Sahabat Nabi S.A.W yang profesional sekali dalam dagang adalah ‘Urwah Al-Bâriqi. Dikisahkan satu ketika ia diamanahi oleh Nabi S.A.W uang 1 dinar untuk membelikan satu ekor kambing.
Dan Nabi terperanjat kaget karena uang 1 dinar nilai tukarnya hanya untuk beli 1 kambing, namun ‘Urwah Al-Bâriqi malahan dapat 2 ekor kambing. Satu kambing diserahkan kepada Nabi, yang 1 ekor dijual lagi dengan harga 1 dinar lalu uangnya diserahkan kepada Nabi S.A.W.
Gara-gara menyaksikan hoki dagangnya ‘Urwah yang besar, Nabi S.A.W mendoakan keberkahan untuk bisnis ‘Urwah.
Bahkan, sosok ‘Urwah Al-Barqi ini disebut-sebut sebagai sosok pedagang profesional, pintar sekali berdagang, konon andai dia beli debu niscaya jadi cuan.
عَنْ عُرْوَةَ: “أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ، وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ، وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ“.
“Dari ‘Urwah bahwa Nabi S.A.W memberinya 1 dinar untuk membelikan 1 ekor kambing. Lalu ‘Urwah membelikannya 2 ekor kambing. Salah satunya ia jual dengan harga 1 dinar. Ia pun menghadap Nabi dengan menyerahkan uang 1 dinar dan kambing 1 ekor. Nabi pun mendoakan ‘Urwah dengan keberkahan dalam dagangnya. Dan ‘Urwah ini andai saja ia beli debu pasti ia peroleh untung di dalamnya.” (H.R. Bukhari Muslim)
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ الْبَارِقِيِّ قَالَ عَرَضَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَبٌ فَأَعْطَانِي دِينَارًا وَقَالَ أَيْ عُرْوَةُ ائْتِ الْجَلَبَ فَاشْتَرِ لَنَا شَاةً فَأَتَيْتُ الْجَلَبَ فَسَاوَمْتُ صَاحِبَهُ فَاشْتَرَيْتُ مِنْهُ شَاتَيْنِ بِدِينَارٍ فَجِئْتُ أَسُوقُهُمَا أَوْ قَالَ أَقُودُهُمَا فَلَقِيَنِي رَجُلٌ فَسَاوَمَنِي فَأَبِيعُهُ شَاةً بِدِينَارٍ فَجِئْتُ بِالدِّينَارِ وَجِئْتُ بِالشَّاةِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا دِينَارُكُمْ وَهَذِهِ شَاتُكُمْ قَالَ وَصَنَعْتَ كَيْفَ قَالَ فَحَدَّثْتُهُ الْحَدِيثَ فَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَقِفُ بِكُنَاسَةِ الْكُوفَةِ فَأَرْبَحُ أَرْبَعِينَ أَلْفًا قَبْلَ أَنْ أَصِلَ إِلَى أَهْلِي وَكَانَ يَشْتَرِي الْجَوَارِيَ وَيَبِيعُ
“Dari ‘Urwah bin Abul Ja’d Al-Bâriqi, ia berkata; Suatu ketika Nabi S.A.W melihat barang-barang impor, maka beliau pun memberiku satu dinar seraya bersabda, “Wahai ‘Urwah, datangilah barang impor itu, dan belilah untuk kami satu ekor kambing.” Saya pun mendatangi barang-barang impor itu, dan melakukan tawar menawar dengan pemiliknya hingga saya dapat membeli dua ekor kambing darinya dengan harga satu dinar. Akhirnya saya segera menuntunnya, lalu seorang laki-laki menjumpaiku dan menawar kambing itu, maka saya pun menjual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Saya pun segera menuntunnya, lalu seorang laki-laki menjumpaiku dan menawar kambing itu, maka saya pun menjual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Saya pun kembali dengan membawa kembali satu dinar dan satu ekor kambing. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, ini uang dinar Anda, dan ini kambing Anda.” Beliau S.A.W bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Maka saya pun menceritakan alur kejadiannya. Beliau S.A.W berdo’a, “Ya Allah, berilah keberkahan dalam transaksi tangannya.” Maka kalian telah melihatku saat berada di tempat sampah di Kufah, saya telah meraih keuntungan empat puluh ribu sebelum aku sampai ke keluargaku. Saat itu, “Urwah membeli budak-budak wanita dan menjualnya. (H.R. Ahmad bin Hanbal)
Jadi tanda dagangan Anda berkah adalah “modal kecil, cuannya gede. Capek enggak, duitnya gede.”
Namun keberuntungan tersebut tidak diada-ada apalagi diakal-akal agar modal kecil cuan gede, terjadi alamiah dan boleh disebut “ndilalah” alias kebetulan, serta sifatnya seolah menjadi bawaan hoki diri.
Catat! Catat! Catat! Seolah menjadi hoki diri, itu pedagang yang dagangannya berkah.
Jadi sangat bohong ada orang dagang yang bilang, “Untung sedikit nggak papa asal berkah,” itu bukan berkah tapi itu pelarian saja dari ketidakberuntungannya. Berkah dagang justru cuan besar modal kecil, capek enggak duitnya gede, kulak semurah-murahnya untung sebesar-besarnya.
Atau orang dagang kok capeknya bukan main tapi tidak ada duitnya, atau modalnya besar cuannya kecil, butuh karyawan banyak duit untuk gaji seret, itu semua ciri dagang yang tidak berkah.
Ada 2 hal yang saya amati jadikan pedagang susah berada di level dagang yang berkah.
1). Terlalu kuat mentalitas dagangnya. 2). Terlalu lemah mentalitas dagangnya.
Pertama, kuatnya mentalitas dagang. Yang namanya mental dagang itu mentalitas yang tidak kenali rasa kemanusiaan.
Anda lihat manajemen rumah sakit, tahu-tahu orang kena musibah atau malah sedang sekarat, dengan tega hati malah dipalak bayaran.
Kalau atas nama kemanusiaan, seharusnya orang sekarat ya dibantu, malahan dipalak duitnya. Namun karena brandingnya dagang, rumah sakit tidak jahat tidak apa, malah berkah.
Jadi persoalan dagang adalah persoalan skill menguntungkan diri sendiri, kalau lemah skill cari keuntungan untuk dirinya, itu dagangnya sama saja sedang gotong royong atau bakti sosial.
Makanya orang yang mental dagangnya terlalu kuat, ia jadi serigala pemakan sesama yang tidak bisa ingat lagi kalau orang lain butuh diuntungkan. Ia jadi super tega dan super itung-itungan.
Karena tidak pernah bisa melonggari orang lain, selalu bikin orang lain tercekik, orang dengan mentalitas dagang yang terlampau kuat, akhirnya tercekik sendiri. Berkah dagangnya dicabut.
Kedua, mentalitas dagang yang terlalu lemah. Sudah saya jelaskan di atas, dagang sebenarnya sistem yang tidak kenali rasa kemanusiaan, lepas dari rasa sosial, pedagang butuh mental seperti manajemen rumah sakit yang melihat orang kena musibah sebagai peluang duit, bukan peluang jasa sosial.
Nah orang yang terlampau lemah mental dagangnya biasanya karena rasa sosialnya terlalu gede, rasa kasihan, rasa tidak enakan hati dan rasa tidak tegaannya terlalu besar, akhirnya ia jalankan dagang tapi dengan mentalitas sosial, ibarat jalankan manajemen Kementerian BUMN dengan manajemen Kementerian Sosial. Ya bangkrut kan Kementerian BUMN-nya? Minyak dan gas seharusnya dijual untuk diambil keuntungannya untuk negara malahan disubsidikan gratis.
Pedagang dengan mentalitas dagang lemah tidak bisa melihat keuntungan untuk dirinya, ia sibuk gotong royong dan bakti sosial mengatasnamakan dagang.
Ketika terjun dagang dengan mental begini, maaf mending cari profesi lain saja, karena kalau dagang terus, cuma mau cari kebangkrutan saja, sebab mental begini tidak ada menariknya di dunia dagang.
Anda petinju tapi mentalnya santun, apa menarik? Petinju ya beringas. Mental santun itu mental sosial, sementara mental beringas adalah mental petarung. Dagang dengan mental sosial terlampau kuat ya seperti petinju dengan mental santun, babar blas tidak menarik bagi dunia dagang, pembeli pun enggan datang, investor enggan melirik.
Pedagang begini hidupnya memang diberkahi, secara prifasi ia penuh berkah karena hatinya penuh kasih, cuma untuk temukan kemajuan dagang jadi susah karena mentalnya tidak mendukung.
Hahaha mental dagang terlalu kuat jadi binasa, terlalu lemah juga binasa.
Lalu bagaimana biar dagangnya maju, berkahnya juga maju? Biar seperti ‘Urwah Al-Bâriqi? Ya dalam dagang disiplinlah pasang mental dagang, kreatif dapatkan cuan, tapi di luar dagang harus dermawan yang selalu berorientasi murah hati kepada orang lain. Begitu.
Eeh btw komen yah yang punya pengalaman modal kecil cuan gede, capek enggak duitnya gede. Critain ya di komen? Karena itu ciri dagangan Anda diberkahi.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply