Ada kerabat saya, ia memiliki jiwa dagang besar, karena ini ia melawan keras keinginan orang tuanya yang inginkan ia jadi pegawai kantoran.
Selulus S1 ia jadi guru honorer di sebuah SLTA, cuma kuat 3 bulan. Ayahnya tidak terima, lalu mencarikannya peluang jadi karyawan TU di sebuah kantor desa, ternyata hanya kuat 4 bulan. Dicarikan lagi pekerjaan sebagai pengajar di pondok pesantren, ia kabur lagi.
Ia maunya bisnis, sehingga arahan orang tuanya tidak ia beli.
Ia pun nekat memulai bisnis walaupun tidak didukung orang tuanya. Dari sini awal ia terjebak hutang.
Ia memulai bisnis dengan menyetting bisnis besar profesional. Langsung buka toko besi dan bangunan. Ia hutang modal ke bank hingga lebih dari 100 juta.
Hutangan modal turun, ia langsung tancap gas sewa ruko. Dalam hitungan bulan berdiri toko besi dan bangunan lengkap dengan kasir dan karyawan. Langsung jadi, langsung sempurna.
Anda punya android harga 4 jutaan, dipasangi baterai android harga 15 jutaan, kira-kira nyala, tidak? Pasti error.
Dirinya baru lulus S1, lantas jadi guru honorer dan karyawan TU. Guru honorer itu gaji pertama di bawah 500 ribu, itu energi baterai finansial yang ia miliki.
Penghasilan 500 ribu sebulan, kalau diwujudkan omset ya sebulan paling memutarkan uang 5 juta, bukan 100 juta.
Dan betul, hanya 5 bulan toko besi dan bangunanya jalan, setelah itu ambruk hanya bersisa hutang ratusan juta.
Di sini jebakan pebisnis terlilit hutang bermasalah karena ia tidak bisa mengukur energi finansialnya. Baru lulus S1, lantas jadi guru honorer dengan gaji 500 ribu.
Pedagang punya penghasilan 500 ribu per bulan, ya paling-paling putarkan omset sekitar 5 juta tiap bulannya.
Seharusnya kerabat saya tersebut kalau ingin stabil dalam bisnis, ia hutang modalnya 5 juta, bukan lebih dari 100 juta.
Energi finansial 500 ribu, dipaksa mengoperasikan energi omset 100 juta, pasti error, ibaratanya baterai android harga 4 jutaan dipaksa mengoperasikan android harga 15 jutaan.
Ini yang menjebak para pebisnis terlilit hutang bermasalah, ia tidak bisa mengukur energi finansialnya sendiri.
Kerap para pemilik mental bisnis terjebak di sini, bahkan hingga milyaran hutangnya, ini karena tidak bisa ukur energi finansialnya.
Ada teman saya yang lain, ia sudah bagus sekali punya 1 restoran, stabil sekali. Stabil operasikan 1 restoran ya omset sekitar 100 juta per bulan dengan penghasilan bersih 10 – 15 juta.
Ia tergesa-gesa bikin cabang di banyak kota. Butuh energi omset milyaran untuk mendirikan dan mengoperasikan banyak restoran. Dan benar, ia tarik banyak investor dengan sistem bagi hasil.
Energi finansialnya—diukur dari penghasilan bulanannya sekitar 10 – 15 juta dengan omset 100 jutaan—langsung operasikan energi omset milyaran, hasilnya hancur-lebur.
Karena itu Anda harus ukur energi finansial Anda kalau mau hutang modal bisnis.
Rumus mengukurnya? Ya lihat penghasilan bulanan Anda. Dari penghasilan Anda, entah penghasilan jadi karyawan, jadi pegawai, jadi pedagang atau apa pun profesi Anda, lalu dikira-kira kalau dari dagang, penghasilan segitu dihasilkan dari omset berapa.
Misal diri Anda seorang dosen PNS, gaji 8 juta. Hasil 8 juta, kalau dagang berarti operasikan omset sekitar 80 juta. Itu berarti andai si dosen mau bisnis dengan modal hutang, ia mampu hutang modal dengan kurs di bawah 100 juta.
Paham ya?
Dengan mengukur energi finansial diri insyâ-a-llâh hutang modal bisnis tidak bermasalah. Lalu kalau ingin besar, ya naik dengan bertahap, jangan ujug-ujug bres.
Indomaret ketika bikin cabang dalam sekejap jadi, langsung lengkap langsung profesional, tapi itu karena energinya sudah besar, sudah kuat operasikan energi trilyunan. Andai saya yang diserahi Indomaret, pasti langsung guling.
Semua harus bertahap, pelan tapi konsisten. Saya pengusaha, dan modalnya selalu hutang, tapi hingga detik ini semua lancar.
Asli, 8 tahun lalu saya mulai hutang untuk modal dari 2,5 juta, usaha kecil-kecilan, tapi itu terukur energinya karena penghasilan saya waktu itu 500 ribu per bulan. Ya stabil.
Setelah lolos 2,5 juta, dan bertahap penghasilan naik, saya mulai berani hutang modal 5 jutaan. Beberapa tahun kemudian berani 20 juta. Sesudah stabil, berani di atas 50 juta hingga dekati 100 juta. Lancar semua.
Cuma setelah stabil di energi 100 juta, beberapa tahun lalu, saya sudah merasa cukup, jadi saya stop hutang modal. Sekarang kalau mau tambah modal, saya pilih sisihkan uang.
Anda punya hutang bisnis untuk modal lalu bermasalah? Itu karena baterai android harga 4 juta dipaksa mengoperasikan android harga 15 juta.
Kalau sudah kadung terlilit hutang, bagaimana? Hutang ya harus dilunasi. Bayar! Nggak ada uang buat bayar? Ya selamat modar. Hutang elo ya pikir sendiri lah nglunasinnya, masa gue yang harus mikir, ![]()
![]()
![]()
Itu jebakan hutang pebisnis.
Kalau ASN dan karyawan, biasanya yang terjebak hutang itu mereka yang gemar bolos kerja dan tidak disiplin kerja.
Kebetulan saya di pondok pesantren menjabat Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) yang kerap menangani guru dan karyawan yayasan.
Guru dan karyawan yang bermasalah dengan hutang itu kebanyakan mereka yang suka bolos dan tidak disiplin kerja.
Orang kalau suka menganggur pikirannya jajan melulu untuk mengisi waktu kosongnya. Efeknya mereka jadi konsumtif dan hedonis.
Dulu saya kerap bingung, gaji sudah sama, satu anteng-anteng saja, yang satu kemerungsung duit terus, terjerat hutang lah, korupsi infak kelas lah, pakai duit tabungan siswa dan macem-macem.
Saya teliti, guru dan karyawan yang kemerungsung duit itu karena rezeki mereka tidak berkah dikarenakan efek suka bolos dan tidak disiplin kerja.
Anda ASN atau karyawan yang banyak hutang? Pasti masalahnya hobi bolos dan nunda-nunda kerja. Dicabut itu berkah rezekinya.

Leave a Reply