Lelaki ketika menikah, ditilik dari kacamata “tindakan” sebenarnya sebuah kesepakatan pemerasan. Lah iya, sesudah menikah, seks dinikmati bersama, lelaki yang harus bayar maharnya. Belum lagi kalau ikuti adat tertentu, seperti adat Jawa, lelaki harus “mbesan” yakni harta tertentu yang diserahkan kepada keluarga pengantin wanita sebagai bawaan besan, padahal ya kepentingannya sama antara 2 besan yaitu bikin resepsi nikahkan anak-anak mereka.

Sesudah bangun keluarga, lelaki makin jauh dijerat dalam kesepakatan pemerasan, karena dia dituntut kasih nafkah istri yang merupakan anak orang. Kalau kasih nafkah anak sendiri mending, karena anak itu darah daging sendiri, lah istri itu kan anak orang lain? Bayangkan coba, banting tulang hingga stres-stres cuma untuk kasih makan anak orang? Wkkkk pemerasan, kan?

Dimana pun resiko sebuah kesepakatan pemerasan adalah korban. Menjadi korban, efek getaran yang ditangkap adalah keterpurukan.

Namun pada kenyataannya, lelaki sesudah masuk dalam kesepakatan nikah, mayoritas lelaki malah temukan harga dirinya sebagai lelaki, bukan temukan dirinya sebagai korban pemerasan. Ketika bujangan rezeki lelaki sempit, sesudah menikah malah kaya. Ketika bujangan tidak punya rumah sendiri, sesudah menikah malahan bisa bangun rumah. Banyak harga diri pria yang terbangun justru setelah kasih makan anak orang dalam ikatan nikah.

Praktek tindakannya pemerasan, tapi hasilnya bukan korban, justru hasilnya adalah keberlimpahan. Kok bisa?

Itulah pengaruh penempatan kesadaran di dalam hati. Sesudah menikah laki-laki menempatkan diri sebagai pejantan yang siap bertanggung jawab beri nafkah, hasilnya alam semesta merespons apa yang disadari di hati lelaki. Sadar sebagai pejantan itulah yang lelaki rasakan sehingga energi yang dia tarik berwujud keperkasaan dan keberlimpahan.

Bahkan tidak sedikit lelaki yang merasa kurang jika hanya kasih nafkah untuk 1 anak perempuan orang lain, sehingga tambah lagi jadi 2, 3 atau 4. Kalau akses sadarnya jadi korban pemerasaan, mana mungkin ingin tambah?

Andai ketika menikah dan dalam jalani rumah tangga, lelaki mengakses kesadaran jadi korban pemerasaan, apa yang terjadi?

Dari contoh kasus hidup lelaki, artinya akses sadar hati di balik tindakan dan aktifitas itu yang akurat mempengaruhi hasil nyata yang diterima.

Hal-hal yang menyakitkan hati seperti diejek, direndahkan, disingkirkan, disalah-salahkan, dianiaya, dan lain sebagainya, itu semua bisa diolah sebagai energi yang menguatkan diri Anda, sebagai self esteem energy yang terus bekerja mengisi ulang energy untuk Anda, namun asal pas dalam mengakses rasa sadarnya.

Lalu bagaimana olah rasanya? Ya hindari rasa menjadi korban, namun gunakan kesadaran al-hikmah yakni kesadaran mengambil hikmah di balik kejadian.

Umpama Anda tersandung batu, di situ jika disadari sebagai korban musibah ya hasilnya keterpurukan, namun jika disadari, “Saya tersandung batu, alhamdulillah sangat bersyukur dosa-dosa saya sedang diampuni Tuhan,” hasilnya juga sebagai orang syukur yang diampuni dosanya. Sudah syukur dan diampuni dosanya, bagaimana rezeki Anda tidak mengalir cantik?

Kenapa Anda terpuruk? Ya karena Anda baperan, mudah merasa menjadi korban. Sadari sebagai hikmah baik, itu server untuk download segala kebaikan.

Jangan baperan ya? Sebentar-sebentar merasa menjadi korban ketidakberuntungan, latihlah bijak menyadari hikmah baik di berbagai kejadian menyakitkan.

Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *