Awal saya beli mobil masih harga 100 jutaan. Tentu lah pingin ganti mobil yang minimal menengah ke atas. Yang saya lakukan walaupun mobil harga 100 jutaan selalu saya isi Pertamax Turbo full tangki.
Niat saya beli fasilitas mobil menengah ke atas dulu untuk memantaskan levelnya, nanti juga bisa beli mobilnya. Dan benar, 3 tahun kemudian saya ganti mobil.
Ayah mertua saya punya tanggung jawab mengembangkan gedung dan fasilitas pondok pesantren. Yang namanya beli bahan bangunan sudah seperti Anda beli sayuran, tiap hari harus belanja, dan itu terjadi sepanjang hayat beliau.
Namun begitu beliau tidak punya hutang, cenderung kuat anti hutang.
Sejak nol begitu beliau punya cita-cita kembangkan pondok pesantren yang padahal modal juga tidak pegang, uang juga belum punya, beliau melatih diri memantaskan levelnya.
Beliau melatih diri dari yang terkecil, walaupun bisanya beli semen satu sak, beliau lakukan, tiap hari sekecil apapun kemampuan beli bahan bangunan, beliau lakukan. Bisanya cuma pelihara satu karyawan bangunan, beliau lakukan.
Dan hasilnya sekarang beli bahan bangunan sudah seperti beli sayuran, dan bangun gedung nilai milyaran sudah seperti bangun gubukan sawah.
Saya banyak kenal traveller dunia, yang kerjaannya keluyuran luar negeri. Resepnya mereka upgrade dulu kepantasan levelnya dari yang terkecil, paspor jangan sampai mati. Pergi ke luar negeri atau tidak, paspor tetap dihidupkan.
Bahkan ada cerita teman saya yang pingin sekali umrah, beliau memulainya dengan bikin paspor wisata, lalu paspornya dihidupkan terus, padahal daftar umrah juga belum, cuma punya modal pingin umrah. Dan betul, selang 3 tahun kemudian dia umrah.
Dulu saya tidak pernah gambarkan diri saya bisa tiap bulan naik pesawat, keluar masuk hotel, keluyuran dari satu kota ke kota lain, dibayar lagi keluyurannya, dan punya relasi besar dengan kalangan metropolis, karena saya sebenarnya cuma anak desa, lagi pula anaknya orang miskin.
Bagaimana saya mencapai kesana? Saya memulai dari memantaskan levelnya. Dulu saya memulai dari menulis buku, tidak peduli bukunya terbit atau tidak, ada uangnya atau tidak, saya menulis dan menulis.
Bahkan saya hingga dicaci maki tetangga di desa karena kerjaannya di dalam kamar, duit tidak punya, dikira saya tukang tidur-tiduran. Padahal di kamar saya sedang kerja keras menulis di depan komputer rusak, waktu itu masih komputer pantium 3, dan itupun komputer butut bekasan.
Jadi sebelum Anda sampai di levelnya, pantaskan diri dulu berada di level tersebut dengan usaha sekecil apapun yang bisa Anda lakukan. Karena yang namanya niat itu harus muqaranan bi fi’lihi (berbarengan dengan pelaksanaan kerja).
Anda niat shalat, tetapi tidak pantaskan level untuk shalat, niat shalat tapi Anda tidak ambil wudhu, tidak tutup aurat, tidak hadap kiblat, tidak memulai takbiratul ihram, lalu bagaimana Anda sampai di level shalat?
Pantaskan dulu levelnya dengan berkeinginan, lalu mulai dari yang terkecil dan tersederhana, dan konsisten jalani.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply