Rafi Ahmad sekaya dan seatas itu papan kekayaan harta dan popularitasnya karena ia memang sanggup membayarnya dengan mahal. Konon ia kerja hingga 18 jam perhari. Mahal, bukan?

 

Chairil Tanjung juga hari ini masih kerja 14 jam perhari, di awal membangun karir hingga 18 jam kerja perhari. Mahal, ya?

 

Bukan cuma pengusaha, semua karir pun demikian. Ulama yang sedang kembangkan pondok pesantren, tidak sedikit para ulama besar punya jadwal mengajar lebih dari 12 jam setiap harinya. Para ilmuan hebat, para pejabat sukses, para penulis tersohor, mereka semua melakukan mekanisme kerja yang sama, yakni “kerja di atas rata-rata.”

 

Itu semua karena mereka orang-orang yang punya impian sehingga mereka harus konsisten mewujudkannya.


Ada impian artinya ada keinginan. Setiap keinginan itu adalah tuntutan untuk diri Anda sendiri.

 

Anda ingin lulus S1, Anda pun dituntut jerih payah intelektualnya, dituntut kesediaan waktu dan kesibukannya sekaligus dituntut biayanya untuk wujudkan keinginan lulus S1 tersebut.

 

Semua tuntutan tersebut wajib Anda bayarkan tunai, sebab segala hal baru bisa menjadi milik Anda sesudah Anda bayar. Anda tidak punya mobil karena Anda tidak mampu membayarnya, itu artinya Anda punya mobil dengan syarat bayar tunai harganya.

 

Sehingga ketika seorang Chairil Tanjung yang punya keinginan menjadi pengusaha besar, atau seorang Rafi Ahmad yang punya keinginan menjadi selebritis besar, lantas keduanya tertuntut untuk kerja hingga 18 jam perhari. Karena apapun yang Anda inginkan adalah tuntutan balik kepada diri Anda sendiri untuk mewujudkannya sebagai bentuk mahar bayaran pembelian.

 

Jangankan keinginan yang besar dan tinggi, ingin pesan makanan di Gofood saja Anda harus sediakan kuota internet, sedikan energi baterai smartphone yang cukup, unduh aplikasi Gofood, installing yang dalam proses ini Anda harus serahkan data digital Anda, harus sediakan waktu untuk pilih-pilih menu, sediakan waktu menunggu, dan jelas harus bayar makanan pesanannya sekaligus bayar jasa ojek pengantarnya. Hanya ingin pesan Gofood, sedemikian besar bayaran dari diri Anda yang harus dikeluarkan.

 

Sekarang bisa digambarkan, andai keinginan Anda ingin menjadi Youtuber besar, menjadi politikus besar, menjadi pejabat tinggi, menjadi ulama besar, menjadi selebritis tersohor, menjadi pengusaha besar, dan yang paling lazim menjadi orang kaya, kira-kira diri Anda sanggup tidak membayarnya? Dan apapun yang Anda tidak sanggup membayarnya, Anda tidak akan pernah memilikinya.

 

Karena itu, semua keinginan Anda adalah sistem siksaan yang dipasang untuk menyiksa diri Anda sendiri. Apapun yang Anda inginkan bisanya wujud menjadi milik Anda apabila Anda membayarnya, karenanya tidak ada keinginan yang tidak menuntut pengorbanan bayaran dari diri Anda, entah dibayar dengan apapun, baik bayaran dengan materi maupun jerih payah.

 

Lah iya, gara-gara ingin pesan makanan lewat Gofood, Anda harus siap sedia menjadi budak suruhan keinginan Anda sendiri. Menyiksa sadis sekali, kan?

 

Bayangkan rempongnya Anda yang baru inginkan makanan via Gofood, belum lagi ingin baju, ingin rumah, ingin motor, ingin gaji besar, ingin handphone, dan seterusnya. Diri Anda makin stres karena disiksa.

 

Rafi Ahmad dan Chairil Tanjung baru berkeinginan jadi selebritis dan pengusaha sudah harus membayarnya dengan 18 jam kerja setiap hari, andai mereka mengejar pula keinginan jadi politikus sukses, seperti apa wujud besarnya bayaran yang menuntut balik kepada diri mereka? Seperti apa sadisnya mereka memperbudak diri mereka atas diri mereka sendiri?

 

Orang yang tidak menyadari kalau keinginan diri adalah sistem siksaan untuk diri sendiri, di situlah seumur-umur hidupnya hanya akan dipakai untuk menzalimi dengan berbagai penderitaan sebab begitu banyaknya tuntutan untuk dirinya.

 

Repotnya ketika dia tidak sanggup menghandle tuntutan bayaran dari keinginannya, di situ akhirnya orang lain yang dipaksa untuk membayarnya.

 

Dalam pesugihan kepada iblis, konon seseorang yang ingin kaya harus sediakan korban untuk tumbal. Berarti dia yang ingin kaya, orang lain yang harus membayar derita dan jerih payahnya. Kurang ajar, kan?

 

Sama saja orang hutang yang mengemplang bayar, dia yang ingin tercukupi kebutuhannya, orang lain yang harus tanggung bayarannya. Ini mekanisme yang sama seperti pesugihan iblis.

 

Setiap keinginan yang ingin terwujud akan menuntut balik kepada diri Anda untuk membayarnya lunas, entah bayaran jerih payah ataupun bayaran materi. Yang tidak sadar dengan beratnya mekanisme bayaran ini, dia akan terus memperbudakan dirinya untuk wujudkan impian-impiannya.

 

Sadar ini, Anda perlu sekali untuk berputus asa dari apa-apa yang Anda inginkan. Lah iya yang memperbudak Anda itu keinginan atau asa Anda. Kalau asanya diputus, kan Anda merdeka? Ibn Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menyampaikan,

 

أنْتَ حُرٌّ مِمَّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أنْتَ لَهُ طَامِعٌ

 

“Engkau merdeka dari segala sesuatu yang tidak kamu harapkan. Dan engkau menjadi budak dari sesuatu yang kau inginkan.” (Al-Hikam karya Ibn Athaillah)

 

Saat Anda memutus asa atau memutus keinginan Anda, di situ Anda merdeka. Kalau merdeka itulah kekayaan sesungguhnya. Imam Syafii berkata,

 

وَلَيْسَ اْلغَنِيُّ إِلاَّ عَنِ الشَّيْءِ لاَ بِهِ

 

“Tidak ada kekayaan kecuali tidak perlu apa-apa dari segala sesuatu.”

 

Cuma apa iya diri Anda sama sekali tidak berkeinginan? Saya sering ibaratkan dengan kuda delman sebagai pekerja keras dalam lari. Karena kuda delman tidak berkeinginan kaya, tidak ada kuda delman kaya raya walaupun ia pekerja keras. Yang diperoleh oleh si kuda delman tetap hanya apa yang ia inginkan.

 

Kuda delman hanya ingin rumput dan kawin, akhirnya cuma itu saja yang ia peroleh, sekalipun kerja kerasnya si kuda delman melampoi kerja keras Anda.

 

Punya impian, punya keinginan, punya ambisi, punya asa, punya motivasi, punya cita-cita itu keharusan, namun Anda perlu menentukan keinginan mana yang Anda prioritaskan dengan konsisten, jangan semua diembat. Karena kalau semua keinginan diembat, nanti diri Anda yang tidak akan sanggup membayar sebab semua keinginan butuhkan mahar jerih payah.

 

Banyak sekali kan orang kaya yang sudah punya duit, mereka sempoyongan ingin punya pondok pesantren, karena punya pondok pesantren dari sisi kemuliaan—bukan sisi uang—itu jauh lampoi kemuliaan orang kaya, sampai sewa-sewa ustadz untuk ngajar ngaji.

 

Ada yang sesudah kaya, ngebet ingin jadi pejabat politik, ia pun zig-zag mengabdi di partai. Ada yang sesudah jadi ulama pengasuh pesantren, mereka ingin terkemuka sebagai tokoh organisasi sosial agama.

 

Ya tidak apa-apa sebenarnya, cuma perlu sadar, diri Anda sanggup bayar, tidak?

 

Banyak orang miskin yang sesudah punya motor, ingin kulkas, lantas utang-utang kreditan, belum lagi lunas, ingin lainnya lagi, utang kreditan lagi. Terus begitu.

 

Jadi tidak yang kaya, tidak yang miskin adalah budak-budak yang menjerit-jerit penderitaan lantaran tidak dapat mengontrol keinginannya.

 

Pilihlah profesi prioritas, karir prioritas, impian prioritas, keinginan prioritas, lalu ukurlah kesanggupan Anda membayar maharnya, baik mahar jerih payah maupun materi. Tentukan dan pilih satu atau dua, lalu tekuni. Keinginan lainnya bangunlah keputusasaan.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *