Kalau Anda masuk toko handphone bayarkan uang 1 juta, Anda cuma dapatkan handphone ram 3/32 GB. Hanphone begini baru unduh 2 aplikasi handphone sudah penuh ditambah super lelet.

 

Namun kalau Anda bawa uang 22 jutaan, Anda dapatkan handphone ram 12/512 GB. Leluasa simpan video, leluasa unduh aplikasi, kamera jernih berkualitas, anti lelet, dan tentu merasa eklusif.

 

Jadi hukum pasar alam semesta itu berbunyi, “Kualitas hidup yang Anda peroleh itu sesuai kualitas yang Anda bayarkan.”

Membayar itu Anda keluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain. Setelah Anda keluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain, baru kemudian Anda menerima sesuatu yang sesuai dengan apa yang Anda keluarkan. Kalau mau bayar tinggi, tentu apa yang Anda terima juga makin berkualitas.

 

Kalau Anda mau terima rezeki dari toko, Anda harus keluarkan sesuatu lebih dulu kepada orang lain. Anda harus beli, atau membangun, atau sewa ruko lebih dulu. Lalu Anda harus punya uang untuk kulakan dan lengkapi fasilitas jual beli di toko. Semua itu disebut modal.

 

Modal itu sebenarnya Anda mengeluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain. Semakin modalnya besar, keuntungan yang bisa Anda ambil dari toko makin besar. Keuntungan yang bisa diambil dari penjual bensin eceran yang modal ratusan ribu dengan SPBU yang modal milyaran, tentu beda jauh. Itu karena beda modal.

 

Jadi modal itu adalah apa yang Anda bayarkan ke alam semesta ini.

 

Karena itu kesuksesan selalu menanyakan jerih payah Anda, makin tinggi jerih payahnya biasanya sukses perolehannya juga makin gemilang. Ketika Anda sedang berjerih payah itu hakikatnya Anda sedang membayar lebih dulu ke alam semesta, sedang keluarkan modal, hanya saja modal dalam bentuk non material.

 

Nah kalau Anda belanja, lalu membayar, itu sebenarnya Anda sedang mengeluarkan sesuatu untuk membayar orang lain alias keluar modal. Kalau modal toko makin besar, keuntungan yang ditarik juga makin besar, maka belanja di dalam hidup Anda juga hakikatnya begitu, makin gede nilai belanja, maka kekayaan yang dapat Anda tarik juga makin besar.

 

Lihat saja orang kaya, belanja rumah harganya milyaran, belanja mobil harganya milyaran, belanja tanah harganya milyaran, belanja tas saja harganya ratusan juta. Bukankah mereka makin kaya raya?

 

Lah orang miskin, beli rumah di bawah 10 juta, beli kendaraan di bawah 5 juta, beli baju di bawah 100 ribu. Bukankah mereka tetap seret saja rezekinya?

 

Itu karena antara orang kaya dan orang miskin selisih kapasitas dalam pengeluaran yang dapat mereka bayarkan kepada orang lain, alias selisih kemampuan kapasitas belanja.

 

Jadi pada dasarnya semua pengeluaran itu penarik rezeki, makin besar pengeluarannya, makin besar pula kekayaan yang bisa ditarik.

 

Jadi orang terbodoh itu orang irit dan pelit yang ingin kaya. Bodoh. Pengeluaran diperkecil artinya modal diperkecil, lalu mau jualan apa? Kalau tidak ada yang dijual, bagaimana bisa peroleh laba? Bodoh.

 

Nah disini, pemboros sebenarnya punya keunggulan luar biasa untuk kaya, karena pemboros itu artinya kerap membayar, kerap keluarkan sesuatu dari dirinya untuk orang lain, potensi berani modalnya itu bagus. Peluang mereka untuk peroleh rezeki berlimpah juga sebenarnya sangat baik, karena punya modal besar, peluang untuk tarik laba kekayaan juga sangat besar.

 

Selamat untuk Anda para pemboros! 🤣🤣🤣

 

Namun kenapa banyak juga para pemboros yang jadikan mereka terpuruk rezekinya?

 

Itu karena mereka disabotase oleh beberapa hal. Di antaranya;

 

1. Rasa bersalah boros.

 

Ya realitanya boros memang teman setan, tapi boros yang tidak memberdayakan, sehingga harta yang dikeluarkan cenderung mubadzir (sia-sia).

 

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

 

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Q.S. Al-Isrâ’ : 26-27).

 

Anda muslim yang terdoktrin babi najis, lalu Anda memakannya bisa muntah-muntah karena jijik, sebab muncul rasa bersalah. Padahal bagi orang Hindu Bali, makan guling babi itu nikmat sekali karena mereka tidak punya rasa bersalah.

 

Nah boros temannya setan itu bisa jadikan Anda punya rasa bersalah keluarkan uang. Kalau punya rasa bersalah, kejadiannya Anda boros jadi muntah-muntah penyakitan.

 

Di sini Anda perlu meluruskan mindsett. Boros itu keburukan, tapi dermawan—baik dermawan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain—itu adalah kebaikan. Padahal boros dan dermawan itu tindakannya sama, aksi yang diperbuat sama, tapi kenapa value-nya berbeda?

 

Itu karena pelaku boros dan dermawan beda kesadaran di balik aksi perbuatannya. Persis shalat Dhuha dan shalat Hajat di jam 8 pagi, value kedua shalat tersebut beda cuma karena digeser kesadarannya saja yakni niatnya, adapun aksi perbuatannya, shalat keduanya sama, doanya sama, rekaatnya sama, rukun-rukunnya sama.

 

Berarti agar aksi boros menjadi dermawan, Anda perlu menggeser kesadaran dirinya saja.

 

Lalu bagaimana menggeser kesadaran? Belajar, menuntut ilmu kesadaran.

 

Anda hanya karena baca tulisan saya ini bukankah kesadaran Anda tentang mengeluarkan uang jadi berubah? Ya di situ, kalau boros Anda mau menjelma jadi dermawan, Anda harus gemar belajar ilmu kesadaran diri.

 

Nah kalau tindakan Anda keluarkan uang sudah diiringi ilmu kesadaran keberlimpahan, tentu rasa bersalah ketika Anda suka boros itu hilang, berganti jadi rasa dermawan, Anda pun jadi tidak muntah-muntah, artinya boros Anda jadinya tidak memelaratkan.

 

2. Salah sugesti pada uang yang dikeluarkan.

 

Boros itu tindakan mengeluarkan uang, namun diri Anda meyakini kalau mengeluarkan uang adalah mengurangi harta. Nah di situ sugesti keyakinan Anda akan benar-benar menarik wujud nyata. Harta Anda pun akan berkurang setiap kali Anda keluarkan uang.

 

Lalu sugestinya bagaimana agar jadi kekayaan? Ya iringi pengeluaran harta Anda dengan sugesti rasa kaya, di antaranya Anda memahami kalau keluarkan harta itu berarti modal membayar yang sedang dikeluarkan. Kalau modal bisnisnya besar, untungnya juga besar. Hal ini jadikanlah mindsett untuk menyugesti keyakinan Anda.

 

3. Salah niat.

 

Orang egois itu menyerap apapun dari luar dirinya untuk kepentingannya sendiri.

 

Dalam keluarkan uang pun sikap egois kerap terjadi. Egois dalam keluarkan uang itu keluarkan uang tapi untuk turuti nafsu kesenangan dan kepuasan sendiri. Ia belanja karena hura-hura, belanja demi turuti hedon, itu semua belanjanya orang yang turuti nafsu diri. Belanjanya salah niat.

 

Lalu bagaimana agar Anda keluarkan uang namun tidak menjadi sikap egois? Ya tinggal ganti niatnya, sadari bahwa Anda keluarkan uang untuk alirkan rezeki kepada orang lain.

 

Umpama Anda beli celdam, niatkan alirkan rezeki kepada si penjual celdam, bukan beli celdam untuk turuti kesenangan belanja.

 

Nah niatkan setulus hati saat Anda keluarkan uang untuk alirkan rezeki kepada orang lain, di situ rezeki Anda akan diganti berkali-kali lipat.

 

Jadi boros itu tidak lah salah, yang salah itu kesadaran dan niat Anda. Kalau kesadaran dan niat telah sesuai getaran kebajikan, niscaya boros Anda itu jadi peluang mengkayakan rezeki.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *