Konten yang Anda search di media sosial yang akan kerap muncul di beranda medsos Anda, dan algoritma tersebut berlaku di semua platform medsos, yang Anda cari-cari itu yang Anda akan kerap hadir dalam kehidupan Anda.

 

Saat ini di Youtube saya suka searching konten mokbang makanan Sunda, khususnya lalapan mentahan dengan sambal terasi atau tomat mentah ataupun mokbang lutisan buah entah sambal gula maupun sambal kacang, yang selalu muncul di beranda Youtube saya ya konten-konten mokbang makanan Sunda. Yang Anda cari itu yang dihadirkan.

 

Di RT yang sama, ada tetangga yang selalu sibuk dengan urusan judi, seolah masalah judi tidak pernah pensiun hadir dalam hidupnya. Sementara ada tetangga yang hidupnya selalu bertemu dengan pengajian religi.

 

Tinggal di RT yang sama, satu selalu bertemu dengan judi, yang satu selalu bertemu dengan ngaji. Itu dikarenakan setiap diri Anda akan dihadiri dengan apa yang Anda cari.

 

Disini kenapa ada orang yang selalu dihadiri kemiskinan dalam hidupnya, tetapi ada sebagian orang yang selalu dihadiri kekayaan. Titik permasalahannya sama, diri mereka sendiri yang searching keadaan tersebut.

 

Pagi yang di-search kemiskinan, sore juga search kemiskinan, begitu pula malam harinya. Yang dicari itu, ya yang kerap hadir itu juga.

 

Tanda Anda lakukan searching kemiskinan banyak sekali, kalau mau dijelaskan butuh karya 1 buku sekitar 500 halaman, namun disini sedikit saja saya terangkan.

 

1.       Tidak tersinggung dikasihani orang.

 

Kasihan itu empati yang identik dengan ketidakberdayaan, keduhafaan dan lemah. Nah Anda kok merasa senang dan nyaman kalau dikasihani dengan bantuan dari orang lain, itu Anda melakukan searching kemiskinan.

 

Kecuali rasa ingin dikasihani oleh Tuhan, itu baru waras, karena memang sehebat apapun diri Anda, tetap Anda lemah di depan Tuhan.

 

2.     Rasa tak punya.

 

Disuruh sedekah biar kualitas hidupnya meningkat, merasa, “Saya tak punya uang, sedekah banyak dari mana?” Disuruh buka usaha, merasa, “Tidak ada modal, mau usaha apa?” Ditagih hutang, merasa, “Tak ada uang.”

 

Itu rasa tak punya uang. Kalau naluri Anda masih saja merespons segala masalah hidup dengan rasa tak punya uang begitu, itu tanda Anda masih selalu searching kemiskinan.

 

3.     Merasa rasa layak diberi dan dibantu.

 

Rasa layak diberi itu jadikan memasang tangannya di bawah. Dari dulu pun yang kaya selalu yang berbagi, yang menerima itu selalu yang dhuafa.

 

Lihat saja di saat lebaran, mereka yang biasakan diri bagi-bagi harta, ya mereka makin eksis kaya, mereka yang hanya dibantu dan dibantu ya tetap eksis miskinnya.

 

Fenimena itu hanya diselisihi rasa layak memberi atau layak diberi. Rasa layak diberi itu sama saja sedang searching kemiskinan.

 

4.    Rasa tak berharga diri.

 

Apatis, rendah diri, minder, kecil hati, dan self esteem rendah lainnya itu jadikan uang yang datang kecil.

 

Karena uang itu barang matre, sifatnya pun matre, konsekuensinya apapun yang berharga akan didatangi mahal.

 

Sehingga kalau Anda punya self esteem rendah, ya Anda didatangi uang kecil karena tidak berharga.

 

5.    Mental miskin.

 

Cari gratis, cari murah, cari efesien, cari hemat, rasa hedon dan konsumtif yakni royal belanja tapi karena dipicu keinginan nafsu belanjanya yang besar bukan dipicu rasa kaya di hati, itu semua mental-mental miskin. Anda mengamalkannya ya sedang searching miskin.

 

6.    Tidak hargai ilmu, yang dihargai duit.

 

Yang ubah nasib hidup itu ilmu, bukan uang. Kalau bayar ilmu, enggan dan bahkan tersinggung. Beli buku enggan, beli training berbayar enggan, biaya sekolah dan ngaji anak mengemplang, itu semua artinya Anda cari miskin karena yang dihargai selalu nilai uang bukan nilai ilmu.

 

7.     Berhati jahat kepada sesama.

 

Hati jahat itu hati yang berinisiatif bikin rugi orang lain. Kejahatan akan menuai kerusakan.

 

Sementara ketika Anda melemparkan batu ke kaca rumah orang, yang punya rumah akan keluar marah-marah mencari Anda. Kalau tercekal, Anda dihukum, lalu Anda harus ganti kerugian kaca yang pecah. Kalaupun tidak tercekal, Anda terancam karma.

 

Anda jahat ke kaca rumah orang saja, Anda yang rugi. Kerugian itu kemiskinan. Sehingga berhati jahat kepada sesama itu sama saja searching kemiskinan.

 

Dan masih banyak lagi searching kemiskinan laiannya, Cuma ini bukan buku, jadi tak perlu diperpanjang lagi.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *