“Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada
yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak
memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi
minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas
kepala orang yang menjual gandum.” (Raja Sulaiman bin Daud).
Sebenarnya cara konyol untuk kaya itu dengan jalan irit dan pelit. Saya pernah
gagal lakukan live setreaming di Youtube, di antara kendalanya ternyata kurang
mumpuninya kuota wi‐fi di rumah saya.
Sehingga siangnya saya langsung ke kantor Indihome
Purbalingga untuk naikkan kuota wi‐fi dari 20
Mbps menjadi 50 Mbps. Konon 20 Mbps sudah cepat untuk download, tapi untuk
upload masih lambat, sementara untuk live streaming yang dibutuhkan kecepatan
upload.
Ingin layanan wi‐fi lebih handal, harus naikan kuota,
artinya harus bayar lebih banyak.
Dan hukum tersebut pun berlaku untuk semua ranah hidup, kalau Anda ingin
layanan hidup lebih berkualitas, Anda pun harus bayar lebih mahal.
Sebab itu berlaku hukum,
الْأَخْرُ عَلَى قَدْر
النصَب
“Ganjaran sesuai dengan kadar
kepayahan.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Di sini jelas sekali kalau “biaya” yang dikeluarkan itu merupakan
takaran layanan kuota yang layak Anda peroleh. Tidak lebih begitu lah hukum
alamnya.
Karena itu yang namanya irit dan pelit itu selamanya akan memampuskan kualitas
rezeki yang akan Anda terima, karena irit dan pelit itu artinya berhemat untuk
keluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan sedikit, kualitas barang yang diterima
juga anjlok, rezeki yang diterima juga tidak berkualitas.
Apalagi cari murah‐meriah, hahaha itu sama saja cari
modar rezeki dengan konsisten.
Dan payah lagi ide dapat gratis alias tanpa biaya. Itu ide cerdas untuk makin
miskin.
Nah kualitas belanja Anda, nafkah Anda, sedekah Anda, itu semakin tinggi
kualitasnya akan menarik rezeki makin handal.
Beli sandal jangan di angka 150 ribu terus, bertahap dinaikkan. Isi dapur, isi
kamar, isi BBM, dan belanja‐belanja
lain bertahap dinaikkan, konsisten dan jangan plin‐plan.
Karena ini Biosolar versus Pertaminadex, Pertalite versus Pertamax Turbo, jelas
lebih menderaskan rezeki Pertaminadex dan Pertamax Turbo. Wi‐fi 10 Mbps versus 50 Mbps jelas lebih deraskan rezeki yang
50 Mbps.
Kualitas nafkah kepada anak dan istri juga ditingkatkan, jangan malah makin
disempitkan. Sedekah juga begitu, makin hari makin membengkak.
Jebakannya biasanya termakan dogma “sederhana“. Beli sandal sederhana
saja, iya sederhana, tapi resikonya kualitas pembiayaan Anda yang turun.
Kualitas biaya turun, otomatis kualitas peroleh rezeki juga turun.
Jadi konten ini hanya untuk Anda yang berminat naikan kuota rezeki, kalau tidak
minat, ya barangkali punya impian hidup sederhana, ya silakan. Itu pilihan.
Tapi kalau pilih sederhana lalu Anda mengeluh kurang duit ya itu namanya bukan
lagi hidup sederhana, tapi pilih hidup miskin. Mengeluh itu level miskin.
Nah bukan cuma dengan pengeluaran biaya Anda bisa naikan kuota rezeki, dengan
jerih payah juga bisa. Makin besar kapasitas keringat Anda, makin besar pula
kualitas rezeki yang akan Anda peroleh.
Hai orang‐orang beriman, bertaubatlah dari
irit, pelit, cari murah dan cari gratis!
Sekarang sedang viral di IG dan Tiktok tentang frugal living; yakni ingin kaya
dengan irit sedemikian rupa, bisakah?
Alam semesta ini mengenali alamat; yakni titik di mana Anda sampai di titik 0
km dari tujuan Anda. Di Bumi ini, Anda mau kemana? Tidak ada yang buntu. Karena
sistem “alamat” ini, GPS mampu membacanya dengan sistem satelit.
Kemana pun Anda menuju alamat, di situ ada jalan menuju kesana.
Namun satu hal yang harus Anda ingat, alam semesta ini energinya netral,
getaran apapun oleh alam semesta akan direspons dengan respons energi yang
sama. Anda yang bersuara merdu dengan Anda yang bersuara buruk sama-sama teriak
bernyanyi di atas gunung, bukankah gaung yang digemakan alam semesta sama?
Sama-sama keluarkan gaung.
Karena itu ketika Anda punya tujuan mencapai alamat, alam semesta tidak peduli jalan apa yang Anda ambil, asal ada tujuan, ada niat, lalu Anda berusaha mencapai alamat tersebut, alam semesta akan merespons dengan tunjukan jalannya tanpa peduli jalan apa yang Anda ambil.
Geng Yakuza Jepang ingin capai alamat “berpengaruh” dengan jalan kekerasan dan penindasan, tercapai. Dan capaian pengaruhnya menyamai capaian Jenderal Besar Soedirman yang pengaruhi orang dengan aksi heroisme militernya memerdekakan Indonesia.
Maria Ozawa ingin capai alamat popularitas dengan pornografi, tercapai. Dan capaian popularitasnya menyamai Susi Susanti yang populer menjadi atlet Badminton profesional.
Hanya saja apapun alamat yang Anda tuju, tercapai atau tidak, hasil maksimal atau tidak, itu tergantung kesungguhan Anda. Jangan dikira menjadi sosok pornstar yang populer tidak butuh kesungguhan konsisten, itu kesungguhannya menyamai kesungguhan dakwah para nabi yang membawa risalah suci.
Lah iya, Maria Ozawa mau ke Bali saja didemo ratusan ribu orang, shootting film nasional di Indonesia juga begitu. Kalau dia bukan orang yang sungguh-sungguh dalam karir pornografinya, sudah sejak awal dia terjungkal.
Anda mau kaya dengan irit dan pelit, tercapai kok, asal sungguh-sungguh. Anda amati saja masyarakat di sekitar Anda, banyak kan orang kaya yang pelit dan irit? Tapi itu syaratnya sungguh-sungguh. Jadi kalau Anda sudah irit dan pelit tapi tidak kaya-kaya, itu artinya pelit dan irit Anda kurang kesungguhan.
Cuma itu, kalau saya malas bangun kekayaan kok dengan pelit dan irit. Pelit dibenci orang, irit menyiksa diri sendiri dengan harta. Juga dibenci Tuhan. Kalau saya emoh.
Lah wong kaya dengan dermawan pada diri sendiri dan orang lain juga ada kok, lebih happy dan lebih elegan, ngapain kaya dengan irit dan pelit?
Raja Sulaiman bin Daud jelas berpesan, “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”
Masih mau kaya dengan irit? Amit-amit! Kerja capek-capek dan ujung-ujungnya juga mati, pingin bakso saja ditahan-tahan demi pingin kaya. Rakus amat sih?
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply