyakitkan dan mengecewakan, namun kalau sudah menjadi levelnya, Anda diproses seperti apapun Anda tetap betah dengan pembelajarannya. Seperti saya di pesantren, tahu-tahu di pesantren saya malah dapat banyak masalah, ya saya tetap betah di sana, tidak terbesit putus asa.
Begitu juga Ibu Lusinah di atas, tahu-tahu belajar dari saya bukannya dapatkan keberlimpahan namun malahan masalah dan masalah, eeh beliau tetap saja nguntit dan ngintil ke saya, tidak ada kapok dan kecewanya.
Ya begitu, bila sudah menjadi derajat Anda untuk kaya, mulia dan bahagia, Anda tetap betah walaupun proses ujiannya bertubi-tubi. Anda sudah sedekah habis-habisan tapi tetap bangkrut, namun kalau derajat Anda memang di sana, Anda tetap istiqamah belajar kepada Yusuf Mansur, tanpa rasa kecewa. Itu.
Lah belajar pemberdayaan diri kok mentalnya mental pasang togel, yakni cari-cari keajaiban, ya maaf, tidak usah belajar, sana pasang togel saja siapa tahu Anda beruntung!

Leave a Reply