Tuhan sangat anti menyakiti Zat-Nya sendiri, enggan melihat
Zat-Nya sendiri sebagai sesuatu yang rendah, enggan bersikap inferior, sebaliknya
Dia sangat superior atas Zat-Nya sendiri,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فِيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ
: يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ
مُحَرَّمًا ، فَلَا تَظَالَمُوا
Dari Abu Dzar Al-Ghifary R.A, dari Nabi S.A.W dalam hadits yang
beliau meriwayatkan dari Allah Tabâraka wa Ta’âlâ bahwa Dia berfirman, ”Wahai
hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan
Aku-pun jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian
saling menzalimi.” (H.R. Muslim)
Jadi Allah telah mengharamkan kezaliman atas Zat-Nya,
penghargaan Allah atas Zat-Nya sendiri sangat kokoh. Karena mekanisme ini,
Allah mengharamkan pula kezaliman terjadi di antara para makhluk-Nya.
Sebab itu Allah kemudian membekali mekanisme defensif dalam diri
Anda untuk mempertahankan diri. Pikiran Anda akan mengaktifkan mode pertahanan
diri ini secara otomatis, yang berarti di luar kesadaran dan kendali Anda.
Ketika menghadapi situasi, pikiran, atau orang yang membuat diri
merasa tak nyaman, secara alami seseorang akan mengeluarkan mekanisme
pertahanan atau defense mechanism, entah dengan menolak, menyangkal,
menghindari, hingga melampiaskan kekesalan. Itu semua installan mekanisme
defensif dari Tuhan agar Anda punya pertahanan diri dari kezaliman.
Sedemikian sayang Allah merawat diri Anda agar tidak terzalimi,
eeh malahan Anda yang kerap mencela, membully, merendahkan, menyakiti, bahkan
menghujat diri Anda sendiri.
Coba cek saja, dalam sehari berapa kali Anda berkata kepada diri
sendiri, “Aku kurang duit,” “Aku orang miskin,”
“”Ya Tuhan, hidupku kok susah terus,” “Ya Allah, aku kok
menderita sekali,” dan seterusnya.
Iya kan, diri sendiri dihujat dan dibully sendiri? Dan pikiran,
perasaan serta self talk yang menjelek-jelekan diri Anda sendiri dalam sehari
saja berapa kali Anda lakukan? Dalam sehari saja, berapa kali?
Wajah Anda sendiri tiap hari dicakar-cakar, ditampar-tampar, dipukuli
sendiri, kan oon?
Diri Anda itu tempat Anda meneduh, tiap hari Anda rusak sendiri,
hari ini pagarnya dibobol, esoknya genteng dan kacanya dipecahin, lah gila kan
diri Anda itu? Demikian pula ketika Anda mencela diri Anda dengan umpatan buruk
begitu, kira-kira Anda waras, tidak?
Satu maqalah ulama berkata,
نَفْسُك مَطِيَّتُك فَارْفُقْ بِهَا
“Dirimu adalah kendaraanmu, berwelas-asihlah
dengannya.”
Diri Anda supaya dikasihi, diwelasi, disayangi, dilindungi,
dihargai. Makan saja Anda tidak boleh kurang kenyang karena energi jadi loyo,
tidak boleh juga terlalu kenyang karena bisa undang kerusakan lambung dan
banyak penyakit. Itu artinya diri Anda benar-benar agar dikasihi.
Anda menyembah Allah dengan apa? Dengan diri Anda. Anda berbuat
baik dengan apa? Dengan diri Anda. Karena itu bila diri Anda dijelek-jelekan
sendiri, betapa semua kewajiban dan tugas hidup Anda akan alami kerusakan?
Apa Anda senang dihina kere oleh orang lain? Jelas sakit hati.
Lah kok bisa-bisanya tiap hari Anda kata-katain diri Anda kere. Hahaha jadi
sadar ya betapa kita hobi menghina diri kita sendiri?
Karena itu ketika Anda ditimpa kemiskinan, kesulitan,
penderitaan, dan lainnya, Allah tidak pernah mau mengakui kalau itu adalah
kezaliman-Nya kepada Anda, Allah nyatakan itu adalah ke-oon-an Anda sendiri.
ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ
لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۙ
“Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.
Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Al-Anfâl :
51)
Ada bully dari luar diri Anda sendiri saja, Allah sudah
pasangkan defense mechanism-nya, lah kok malah Anda yang jelek-jelekin diri
Anda sendiri dengan merasa kekurangan, miskin, duit kurang, dan lainnya.
Cobalah ubah prasangka, perasaan, pikiran dan self talk Anda
setiap hari, keraplah berkata kepada diri sendiri, “Aku kaya. Aku cukup.
Aku penuh nikmat. Aku penuh anugerah.”
Dalam ilmu dan urusan soul ada ajaran tawadhu’, dimana Anda
supaya rendah hati; merasa masih bodoh, merasa belum bisa, merasa masih banyak
kekurangan, namun apakah tawadhu’ itu sedang jelekan diri sendiri? Bukan
menjelekan, itu tehnik merendahkan hati agar lebih berharga diri.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply