Suami istri ini baru menikah 2 tahunan. Ketika orang tuanya beli mobil lagi, mobil lama diinventariskan kepadanya.
Di hari itu ia dan istri ingin bepergian, satu acara luar kota yang sudah lama direncanakan, dan pamitan kepada ayahnya. Ternyata di perusahaan ayahnya pas ada acara seleksi perekrutan karyawan, yang suami istri ini punya tanggung jawab khusus menangani.
Sebenarnya perekrutan karyawan bukan mutlak tanggung jawabnya, ia dan istrinya hanya sedikit terkait. Dilihat dari sisi kepentingan, bagi ia dan istri, acara di luar kota hari itu jauh lebih penting ketimbang acara di perusahaan.
Ayahnya mencegah, “Jangan pergi sekarang! Harus tunggui proses perekrutan karyawan.”
Dengan hati gondok, ia dan istri dipaksa oleh etika alam semesta untuk batal bepergiaan.
“Gemana ini?” Tanya suami pada istrinya. “Ya mobilnya pakai mobil Bapak, nggak enak hati,” sahut istrinya.
Itu hanya drama kecil bagaimana alam semesta menempatkan etika untuk orang yang terbantu. Terbantu itu hukum etisnya terbeli.
Anda kerap kan temui orang-orang yang di saat kesulitan mengharap-harap dibantu orang lain?
Dulu saya kerap iri hati melihat anak orang lain yang orang tuanya begitu bertanggung jawab. Ia menikah biayanya ditanggung. Bikin rumah, dibikinkan. Sekolahnya, dibiayai. Buka usaha, disupport modal. Saya iri, kenapa nasib saya tidak begitu, apa-apa harus jerih-payah sendiri?
Sekarang setelah semua telah berlalu, sekarang saya cuma tertawa, “Hahaha dibantu orang kok pingin.?” Ya ternyata hukum etik alam semesta atas orang yang terbantu itu terbeli.
Di kampung itu banyak orang yang “lambene” enteng sekali minta dihutangi, minta bantuan orang, minta dibelaskasihani, bahkan begitu bangga ketika terima bantuan sosial dan terima gratisan, bangga terima amplop kondangan hajatan dan amplop pesangon.
Ketika Anda masih ada rasa ingin dibantu orang, dalam hal apa saja, entah modal usaha, entah hutangan, entah tenaga, entah fasilitas, itu yang disebut rasa thoma’.
Ciri yang paling menonjol dari rasa thoma’ itu muncul rasa sakit hati ketika bantuan yang Anda harapkan tidak mengunjungi Anda.
Orang thoma’ itu derajatnya ada di bawah harta dunia, ia terkendali dan terkontrol oleh harta.
Terkontrol itu artinya terjajah. Bangsa Indonesia seperti apa tersiksanya karena hidup di tanah airnya sendiri tapi semua sistem kehidupan dikontrol oleh penjajah Belanda?
Anda yang kerap hati ingin dibantu orang, sakit hati ketika tidak terima bantuan, bergairah besar saat ada bantuan sosial, berapi-api dapat gratisan, itu kondisi mental Anda terjajah oleh isi dunia.
Dunia ini isinya kekeruhan, masalah dan fitnah. Kalau diri Anda dijajah dunia, bisakah Anda bahagia sejahtera? Tidak bisa. Hidup Anda jadi pesakitan penuh kekeruhan masalah.
أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ وَأَنْتَ عَبْدٌ لِمَا أَنْتَ فِيْهِ طَامِعٌ
“Engkau merdeka dari segala sesuatu yang tidak kamu harapkan. Dan engkau menjadi budak dari sesuatu yang kau inginkan.” (Kitab Al-Hikâm)
Penyair berkata:
اَلْعَـبْدُ حُرٌّ مَا قَـنَعْ # وَالْحُـرُّ عَـبْدٌ مَا طَمِعْ
فَاقْنَعْ وَلَا تَطْمَعْ فَمَا # شَيْئٌ يَشِيْنُ سِوَى الطَّمَعْ
“Budak itu menjadi merdeka kalau ia qana’ah (menerima apa yang ada). Orang merdeka menjadi budak kalau ia berharap-harap (dibantu). Maka qana’ah lah (terima apa yang ada) dan janganlah berharap-harap (dibantu). Karena tidak ada sesuatu pun yang sangat buruk selain sifat berharap dibantu.”
Anda lagi buka usaha, berharap banget dibantu hutangan? Anda sedang iri pada saudara yang lain karena mereka disupport orang tua, sedangkan Anda tidak? Atau Anda pemilik mental tangan di bawah, mental gratisan, mental pengemis, mental diberi?
Hahaha emang enak hidup dijajah, emang enak hidup terbeli, emang enak hidup “ngasor”?
Kaya yang hakiki itu artinya mandiri. Putus semua harapan-harapan Anda atas bantuan orang niscaya Anda kaya.
Kalau trik saya dalam memutus dengan kerap menyombongkan diri, misal, “Hallah nggak butuh! Aku sudah bisa sendiri!”
Yang saya heran, begitu banyak pejuang agama yang begitu enteng minta-minta bantuan atas nama agama, atas nama yayasan agama, begitu enteng ajukan proposal bantuan ke sana-sini, lah kelakuan begitu sedang memperjuangkan agama apa sedang merendahkan agama? Sadar, Bro!
Dicatat ya, penyakitnya itu mengharap-harap dibantu orang, bukan masalah Anda terima bantuan atau tidak. Kalau ada bantuan datang sementara Anda sama sekali tidak berharap, ya terima dengan syukur.
Rasulullah S.A.W bersabada kepada ‘Umar bin Khattab. Waktu itu ‘Umar diberi sesuatu oleh Rasulullah. Lalu ‘Umar berkata, “Ya Rasulullah, berikan saja kepada yang lebih susah hidupnya dariku.” Kata Rasulullah, “Ambil wahai ‘Umar selama hatimu tidak mengharap-harapkan untuk diberi, ambil saja.”

Leave a Reply