Ada seorang teman hebat saya bercerita. Dia pernah alami satu fase dimana dia terjebak harus selalu rendah hati, ya karena lingkungan tersebut adalah lingkungan orang-orang berpengaruh, yang mau tidak mau dia harus andap asor, di situ dia merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tak berdaya.

 

Hingga ada beberapa orang yang selalu memandang dia sebelah mata hingga waktu lama, mau tidak mau dia harus sabar. Diperlakukan apapun, dibilang yang tak enakan hati hingga tak didengar itu sudah biasa.

 

Di keadaan itu, dia tetap rendah hati dengan kesabaran tinggi. Dan terus dia jalani saja apa adanya, semenyakitkan apapun.

 

Rendah hati bukan watak asli dirinya, hanya karena keadaan saja yang akhirnya haruskan dia rendah hati.

 

Dan hasilnya, rezeki dirinya lalu mulai berubah, hingga di lingkungan tersebut dia jadi tampak menonjol kekayaannya. Bukan Cuma rezeki yang menonjol, kemuliaan dia pun menonjol.

 

Sesudah dia menonjol tidak begitu saja orang-orang di lingkungan tersebut menghargainya. Tetap ada yang sepelekan dan memandang sebelah mata. Lihat dirinya sedekah besar ke komunitas mereka, ya tidak dianggap. Namun dia tetap sedekah dengan rasa rendah hati. Dia teruskan saja rasa sabar dan rendah hatinya, tak melawan tanpa menonjol-nonjolkan diri.

 

Dan pada akhirnya, semua takluk, mengakui kemuliaan dan kemenonjolan dirinya. Yang memandang dia sebelah mata, satu-satu mengakui. Hingga detik ini dia di posisi mulia di hati mereka dengan anugerah rezeki unggul untuk dirinya.

 

Namun fase lain dalam dirinya juga ada, sebagai bahan pengingat. Dimana dia di lingkungan lain bergaul di lingkungan orang-orang biasa-biasa saja. Di lingkungan tersebut dia dari awal sudah punya kuasa dan dihargai.

 

Ketika dia masih tidak punya, ilmunya dihargai oleh mereka. Lantas setelah dia mulai jadi orang punya, dia pun banyak membantu mereka.

 

Namun itu, bangunan mental dirinya karena dari awal dia menonjol dan kuasa, dia jadi arogan. Gayanya angkuh. Apalagi sesudah dia merasa dialah yang banyak membantu, di situ dia jadi merasa paling layak dihargai. Ekspektasi dirinya bahwa dia itu penting sangat tinggi.

 

Hasilnya, dia ditinggalkan mereka. Dia menganggap diri mereka orang-orang tak bersyukur, sudah diberi kebaikan malahan melunjak. Dia tuduh mereka iri dengki dengan keunggulannya. Dia merasa dirinya orang baik karena banyak bantu mereka, dan mereka adalah orang-orang tak bersyukur.

 

Dan hasilnya apa? Di lingkungan lain tersebut dia tidak berharga. Keunggulan ilmu, martabat dan hartanya, kebaikan dan kedermawanannya, sama sekali tidak berguna untuk sekedar jadikan dirinya dihargai. Dia tetap ditinggalkan. Dia sakit hati sendiri.

 

Nah sudah jelas, kan? Rendah hati dan sabar itulah resep maknyos kaya mulia. Tinggi hati dan congkak itulah awal rendahnya diri.

 

Di lingkungan tersebut dia jadi belajar dari kesalahannya untuk selalu rendah hati dimanapun dan di keadaan apapun.

 

Jadi siapapun yang meninggi, ia akan rendah. Dan siapapun merendah, ia akan tinggi.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *