Anda mau-maunya bersabar yang artinya membetah-betahkan diri dengan realita yang Anda sebenarnya tidak betah. Kenapa Anda mau bersabar? Tentu karena di balik hati Anda masih bisa menyaksikan ada harapan-harapan baik tertentu.

 

Demikian pula Anda mau berjerih-payah mengubah nasib hidup, mau belajar tanpa lelah, mau berkorban diri, kadang sudah sampai hendak putus asa tapi masalah yang Anda hadapi masih disambung-sambungkan dengan wisdom-wisdom bermakna sehingga keterputusasaan Anda dapat ter-pending, lalu Anda mencoba tetap kuat dan terus menguatkan diri. Kenapa Anda mau sedemikian hebat bertahan dalam komitmen melangkah? Tentu karena masih ada harapan baik yang bisa disaksikan dalam hati Anda.

 

Anda mau bergerak sekolah cari ilmu, mau bekerja pagi hingga malam, mau berbisnis dengan jatuh bangunnya, mau melamar cinta, dan lain-lain itu karena di dalam hati Anda ada secercah harapan.

 

Seekor kuda delman tidak punya harapan apapun dari kerja kerasnya berlari, kecuali mengikuti nalurinya sebagai hewan tranportasi. Karena tak ada harapan dalam dirinya, kerja keras kuda delman tak pernah membawa perubahan bagi hidupnya, tidak ada kuda miskin kemudian kaya raya gara-gara kerja keras lari. Beda sekali dengan Anda, kerja keras Anda bisa mengubah hidup itu dikarenakan ada harapan di dalam hati Anda.

 

Boleh disebut, pertumbuhan hidup Anda itu bergantung pada harapan-harapan Anda. Tanpa harapan, hidup Anda berarti mati.

 

Harapan sebenarnya sistem pengkhianatan hati Anda pada penerimaan masa kini. Anda di masa kini sedang hadapi pahitnya patah hati ditinggal nikah cewek Anda, namun Anda coba mengkhianati masa kini dengan harapan untuk masa mendatang dengan berharap, “Kutunggu jandamu,” itu artinya hati Anda meloncat ke masa depan, hidup di masa depan, sementara masa kini dikhianati oleh hati Anda.

 

Namun demikian, sekalipun harapan adalah pengkhianatan hati pada masa kini, namun adalah doa yang dijanjikan ijabah oleh-Nya.

 

Karakter kehambaan dalam diri Anda, tentu jadikan Anda punya batas daya dan upaya, yakni batas di mana Anda tak berdaya lagi kecuali berserah pasrah pada-Nya.

 

Saat Anda berserah pasrah berarti Anda berada dalam keadaan kosong.

 

Nah segala hal yang kosong itu apapun bisa mengisinya. Gelas kosong bisa diisi racun, bisa diisi madu, bisa air mineral, bisa batu, dan seterusnya.

 

Dengan harapan baik itulah kekosongan hati Anda diisi dengan sesuatu yang Anda kehendaki. Mau madu? Ya beri harapan madu.

 

Kuda delman yang kebablasan kosong tanpa harapan-harapan baik, hidupnya utuh tanpa perubahan sekalipun ia telah kerja keras.

 

Harapan itu doa. Doa dijanjikan ijabah. Iya Tuhan janjikan ijabah, namun konsekuensi Tuhan dalam ijabah-Nya tentu mengikuti mekanisme konsistensi Anda dalam doa.

 

Umpama Anda berdoa mohon dimudakan lagi usianya, kembali ke masa ABG. Iya betul itu doa dan harapan yang dijanjikan ijabah, namun doa Anda itu tidak konsisten dengan hukum alam, maka ijabah doa semacam ini adalah ijabah dengan “ketidakmungkinan terjadi”.

 

Sama halnya Anda berharap, Tuhan janjikan ijabah atas harapan Anda, namun harapan Anda itu menetapi mekanisme konsisten, apa tidak?

 

Umpama berharap, “Kutunggu jandamu,” ternyata si cewek sudah menikah dengan pria yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih mapan, lebih tanggung jawab, lebih mulia kepribadiannya dari Anda, maka konsekuensi pengabulan harapan, “Kutunggu jandamu,” itu sangat mungkin sekedar tamannî (angan-angan) saja.

 

Karena itulah Ibn Athaillah As-Sakandarî memberi koridor tentang harapan,

 

الرَّجاءُ ماَ قاَرَنهُ عملٌ وِالاَّ فهُوَ اُمْنِيَّةٌ

 

“Sebuah Harapan harus disertai amal perbuatan. Jika tidak, maka akan menjadi angan-angan saja.”

 

Jadi jelas, harapan itu cirinya disertai sikap konsisten dalam ikhtiyar. Jika tidak ada konsistensi atas harapan itu artinya harapan Anda sekedar pengkhianatan hati atas keadaan di masa kini. Tapi ya lumayan bisa buat menghibur diri, namun rawan halunisasi.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *