Uang itu makhluk materialistik, karena itu yang menarik uang untuk hadir dalam jumlah besar ataupun kecil adalah nilai harga. Apapun yang sudah tidak berharga secara material, uang enggan-engganan datang. Barang rongsokan selalu dihargai murah, sekalipun itu rongsokan barang mewah, karena rongsokan tidak lagi berharga. Uang itu matre.
Sebuah harga bisa dinilai dari berbagai aspek, bisa dari kualitas, dari manfaat, dari keantikan, dari nilai artistik, dari kebaikan dan lainnya. Yang jelas kalau sesuatu itu dinilai berharga, uang baru berkenan datang, makin nilai harganya tinggi, uang makin agresif mendatangi.
Karena tabiat materialis inilah, uang ketika hendak mendatangi seseorang juga melihat nilai harga pada diri orang tersebut. Seorang presiden karena punya harga lebih tinggi dari gubernur maka presiden dilayani oleh uang dengan lebih baik. Gubernur karena lebih berharga dari bupati, maka gubernur dilayani oleh uang dengan lebih baik. Matre banget, ya?
Kalaupun ada gubernur lebih kaya dari presiden, itu karena faktor khusus, mungkin nilai harga si gubernur di dunia wirausaha, bukan di dunia pemerintahan, punya harga lebih tinggi dari si presiden, misal si gubernur seorang pengusaha kaya dengan 10 ribu karyawan, sementara presidennya hanya punya nilai harga di pemerintahan.
Dan nyebelinnya standar harga yang ditetapkan uang adalah standar harga materialistik. Karena standar harga materialistik ini, uang enteng-enteng saja hargai wanita cantik. Asal cantik saja, tidak usah menilai shalehah atau tidak, berilmu atau tidak, peluang kaya menjadi besar.
Banyak kan lelaki kaya sudah tua, nikahi gadis muda karena kecantikannya? Ya banyak, karena cantik itu nilai harga secara materialistik.
Karena itu uang sangat enggan mendatangi orang yang punya perasaan kalau dirinya tidak berharga.
Anda lihat kondisi mental orang miskin, mereka perasaan berharganya kecil karena secara materistik tidak ada yang dibanggakan. Keadaan hidup dimana tidak ada lagi sesuatu yang dibanggakan sebagai pemicu munculnya rasa berharga, di situlah pemicu utama uang seret.
Dari sisi ilmu, sekolahnya cuma tingkat dasar. Dari sisi usaha, profesinya cuma pedagang kecil. Dari sisi iman spiritual tidak pernah shalat dan puasa. Dari sisi keluarga cuma keturunan balung kere. Dari sisi emosional sangat temperamental.
Dari sisi keturunan, anak-anaknya jadi preman gelandangan. Dari sisi masalah kehidupan selalu punya tekanan masalah ruwet. Dan seterusnya. Sisi-sisi hidupnya banyak yang tidak berharga.
Anda amati, orang-orang yang hidupnya tidak ada kebanggaan diri yang memicu rasa diri berharga, mereka sangat dikucilkan oleh uang. Itu karena uang itu tabiatnya matre, tidak berharga ya tidak dibeli mahal-mahal.
Mereka kondisi keuangannya baru akan berubah baru setelah mereka menemukan rasa berharga, misal ada salah satu anak yang sukses sehingga mampu angkat martabat keluarga, di situ urusan keuangan mereka baru agak melonggar.
Ada sebuah gangguan psikologi yang disebut feeling worthless adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak berharga. Perasaan seperti ini cenderung membuat orang merasa putus asa, tidak berguna, dan yakin bahwa dirinya tidak bernilai apa-apa.
Feeling worthless terjadi mungkin karena selalu mengalami hal buruk yang berkelanjutan, seperti dipecat dari tempat kerja, susah mendapatkan pekerjaan, gagal dalam percintaan, atau mengalami kesulitan finansial. Bisa juga karena kritik negatif yang datang terus-menerus.
Bayangkan bila setiap gerakan Anda selalu dikritik oleh orang lain, lambat laun akan muncul perasaan bahwa Anda memang selalu salah dan tidak berguna.
Tekanan masalah yang terus-menerus datang, trauma masa kecil yang begitu terpuruk, pengucilan dan bullying yang kerap dialami, itu semua bisa memicu rasa tidak berharga.
Pengindap gangguan psikologis feeling worthless akan susah sekali didatangi nilai uang berharga karena dirinya saja sudah merasa tidak berharga.
Minderan, pemalu, apatis, tidak percaya diri, putus asaan, itu semua juga bagian dari rasa tidak berharga, walaupun tidak sampai di level feeling worthless namun sudah bagian dari rasa tidak berharga yang akan memicu uang menilai Anda murahan.
Karena itu, mau tidak mau Anda harus punya prestasi berharga di hidup ini, harus berjuang sehingga ada prestasi berharga yang layak dibanggakan, karena dari situlah matrenya uang baru mau menghargai.
Prestasi berharga tersebut bisa dalam hal apa saja. Bisa dari spiritual, misal Anda tercatat sebagai ahli Tahajud dan jamaah. Bisa dari intelektual, misal sekolah Anda tinggi atau Anda ilmuwan pintar. Bisa dari sosial, misal Anda tokoh agama yang tersohor atau public speaker yang profesional. Bisa dari profesi, misal Anda pejabat sukses atau pedagang sukses. Bisa dari sisi keluarga, misal punya anak shaleh yang sukses.
Intinya ukir prestasi berharga agar muncul rasa berharga di dalam diri, dari rasa berharga inilah uang yang matre akan bertransaksi dengan Anda.
Anda lihat songongnya para artis di depan publik seperti apa, beli cawet mahal dipamerin, rumah mewah dipamerin, mobil mewah dipamerin, bahkan sedekah dipamerin juga. Namun perasaan yang memicu mereka adalah rasa bangga. Rasa bangga muncul karena rasa berharga yang kuat. Hasilnya duit mereka berjibun, kan? Mengalahkan duit Anda yang aktif shalat jamaah di masjid? Itulah karakter matrenya uang.
Orang kaya juga kerap songongnya tidak tertolong, omongannya tinggi, sombong, belagu, tapi ya datangnya duit makin menjadi, itu karena rasa berharga di dalam diri mereka sangat kuat. Bukan cuma orang kaya kok, para ulama juga banyak yang songongnya begitu, ya karena ulama juga manusia biasa.
Intinya prinsip uang itu “elo berharga, gue beli”, uang sangat matre, karena itu Anda harus berjuang agar punya prestasi berharga sehingga uang menilai diri Anda mahal.
Lah kalau begitu, uang itu telah membeli harga diri kita? Begitu rendahnya kah diri kita hingga selevel harga barang? Tidak begitu. Saya sedang jelaskan mekanisme yang berlaku di alam material ini, permasalahannya Anda kan tidak bisa melarikan diri dari hukum materialistik alam duit ini, mau tidak mau Anda tidak bisa luput dan lari, dan adanya hukum yang berlaku ya itu tadi “uang itu matre, elu berharga, gue beli.”
Nah punya rasa berharga hingga kadang jadikan bangga, itu kan menabrak prinsip-prinsip spiritual, menabrak tawadhu’, menabrak andap asor, menabrak rendah hati, lalu seluk beluk spiritualnya bagaimana? Ya kita lanjut di part 2, ya?
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply