إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

 

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (Q.S. Al-Isrâ : 7)

 

Kalau Anda melempar batu ke rumah orang, mengena ke kaca dan memecahkannya, pemilik rumah keluar memarahi Anda, ia minta ganti rugi, lalu siapa sebenarnya yang kena lemparan batu? Yang kena lemparan batu itu diri Anda sendiri.

 

Ketika Anda mencuri uang tetangga, Anda tertangkap, dihukum dan harus ganti rugi, lalu siapa sebenarnya yang kecurian? Yang kecurian itu diri Anda sendiri.

 

Seumpama Anda mencuri dan tidak tertangkap, sampai mati Anda tetap tidak tertangkap, lalu Anda di-hisāb oleh Tuhan, di neraka Anda menanggung dosa mencuri dulu, sekalipun tidak tertangkap bukankah tetap Anda yang kecurian?

 

Sistem semesta tidak mengenal apa yang disebut “mengambil hak orang”. Anda mencuri harta orang, justru Anda sendiri yang kecurian. Demikian pula merampok, korupsi, memerkosa, mencuci uang, membalak hutan, dan semua tindakan kriminal lainnya.

 

Karena ini rasional, ketika Anda berbuat baik kepada yang lain, semata-mata Anda berbuat baik untuk diri Anda sendiri. Segala sesuatu yang Anda ambil dan Anda lepas itu hanya sesuatu yang ada di dalam diri Anda. Anda tidak pernah “mengambilnya dari orang lain juga tidak pernah melepaskannya untuk orang lain”.

 

Jadi sudahlah, hentikan pikiran bagaimana mengambil sesuatu dari orang lain, bagaimana merampas hak orang lain, bagaimana merampas kebahagiaan orang lain, bagaimana menghinakan orang lain, bagaimana menghancurkan orang lain, bagaimana merebut suami orang lain, karena tidak ada sesuatu yang Anda ambil dari orang lain kecuali Anda mengambilnya dari dalam diri Anda sendiri. Anda tidak dapat mengambil sesuatu apapun dari orang lain.

 

Nah kadang Anda bisa menemui seseorang yang sangat dermawan, gemar berbagi dan menolong, tapi hidupnya beringsut mundur, kerap alami kesulitan penghidupan. Ia telah melepas kebaikan, seharusnya peroleh kebaikan, tapi peroleh kesulitan, ini kenapa?

 

Itu karena getaran niat dan kesadarannya sendiri. Pasti ada getaran kesadarannya yang tidak harmoni.

 

Kalau kesadaran hatinya polos menolong, itu artinya ia hanya melepaskan kepolosan. Melepas kepolosan, ya ia peroleh kepolosan.

 

Jika kehidupannya sendiri masih sulit, lalu menolong orang lain dengan kesadaran polos, ya hidupnya tetap utuh sulit, karena ia hanya peroleh timbal-balik kepolosan atas energinya menolong orang lain.

 

Mending kalau kehidupan pribadinya sudah mapan, menolong orang lain dengan polos, ia tetap mapan, karena energi timbal-balik polosnya tidak pengaruh apa-apa, hanya pengaruh polos.

 

Karena kesadaran polos ini, resikonya ia mampu menolong orang lain, namun ia kerap tidak mampu menolong dirinya sendiri.

 

Masih mau polos alias tulus? Hahaha

 

Nah agar Anda dimampukan menolong lain sekaligus menolong diri sendiri, menolong lain sekaligus mengangkat derajat sendiri, Anda perlu merekayasa kesadaran Anda dalam menolong orang lain.

 

Caranya? Lepaskan kekayaan ke alam semesta, Anda akan peroleh kekayaan pula. Berarti saat Anda menolong orang lain, pastikan muncul di dalam perasaan Anda, “Saya kaya, makanya saya menolong. Saya kaya, makanya saya sedekah. Saya kaya, makanya saya berbagi.”

 

Sadar Anda kaya saat menolong orang lain, itu yang energi timbal-baliknya kekayaan pula.

 

Maka ini jika Anda sedekah, misalkan, dengan niat punya anak shaleh, itu yang nanti akan Anda peroleh. Niat agar diampuni dosanya, itu yang akan Anda peroleh. Niat agar dimudahkan rezekinya, itu yang akan Anda peroleh.

 

Menolong orang kok polos, tulus, alih-alih ikhlas, hmmm goblok dipelihara. Hahaha

 

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *