Doa (Arab; du’â) pada dasarnya memerintah, hanya saja bila perintahnya dari bawahan kepada orang di atasnya maka disebut doa. Anak memerintah kepada orang tuanya itu disebut doa.

 

Ketika perintah itu datang dari atasan kepada orang di bawahnya, atau datang dari orang yang setara maka disebut amr (perintah).

 

Jadi doa itu pada hakikatnya memerintah, atau menyuruh dan atau meminta, hanya doa itu memerintahnya hamba kepada tuannya.

 

Anda kepada guru menyuruh, “Pak, hapus tulisan di papan tulisnya, ya?” Itu murid kurang ajar, tidak?

 

Praktek doa sangat rawan dengan kekurangajaran seperti perintah murid kepada gurunya di atas. Demikian pula doa hamba kepada Tuhannya juga rawan demikian. Misal saja, tahu-tahu Tuhan sebagai Zat yang menjamin rezeki, artinya di situ ada semacam sertifikat hitam di atas putih kalau Tuhan menjamin rezeki Anda, eeh Anda malah menyuruh-nyuruh Tuhan untuk melimpahi rezeki-Nya dengan luas kepada Anda. Kurang ajar, tidak? Serakah kepada jatah dari Tuhannya, ditambah seolah tidak percaya dengan jaminan-Nya.

 

Namun setiap makhluk memiliki insting bersandar kepada sesuatu yang lebih super dari dirinya. Sejak bayi Anda kan nangis ketika bangun tidur mencari ibu atau ayah Anda, itu karena sejak Anda bayi Anda sudah diprogram insting bersandar kepada orang yang Anda anggap lebih super sebagai pelindung dan pemelihara diri Anda.

 

Karena itu Anda auto sebut-sebut zat yang Anda anggap lebih super dari diri Anda ketika Anda hadapi ketakutan-ketakutan. Anda auto baca doa-doa religi ketika Anda ketakutan dihadang hantu. Tidak pernah ingat bacaan Istighfar, tiba-tiba Anda auto membacanya ketika dihadang kuntilanak, itu karena Tuhan yang Anda kenali dari agama Anda itu yang Anda anggap maha super untuk lindungi Anda dari celaka.

 

Dari titik ini Anda tidak bisa lepas dari mekanisme doa, bahwa Anda tidak bisa menafikan diri dari “menyuruh” pada-Nya, setiap saat Anda butuh pada-Nya.

 

Satu sisi doa itu kurang ajar, satu sisi doa itu kebutuhan hamba yang tidak bisa dinafikan karena itu sunnatullah yang tidak bisa digantikan lagi. Paradox.

 

Pada dasarnya ketika murid masuk kelas lalu diajari ilmu oleh gurunya, itu murid sedang menyuruh kepada gurunya untuk diajari. Tapi etis kan?

 

Murid yang kurang ajar kepada guru itu tentu murid nakal yang tidak beradab. Murid model begini berpotensi menyuruh gurunya tanpa adab. Bisa-bisa disuruh hapuskan papan tulis malah gurunya yang dibentak balik suruh hapus sendiri.

 

Jadi persoalan hamba berdoa kepada Tuhan bisa menjadi doa (permohonan) atau amr (perintah) itu tergantung kepada adab si hamba.

 

Adab terhubung dengan rasa hati. Pemilik hati yang rendah tentu tidak akan tunjukan adab buruk karena disetir situasi hatinya yang baik.

 

Doa itu bisa menjadi hal buruk yakni berenergi “nyuruh-nyuruh Tuhan” ketika diunggah oleh rasa hati yang penuh ego. Sebaliknya doa bisa menjadi hal baik yakni berenergi “memohon” ketika diunggah oleh rasa hati yang penuh rasa kehambaan.

 

Sebab itu hampir semua ajaran spiritual mengajarkan pelepasan ego, pengosongan diri, pengendalian nafsu, pemurniaan jiwa, dan lain-lain, karena dengan cara-cara itulah rasa hati manusia jadi terbangun rasa kehambaan. Rasa hati baik, adadnya baik, efeknya setiap doanya berenergi permohonan.

 

Jadi yang perlu disadari adalah Anda berdoa dengan rasa kehambaan, atau berdoa dengan rasa keegoisan. Doa dengan rasa kehambaan hasilnya permohonan. Doa dengan rasa keegoisan hasilnya menyuruh-nyuruh dan memerintah Tuhan.

 

Anda yang dalam perasaan bersalah kepada orang lain tentu akan bersikap rendah hati, sebab rasa bersalah itu yang kemudian meluluhkan ego-ego diri. Beda dengan Anda yang merasa benar, merasa kuat, atau merasa besar.

 

Karena itu untuk bangun rasa kehambaan pada-Nya, dimana rasa kehambaan tersebut yang akan antarkan doa Anda menjadi permohonan, Anda pun perlu membangun rasa rendah hati kepada-Nya.

 

Istighfar ini sebuah terapi bagaimana Anda melatih hati Anda untuk rendah hati pada-Nya, hati Anda menjadi lentur karena merasa banyak kesalahan dan ketidaktaatan.

 

Jadi perbanyaklah baca Istighfar agar doa-doa Anda, keinginan-keinginan Anda, kehendak-kehendak Anda, tidak berenergi menyuruh-nyuruh Tuhan, tapi sebaliknya berenergi menghamba dan memohon.

 

Nabi Sulaiman sosok yang memiliki ambisi besar, punya kerajaan pun beliau berkeinginan menjadi kerajaan besar yang tidak pernah ada lagi kebesarannya sesudah beliau. Ambisius kan?

 

Namun Sulaiman seorang shaleh yang hatinya penuh rasa kehambaan, akhirnya ambisi besarnya menjadi amal shaleh baginya, bukan menjadi keangkuhan.

 

Anda amati doa ambisius Sulaiman berikut ini;

 

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

 

Artinya: “Sulaiman berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S. Shâd : 35)

 

Sulaiman awali doanya dengan permohonan ampunan (Istighfar), sebuah rasa hati yang terbangun penuh kerendahan hati, penuh rasa kehambaan.

 

Sehingga Anda kalau ingin doanya berenergi “memohon”, maka perbanyaklah Istighfar dalam hidup Anda.

 

Saya sendiri baca Istighfar minimal 1000 kali setiap hari, ya karena sadar saya masih banyak keinginan, tapi saya tidak mau dimurkai-Nya lantaran menyuruh-nyuruh-Nya, karena itu saya perlu mengubah getaran energi doa dan keinginan saya menjadi energi permohonan.

 

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

 

Artinya; “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat”. (Q.S. Hûd : 3)

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

 

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *