“Saya ini, Gus, jika baru ikuti kelas training Gus Banan, atau ikuti konten-konten online Gus Banan, saya selalu termotivasi. Tapi saya kerap sedih, hari ini saya konsisten, besok mogok. Biar istiqamah bagaimana sih, Gus?” Tanya seorang alumni kelas training saya.
Shirâthal mustaqîm (jalan lurus) itu bukan berarti tidak berkelok-kelok, tanpa hambatan, tanpa naik turun. Coba Anda dari tempat Anda berada, Anda jalan lurus ke Timur dengan tujuan Surabaya, tanpa belok, tanpa berhenti, tanpa menanjak, tanpa turunan, apa akan sampai?
Untuk sampai di Surabaya, Anda harus belak-belok, maju-mundur, menanjak-menurun, kadang harus berhenti, dan sebagainya, di situ Anda baru bisa sampai di alamat.
Demikian halnya shirâthal mustaqîm, Anda perlu taat dan maksiat, senang dan sedih, gembira dan susah, takwa dan durhaka, marah dan mengasihi, dan itulah jalannya untuk lurus.
Namun itu jalan saja, tujuannya bukan belak-belok terus. Tujuannya sampai di alamat.
Kalau shirâthal mustaqîm diartikan hanya jalan tol yang lurus, nanti Anda merasa paling lurus, bisa-bisa merasa jadi “ustadz garis lurus”, menghakimi segala hal yang dinilai bengkok, karena tidak sadar kalau shirâthal mustaqîm itu garis bengkak-bengkok, naik-turun dan lengkang-lengkung dan kadang juga harus garis lurus.
Jadi manusiawi, Anda naik-turun emosi dan spiritualnya karena begitu adanya mekanisme shirâthal mustaqîm. Komitmen kepada tujuan husnul khatîmah itulah yang akan membawa Anda di titik shirâthal mustaqîm, sekalipun jalannya kelak-kelok, menanjak-menurun, macet dan lancar, ngebut dan pelan, mogok, dan seterusnya.
Istiqamah itu artinya tegak berdiri. Iya jalan tempuhnya harus lewati shirâthal mustaqîm yang kelak-kelok itu, namun sekalipun kelak-kelok, menanjak-menurun, mogok dan lancar, berhenti dan jalan, asalkan tetap konsisten dengan tujuan ke masa depannya ya itu yang disebut istiqamah.
Waktu bujangan saya memang punya cita-cita ingin jadi public speaker dan writer. Saya perjuangkan 3 tahunan belum gol juga. Sampai akhirnya saya menikah. Usai nikah saya malahan dagang. Cita-cita saya ini pun terbengkalai begitu saja.
Terbengkalai karena dagang, namun minat saya masih ada, sebab minat terbesar saya memang bukan bisnis, lebih dominan ke arah minat ilmiah dan publik. Di situ saya berhenti, tidak lanjutkan menempuh cita-cita baik menuju public speaking maupun writer.
Namun ternyata karena memang minatnya dari dulu kepada public speaking dan writer, sekalipun ikhtiyarnya sudah berhenti, ternyata sesudah saya lupa, eeh malah ijabahnya datang sendiri. Dan sederhana sekali ijabahnya, cuma main fb-an kok malah diijabah cita-cita yang dulu pernah saya perjuangkan dengan penuh ketekunan.
Anda sekarang paham, kan? Kurang lebih begitulah yang disebut istiqamah.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ە ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ﴿۷﴾
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. Al-Fatihah : 6 – 7)
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity Word
Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply