Sebelum baca ini harus baca dulu part 1-nya, “Uang itu Matre; tidak Berharga, tidak Berduit.”
Banyak artis yang karirnya tetap eksis sekalipun ia pernah memiliki rasa malu besar karena video asusilanya. Waktu kasusnya terpublis, terekam kamera saja, si artis sampai tutupi wajahnya saking merasa betapa dirinya tidak berharga.
Andai ia terus-terusan di kondisi psikis demikian; malu, menyesal, menyalahkan diri, merasa berengsek, sudah pasti ia ambruk finansialnya, karena uang paling enggan datangi orang yang berperasaan tidak berharga.
Para artis yang terjerat kasus asusila pasti punya kemampuan mempertahankan diri dari desakan rasa-rasa malu tersebut, dan faktanya hingga detik ini karir para artis tersebut tetap eksis.
Itu juga yang terjadi pada Maria Ozawa. Ia tidak merasa kalau menjadi porn star itu memalukan, profesi yang merusak harga dirinya, justru—barangkali—ia merasa kalau profesi itu adalah passion dan potensi terbaiknya, sebab ini ia makin gaek saja karirnya.
Dinner bareng Miyabi di Jakarta yang kemarin dibatalkan, itu tarif untuk bisa semeja bareng Miyabi 50 juta. Kan wow.
Sebuah hadits Nabi S.A.W mengisyaratkan,
الزِّنَى يُوْرِثُ الْفَقْرَ
“Zina mewariskan kefakiran.” (H.R. Baihaqi & Al-Qudha’i)
Lah kok tidak berlaku kepada orang-orang di atas? Itu dikarenakan sistem ketahanan mentalitas mereka kepada rasa bersalah zina itu kuat, mereka kecil rasa berdosanya, sehingga semalu apapun mereka, tidak sampai merasa tidak berharga.
Sama saja seperti dunia premanisme. Para geng preman itu ketika menganiaya orang lain bukannya merasa berdosa atau menzalimi, justru mereka merasa punya kuasa dan punya rasa hebat. Hasilnya ya banyak mafia yang kaya raya kan?
Jadi intinya uang itu tidak mengenali getaran baik atau buruk, dosa apa pahala, yang dikenali uang hanya getaran perasaan berharga. Itulah matrenya uang, “elu berharga, gue beli.” Otak matre kan tidak bisa lihat baik atau buruk, apalagi lihat value, yang ia lihat cuma wujud luar saja. Uang persis seperti itu.
Ada kisah dari teman saya, ia seorang ibu muda. Suatu ketika ia besuk bayi tetangganya. Si tetangga punya mental inferiority complex; merasa rendah diri dan merasa bermutu rendah karena keadaan hidup yang pas-pasan.
Lucu, besuk bayi tetangga kalau di kampung itu kasih amplop 50 ribu sudah umum, tapi anehnya rombongan teman saya tersebut, pulangnya dikasih amplop balikan berisi 100 ribuan. Serombongan teman saya kaget semua, sebab melihat kondisi ekonomi tetangganya ini yang masih morat-marit banget.
Semua orang paham, pengembalian amplop tersebut bukan digetarkan dari rasa kaya, rasa menghargai orang ataupun rasa dermawan, tapi digetarkan dari rasa inferioritas berlebih, di mana si tetangga yang punya bayi ini punya perasaan sangat takut merepotkan tetangga karena kemiskinannya. Akhirnya serombongan teman saya sepakat uang balikan yang 100 ribu itu dikembalikan lagi.
Coba, dikasih 50 ribu dikembalikan 100 ribu, itu kan perbuatan baik? Namun karena dilatari inferioritas yakni rasa tidak berharga, rasa rendah diri, hasilnya kehidupan finansial si tetangga yang punya bayi tidak pernah dibeli mahal oleh uang, kehidupan hariannya sangat-sangat kekurangan.
Hahaha matre banget ya uang itu? Orang baik dicueki saja karena ia merasa tidak berharga.
Tentu di sini saya mutlak sedang bicara hakikat uang yang sebenarnya, saya tidak sedang mengaitkan dengan spiritual, kebaikan apalagi kesalehan.
Nah tentu yang Anda impikan adalah uang yang ditarik dari kesalehan spiritual kan? Sehingga uang tidak sekedar bernilai materialistik namun juga spiritualistik.
Spiritualistik pun konsepnya sebenarnya sama dengan materialistik yakni rasa berharga. Lah iya, Anda sedekah diumpet-umpetin dari publik, dihindar-hindarkan dari rasa pamer, itu kan demi menghargai nilai diri Anda di depan Tuhan? Artinya agar diri Anda berharga di depan-Nya sampai Anda melakukan hal demikian.
Sampai ada spiritualis yang memegang kuat konsep fanâ, moksa, kesadaran murni, konsep kosong, konsep eneng (diam) atau yang kemarin baru ngetrend konsep sufi malamatiyah dimana harga diri dirusak sedemikian rupa di depan manusia, misal sengaja keluar masuk diskotik agar publik menyangka dia ahli maksiat, walau hakikatnya dia ahli zikir, konsep malamatiyah ini kan ujung-ujungnya juga orang yang sedang berusaha keras agar dia berharga di depan Tuhannya?
Jadi sedemikian rumitnya menjalani lelaku spiritual, ujung-ujungnya sama kan yakni dapatkan rasa berharga, sama-sama sedang jalankan kepentingan diri agar lebih berharga?
Jadi spiritualistik dan materialistik itu sama saja, sama-sama kepentingan ingin berharga.
Selagi mencari rasa berharga, itu uang masih akan membeli. Karena itu mendalami spiritual dengan jalan menghancurkan ego seperti fana, moksa, hening, suwung, diam, tawadhu’, rendah hati, malamatiyah, ‘uzlah, tirakat, riyadhah, mujahadah, memurnikan kesadaran, dan lain-lain itu juga ujung-ujungnya didatangi uang.
Hanya saja catatannya selagi masih mencari nilai harga untuk diri, yakni berharga di depan Tuhannya. Dan ini adalah penghargaan terhadap diri yang paling mulia.
Lalu kenapa Uwais Al-Qarni, Rabi’ah Adawiyah, Al-Hallaj, hidup begitu miskinnya padahal aktifitas hidup mereka adalah mencari rasa berharga di depan Tuhan? Itu bukan uang tidak mau menghargai mereka untuk datang, tapi memang mereka saja yang sudah tidak butuh uang lagi. Sudah malas.
Al-Hallaj sendiri misalkan, ketika hendak dieksekusi mati, ditanyai oleh sahabatnya; As-Syibli, “Guru, zuhud itu apa?” Tanpa menjawab Al-Hallaj meludahi batu, dan seketika batu menjadi emas. Lantas Al-Hallaj berkata, “Itu zuhud,” sembari pandangan matanya menunjuk ke arah batu yang jadi emas.
Artinya Al-Hallaj bukan tidak dihargai uang, batu saja diludahi terus jadi emas, tapi ia yang memang merasa tidak butuh uang. Sama seperti Nabi Muhammad S.A.W yang gunung Uhud bersedia jadi emas untuknya, tapi beliau tidak butuh lagi.
Jadi kalau ada orang mengaku sedang berjalan di jalan Allah kok bilang, “Duit susah dicari,” itu pejalan Allah abal-abal sebab harga tertinggi di kehidupan ini adalah berharga di depan Tuhan, sementara uang yang matre itu sederhana konsepnya, “elu berharga, gue beli.” Kalau sudah berharga di depan Tuhan, masalah uang itu cuma masalah sampah.
Sehingga Anda yang sedang memurnikan diri kepada Tuhan, lanjutkan terus, karena konsep menuju Tuhan justru itu adalah konsep penghargaan tertinggi kepada diri sendiri. Tidak usah khawatir miskin, sebab mau serumit apapun Anda dalam melepaskan ego demi mencari pencerahan-Nya, di situ Anda sebenarnya sedang berjuang untuk berharga. Kapan berharga, pasti dibeli oleh uang.
Dan kalaupun Anda memilih kesalehan spiritual namun Anda masih kesulitan uang, itu karena memang Anda masih kurang shaleh, sehingga prestasi spiritual Anda belum dihargai tinggi oleh uang.
Misal Anda sedekah Shubuh tiap hari, lah kok masih saja kesusahan duit, itu artinya sedekah Shubuh Anda masih kurang istiqamah yang bisa mengukir prestasi berharga di bidang pengabdian kebaikan kepada-Nya. Masih butuh diperjuangkan lagi.
Keunggulannya berharga di depan Tuhan itu melampoi nilai-nilai materialistik, Anda jadi manusia utuh yang bebas merdeka, dikarenakan kalau harga diri yang Anda cipta masih berbasis penghargaan kepada ego diri seperti Maria Ozawa di atas, itu Anda masih mungkin diperbudak uang, karena diri Anda senilai barang yang “elu berharga, gue beli.”
Namun jika rasa berharga yang Anda bangun adalah rasa berharga di depan Tuhan, di situ harga Anda bisa melampoi nilai uang, sebab dalam proses spiritual Anda sedang dibangun jiwanya agar jiwa Anda kaya. Jiwa kaya itulah kekayaan yang sebenarnya. Di titik itu uang tidak lagi sanggup berkata, “elu berharga, gue beli,” tapi Anda yang berkata, “Hai uang, elu butuh gue kan?”
Di part 1 saya sampaikan, banyak orang kaya yang songong dalam bangga diri karena rasa berharganya yang kuat, lalu bagaimana pertaliannya dengan spiritual? Lanjut di part 3.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply