Anda tenang hatinya kalau sedang mendengki ataupun didengki orang? Tentu hati jadi panas. Hati sedang dengki yang muncul rasa benci, bagaimana mau tenang? Atau sedang didengki, bagaimana hati tidak risih? Hati jadi benci juga, munculkan gelisah karena saling hasud. Yang Anda harapkan tentu peroleh hati tenang.
Hati tenang itu energi surga. Di surga semua kedengkian telah dicabut dari hati.
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ
“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS Al-Hijr: 47)
Cuma surga itu alam akhirat, Anda mencarinya di sini ya tidak ada. Artinya totalitas ketenangan hati di sini ya tidak ada. Mau gunakan tehnik meditasi manapun, tehnik zikir manapun, selagi Anda hidup di alam dunia ini, yang namanya ketenangan dan keresahan hati itu karakternya timbul tenggelam, silih berganti.
Alam semesta ini wujud utuh alam material yang unsur masterplan-nya adalah unsur energi surga sekaligus energi neraka. Satu sisi, tubuh Anda butuh dingin dan beningnya air, sisi lain tubuh Anda harus dialiri unsur plasma dalam darah. Energi surga dan energi neraka utuh terwujud dalam diri Anda.
Saya pernah dirawat di rumah sakit karena kekurangan plasma darah. Sekali transfusi itu harga darah per kantongnya Rp 2.250.000. Saya jadi membatin, “Energi neraka mahal juga. Saya kekurangan plasma dalam darah, dimana plasma itu unsur panas neraka, per kantong saja 2 juta lebih. Hahaha neraka ternyata mahal juga untuk sokong keseimbangan hidup di dunia.”
Sama seperti unsur energi neraka dalam tubuh Anda, dalam kesehatan spiritual pun, Anda butuh unsur energi neraka yang panas-panas itu. Anda bisa mati konyol kalau hati Anda hanya disisi ketenangan, kebahagiaan, berdamai, memaafkan, dan energi surga lainnya.
Kesadaran hati Anda bisa gagal tumbuh lantaran kurang energi panas. Tumbuhan saja bisa layu kalau hanya disirami air tapi kurang energi hara tanah dan energi panas sinar matahari, demikian pula hati Anda.
Anda amati riuhnya Word Cup 2022 di Qatar kemarin. Betapa gesekan panasnya hati dalam kompetisi sepak bola tidak menarik trilyunan uang?
Anda sebagai manusia itu gendeng. Hanya untuk bikin menangis milyaran manusia dan hanya bikin segelintir manusia gembira, manusia dengan bangga keluarkan uang trilyunan dollar USA. Iya, Word Cup itu gendeng. Itu agenda dunia untuk bikin nangis pilu dan melukai 37 negara dari 38 peserta Piala Dunia 2022, dan hanya bikin 1 negara yang gembira yakni sang juaranya.
Belum lagi negara anggota FIFA ada 210 negara, dan semuanya sudah ikuti kualifikasi masuk Piala Dunia Qatar, yang artinya sudah ada ratusan negara yang gagal masuk sebagai peserta Piala Dunia Qatar telah menangis sedih lebih dulu.
Sudah begitu, dimodali lagi dengan uang yang tak tanggung-tanggung. Qatar kucurkan modal kurang lebuh Rp 3.142 triliun untuk sukseskan ajang bikin nangis mayoritas isi bumi tersebut.
Gendeng, kan? Hanya untuk bikin 1 negara bangga dan pesta gembira, yakni sang juara Argentina, Piala Dunia Qatar telah bikin ratusan negara lain merasakan kekecewaan dan kesedihan, dan gendengnya lagi dimodali dengan nominal uang tidak main-main. Ya sebenarnya Anda itu orang gila semua.
Dan gebleknya, baik Qatar maupun FIFA, mereka semua untung. Duitnya makin berlimpah.
Berdasarkan laporan dari Aljazeera, baru-baru ini lembaga sepak bola dunia FIFA menyampaikan laporan bahwa Piala Dunia Qatar mendatangkan keuntungan capai US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp 117,75 triliun. Nah?
Coba andai cukup selenggarakan pertandingan persahabatan saja yang lebih damaikan situasi hati, apakah akan menarik uang sebesar itu?
Jadi itulah realitas wujud alam material ini, utuh terdiri dari energi surga dan energi neraka. Hati Anda ketika terlalu dingin, tenang, damai, juga rezeki bisa macet.
Sebab itu salah satu nikmat Tuhan terbesar adalah diturunkannya pendengki untuk menyinyiri hidup Anda supaya hati Anda panas. Karena kalau sudah tidak panas, rezeki kurang seru.
Rumusnya “setiap nikmat pasti ada yang dengki”;
استعينُوا على إنْجَاحِ الحَوَائِجِ بالكتمَانِ ، فإنَّ كلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ
“Sukseskanlah penyelesaian hajat kalian dengan menyembunyikan (hajat tersebut), karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan mendapatkan sikap hasad (dari orang lain)”. (HR Thabrani)
Maka dengan dosis yang terukur, Anda perlu marah kok, perlu dendam, perlu ambisi, perlu nyinyir, perlu mencela, perlu mendengki dan energi panas lainnya. Justru kalau Anda terlalu tenggelam dalam rasa damai, malahan hidup Anda, termasuk spiritual Anda, jadi terhambat bertumbuh. Tapi ingat ya catatannya “dengan dosis yang terukur”.
Banyak orang mengira bahwa marah tidak suci, konflik tidak suci, pertengkaran tidak suci, tidak juga. Anda lihat tabel Asmâ-ul Husnâ, Zat Allah hadir sempurna dengan 2 unsur energi panas dan dingin. Satu sisi Allah Maha Penyayang, sisi lain Maha Pemurka. Satu sisi Maha Pemaaf, sisi lain Maha Penghukum. Satu sisi Maha Pemberi karunia, sisi lain Maha Pengazab.
Jadi marah, tersinggung, jengkel, itu pun spiritual suci yang kesuciannya menyamai memaafkan, santun, kasih, dan seterusnya, namun catatannya dengan dosis yang terukur dengan kebijaksanaan.
Karena itu kalau Anda merasa hatinya masih kotor, kadang suka mendengki, masih kadang nyinyiri orang, ya sebenarnya itu bagian energi hidup yang menyeimbangkan amal kebaikan Anda. Kalau energi panas hati itu sudah redup, Anda tak lagi bisa hidup harmoni stabil.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply