عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

 

“Dari Asma’ bahwa Rasulullah S.A.W bersabda, “Belanjakanlah (hartamu) dan jangan kamu hitung-hitung karena nanti Allah akan berhitung kepadamu dan jangan kamu tutup rapat guci tempat menyimpan makanan karena nanti Allah akan menutup rezekimu”. (H.R. Bukhari)

 

Hadits di atas jelas sekali menerangkan, perusak rezeki itu ada 2;

 

1. Menghitung-hitung ketat keluar-masuknya uang.

 

Rezeki itu diunduh dengan perasaan, bukan pakai ilmu, bukan pakai tenaga, bukan pakai pikiran, bukan pakai talent, bukan pakai kerja, bukan pakai marketing, tapi pakai perasaan. Karena itu yang didorongkan untuk melimpahkan rezeki adalah rasa syukur, rasa tawakal, rasa takwa.

 

Karakter perasaan itu karakter qalbu (hati). Hati berkarakter muqallib atau gonta-ganti rasa. Apa Anda bisa merencana berapa persen cinta Anda pada suami di nanti sore? Bisa-bisa Anda merencana cinta, malah nemunya marah lalu bertengkar.

 

Artinya Anda tidak punya kemampuan mengontrol perasaan, sore direncana cinta mati pada suami ternyata dapatkan kemarahan, siapa bisa menjadwalkan situasi perasaan?

 

Perasaan juga tidak ada takaran volumenya, Anda tidak bisa mengukur pakai kilometer, kubik, celcius, persen, dan seterusnya. Artinya karakter perasaan itu tidak dapat diukur dan dianggarkan.


Perasaan sangat berbalik karakter dengan uang. Kalau uang karakternya bisa dihitung, dikurs, dikalkulasi, dijumlah, bahkan bisa direncanakan dan dianggarkan.

 

Uang bisa dihitung-hitung dan direncanakan karena benda material, namun timba yang digunakan mengunduh uang adalah perasaan yang karakternya berbalik. Makanya kalau Anda suka menghitung-hitung keluar-masuknya uang, perasaan Anda jadi matre, perasaan jadinya dibatasi oleh uang, dipengaruhi oleh karakter uang.

 

Kalau uang bisa dihitung, sementara alat pengunduhnya adalah perasaan yang sudah dipengaruhi oleh uang yang terbatas, akhirnya perasaan itu terunggah kepada Allah sebagai “zhann”; sebagai persangkaan kepada-Nya, padahal Tuhan sesuai persangkaan hamba kepada-Nya. Kalau Anda berhitung uang kepada-Nya, rezeki yang diturunkan-Nya juga sesuai hitungan Anda.

 

Sehingga jelas, di sini Nabi S.A.W berpesan,

 

وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

 

“Janganlah kamu hitung-hitung, nanti Allah akan berhitung kepadamu.”

 

Saya sudah lama tidak pernah lagi perhatikan nota pembayaran, lama tidak tahu harga-harga. Nota pembayaran cuma saya terima, lalu tanpa saya lihat apalagi saya perhatikan, terus saya buang.

 

Memperhatikan harga-harga itu sangat membatasi persangkaan Anda pada rezeki berlimpah kepada-Nya.

 

Ada orang yang gemar audit keuangan rutin tiap bulan, diingat-ingat uang yang keluar kemana saja, uang yang masuk darimana saja, hapal sekali itu warung mahal, itu warung murah, hapal harga-harga barang. Akhir bulan kumpul-kumpulkan nota, lalu dicek ada cashflow apa tidak. Kesalahan belanja dimana, kesalahan pengeluaran dimana, semua diaudit.

 

Hehehe Allah yang turunkan rezeki oleh Anda diperlakukan seperti barang dagangan yang harus diaudit marketingnya.

 

Kalau Anda hitung-hitung dengan Allah, Dia akan berhitung sesuai prasangka Anda kepada-Nya.

 

Hitung-hitung atau ilmu tentang kalkulasi, arus kas, cashflow, dan lain-lain itu ilmu bisnis. Kalau dalam dagang harus dihitung dan diaudit. Tapi kalau untuk uang pribadi, emang Anda sedang dagang kepada Tuhan?

 

2. Menutup rapat guci makanan, artinya menyimpan harta.

 

Bukan karakter harta disimpan, karakternya justru dialirkan.

 

Allah Maha Al-Ghaniyy, Dia Maha Kaya karena Dia selalu alirkan rezeki-Nya untuk semua makhluk-Nya. Rezeki di sisi-Nya hingga tak tersisa karena dialirkan semua. Namun keadaan itu justru jadikan Dia Maha Kaya.

 

Karena itu wirausaha adalah model cari rezeki yang paling banyak hasilkan uang. Sebab dalam wirausaha penuh resiko pembayaran, resiko alirkan uang. Harus kulakan, harus bayar karyawan, harus bayar pajak, harus biayai promosi, harus modal ini dan itu, uang terus saja mengalir.

 

Masjid uangnya sedikit, karena sistem keuangan masjid terbatas, karena memang masjid tjdak bertujuan bisnis. Paling biayai listrik dan air. Tidak ada sistem gaji untuk imam, khatib, muadzin, dan lain-lain. Uang tidak banyak mengalir, akhirnya uang masjid terbatas.

 

Karena itu cara miskin ya gemarlah menghambat aliran rezeki, disimpan-simpan, diirit-iritkan, dipelit-pelitkan, dan seterusnya. Itu maksud dari,

 

وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

 

“Jangan kamu tutup rapat guci tempat menyimpan makanan karena nanti Allah akan menutup rezekimu”.

 

Dalam hadits lain,

 

لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ

 

“Janganlah engkau menyimpan harta, nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” (H.R. Bukhari)

 

Ingat ya? Uang iti jangan dihitung-hitung kecuali urusan bisnis. Dan jangan disimpan. Saran Nabi S.A.W dalam hadits di atas, harta itu harus “Anfiqî!” artinya “belanjakanlah”. Belanja untuk cukupi kebutuhan diri sendiri dulu, baru sedekah untuk orang lain. Itu cara rezeki dimudahkan.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *