Karakter urusan dunia itu multiverse, yakni majemuk dan beragam.
Sementara alam semesta ini dicipta dengan karakter universe yakni tunggal. Diri Anda ada berapa? Ada satu. Bulan ada berapa? Satu. Matahari berapa? Satu. Bumi berapa? Satu. Samudera Hindia ada berapa? Satu.
Diri Anda dengan identitasnya masing-masing itu tunggal, tidak sama antara satu dengan yang lain, sehingga Anda diwarisi identitas khas yakni sidik jari, di mana sidik jari Anda tidak dapat diduplikasi.
Ya alam semesta ini ciptaan-Nya, sehingga ayat-ayat keberadaan Zat-Nya nyata ada di alam semesta ini. Kalau Dia Sang Maha Tunggal yang Wahdahu Lâ Syarîka lahu; maka ayat-ayat-Nya juga nyata ada.
Sehingga karakter multiverse urusan dunia ini berlawanan ekstrem dengan karakter alam semesta yang uni-verse, termasuk karakter diri Anda sendiri yang tunggal.
Hati Anda kerap bising kan, karena pikiran Anda kerap ditarik untuk memikirkan banyak hal? Setiap hari, Anda pasti dihadapkan dengan masalah yang silih berganti. Selesai satu, muncul masalah baru. Malah terkadang, masalah yang satu belum selesai, Anda berhadapan lagi dengan masalah yang lain.
Ibaratnya, hidup itu kayak runtutan masalah yang tidak habis-habis. Bahkan, jalan keluar dari sebuah masalah saja, kerap mendatangkan masalah lain yang bisa jadi lebih berat.
Sebab itu tubuh Anda perlu menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia yang multiverse, sejenak kembali kepada diri Anda sendiri yang tunggal, kembali kepada alam semesta yang uni-verse, kembali kepada Pencipta Anda yang Maha Ahad.
Anda sehabis zikir tentu dapatkan ketenangan hati, karena zikir itu usaha agar pikiran untuk hanya terkoneksi pada satu Zat, yakni Asmâ Allah. Anda sehabis meditasi juga hati menjadi tenang karena meditasi itu usaha untuk hanya terkoneksi dengan satu gerak alam, misal hanya terkoneksi dengan gerak keluar-masuknya nafas.
Ketenangan hati sesudah zikir ataupun meditasi karena Anda menarik pikiran Anda kepada hakikat tunggal alam semesta, yakni fokus ke satu titik yaitu fokus “ingat Allah” ataupun fokus “sadar nafas”.
Nabi Muhammad S.A.W yang fardhu dalam sehari 5 kali menyingkirkan diri dari hiruk-pikuk dunia, dengan hanya hening mengingat Tuhannya, yakni dengan shalat.
Setiap shalat Nabi S.A.W mengistirahatkan pikirannya, karena itu beliau mengaku kalau shalat beliau adalah istirahat beliau. Beliau jika sedang menyuruh sahabat Bilal untuk iqamat shalat, beliau memerintahkannya dengan, “Bilal, Istirahatkanlah kami?
“ يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا ”
“Wahai Bilal, segera iqamat lah, istirahatkan kami dengan shalat,”. (H.R. Abu Dawud)
Setiap shalat Nabi S.A.W merilekskan diri. Tentu kualitas shalatnya Nabi S.A.W adalah shalat khusyuk.
Bahkan shalat itu bagi Nabi S.A.W adalah “qurratu ‘ain” (penenang hati).
حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ
“Diberikan rasa cinta kepadaku dari dunia; wanita dan wewangian dan dijadikan penenang hatiku di dalam shalat”. (H.R. Ahmad)
Anda kan kerap kalau sedang shalat, badan sedang baca Al-Fatihah tapi beda dengan yang pikiran Anda yang sedang pikirkan duit? Di situ Anda tidak bisa hadir dalam shalat karena tindakan dan pikiran tidak menyatu. Shalat begitu tidak punya kualitas “istirahat”.
Menurut Imam Al-Ghazali, untuk masuk ke level khusyuk harus berlatih dulu di level “khudhûrul qalbi (kehadiran hati). Khudhûrul qalbi cukup dengan sadari saja. Misalkan Anda sedang Takbîratul Ihrâm ya sadari sepenuhnya Anda sedang baca Takbîratul Ihrâm dengan tangan terangkat lalu bersedekap. Dan terus begitu, cukup berusaha sadari setiap gerak dan bacaan shalat.
Demikian pula cara hadirkan hati (khudhûrul qalbi) ketika Anda zikir ataupun meditasi.
Tehnik khudhûrul qalbi ini kalau dalam ilmu pemberdayaan diri disebut tehnik mindfullness.
Yang jelas dalam 24 jam tubuh Anda perlu d
irelekskan dengan cara “kembali kepada hakikat diri Anda yang tunggal, kepada alam semesta yang uni-verse dan kepada Tuhan yang Maha Ahad”. Dalam sehari semalam perlu ada waktu Anda perlu menyingkir dulu dari hiruk-piruk isi dunia yang multiverse.
Kalau tidak memberi kesempatan kepada pikiran untuk menyingkir, artinya pikiran Anda tidak pernah diistirahatkan. Akibatnya tubuh Anda—baik kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan rezeki—mudah remuk dan rapuh.
Caranya bebas, mau dengan shalat, mau dengan zikir, mau dengan meditasi, yang jelas walaupun hanya satu jam ada waktu untuk rehatkan diri, hadir penuh ke alam uni-verse. Paling lazim pada sepertiga malam terakhir.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity Word
Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply