Saya kerap peringatkan keras kepada para peserta kelas Servo Prosperity untuk tidak ugal-ugalan belanjakan harta.
Saya sadar, di kelas online Servo Prosperity ataupun kelas offline Spiritual Prosperity, saya banyak menyadarkan para peserta untuk melepaskan harta, materi Shiva Mechanism dan Illution Money, itu semua materi-materi training penyadaran bahwa harta makin dibelanjakan makin beranak-pinak.
Tapi ya itu, ada saja yang mabok, lalu ugal-ugalan traktir teman, ugal-ugalan shoping, ugal-ugalan turuti kebutuhan rumah tangga, dan lainnya.
Dikira menarik kekayaan itu seperti pasang togel, spekulasi nomor, lalu pasang dan keluar, tanpa butuh proses kesadaran diri. Kalau kesadaran dirinya belum pas dengan kesadaran prosperity, ya malah bubaran semua.
Dulu saya saksikan Ustadz Yusuf Mansur berpropaganda sedekah penarik rezeki di televisi, saya praktek, lah malah hilang duit saya. Itu bukan ajarannya Yusuf Mansur yang salah, karena ajarannya memang tertera jelas dalam Al-Qur’an, tetapi kesadaran saya sendiri yang belum sampai ke sana. Hasilnya saya sedekah besar-besaran malah seperti buang duit.
Karena itu kalau ketahuan sama saya ada peserta yang mabok belanjakan harta langsung saya tegur keras, “Cukup praktekan dulu apa yang disarankan dalam training, minimal konsisten hingga 6 bulan ke depan. Jangan ngugal nambah-nambah praktek sendiri. Kalau kesadarannya belum pas, Anda cuma akan buang-buang duit. Sebab mengeluarkan uang itu hakikatnya keluarkan energi, kalau kesadaran kayanya lemah, maka mengeluarkan uang dengan ekstrem akan menyakiti diri sendiri.”
Nalarnya begini, Nabi S.A.W ajarkan baca Istighfar, baca Surat Al-Waqi’ah, shalat Dhuhâ sebagai amaliah penarik rezeki. Namun begitu Anda amalkan sekali dua kali, apa iya rezeki Anda kemudian membludak dan melimpah ruah? Ya enggak.
Itu karena kesadaran Anda belum sinkron dengan kesadaran prosperity, disebabkan baru sekali dua kali lakukan aksi. Ketika baru sekali dua kali yang naik ke hadirat-Nya masih syahwat duit, masih penuh nafsu keserakahan, nafsu kemalasan, nafsu cari instan, dan seterusnya.
Untuk menetralkan nafsu-nafsu tersebut perlu proses training panjang yang butuh waktu dan pengorbanan.
Setelah melampoi training kehidupan yang panjang yang tentu melelahkan dan penuh zig-zag, kemudian kesadaran Anda baru termurnikan dari syahwat duit.
Makanya yang amalkan baca Istighfar, baca Surat Al-Waqi’ah, shalat Dhuhâ sebagai amaliah penarik rezeki tidak ada yang beri testimoni amalkan dalam waktu singkat kemudian terbukti menarik rezeki. Rata-rata testimoninya mengamalkan dengan konsisten dalam waktu lama.
Demikian pula kalau Anda amalkan LoA (Law of Atraction), amalkan sedekah Shubuh, amalkan belanja happy, amalkan sakhawah nafsi (kedermawanan diri), mekanismenya sama, sekali dua kali ya baru syahwat menarik duit saja yang naik kepada-Nya, masih panjang waktu konsistensinya untuk ijabah.
Jadi ya jangan mabok. Diajari sedekah penarik rezeki, mabok sedekah. Diajari belanja penarik rezeki, mabok belanja. Diajari keluarkan harta, mabok pengeluaran. Diajari menabung, mabok kumpulkan harta.
Mabok menarik uang itu tanda Anda bersyahwat pada uang. Di dimensi mabok tersebut, Anda sedekah ugal-ugalan itu hukum energinya sama dengan korupsi dan pasang togel, sebab sama-sama dipicu getaran ingin hasil tanpa proses kesadaran bertahap. Kalau korupsi jadikan pelakunya miskin, sedekah ugal-ugalan begitu juga menarik kemiskinan yang sama karena hukum energi yang digetarkan sama.
Proses dan proses, sabar dan sabar, praktek dan praktek, karena kekayaan dan keberlimpahan itu proses kesadaran Anda sendiri. Dari miskin menjadi kaya itu yang diubah hanya kesadaran Anda. Untuk berubah kesadarannya, Anda perlu berproses lama, kalau kekayaannya sendiri cuma butuh waktu menitan datangnya.
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Q.S. Al-Baqarah : 214)
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity Word
Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply