Satu ketika saya bermasalah dengan orang tua, bukan masalah sepele, yang jelas sudah menyangkut benar dan salah. Namun di tulisan ini tidak saya ceritakan kronologi masalahnya.

 

Di masalah tersebut jelas sekali saya di posisi benar, dan orang tua saya di posisi salah. Saya pun mengkritik orang tua dengan rasa marah, layaknya saya sedang mengkritik tetangga sebelah yang berbuat salah.

 

Pagi hari saya mengkritik dengan nada jengkel, sore harinya saya dituruni azab oleh Tuhan, saya kecelakaan motor hingga mengalami cidera berat di tulang pundak kanan, butuh waktu rawat 3 bulan untuk pulih.

 

Orang tua punya hak otoriter pada anak, salah jelas beliau salah, tapi tidak bisa dikritik oleh anak-anaknya, apalagi dikritik dan dijelek-jelekkan dengan kemarahan dan dendam. Kenapa demikian? Sebab tingginya derajat orang tua di depan anaknya, Tuhan memberi hak istimewa pada mereka.

 

Anak tidak punya hak mendidik, maka ini saya tidak diperkenankan mengkritik orang tua sendiri. Walaupun anak di posisi benar, lalu sok-sokan mendidik orang tuanya agar kembali ke jalan yang lurus, Tuhan akan tetap menimpakan murka-Nya kepada anak.

 

Lah iya, jangan dulu melihat budi orang tua pada anak, melihat kedudukan di alam semesta saja, orang tua berada di level sangat tinggi dari anak, di mana level ini paten, eksak dan permanen, tidak bisa digeser lagi. Apakah Anda sanggup melahirkan orang tua Anda? Kalau sanggup, berarti Anda bisa menggeser patennya kedudukan tinggi orang tua.

 

Tidak ada hak didik dari anak pada orang tua. Mau mendidik orang tua? Kurang ajar amat.

 

Hak anak pada orang tua ketika mereka menyakiti hati anak yang pertama adalah mengajak sharing, itupun harus disampaikan dengan adab tinggi. Umpama orang tua Anda terlalu memeras diri Anda, jatah bulanan sudah diberikan, tapi orang tua minta dibuatkan rumah yang sangat memberatkan Anda.

 

Di keadaan demikian, umpama Anda merasa berat melaksanakan permintaan orang tua, Anda tidak boleh menolak dengan kasar, tapi ajaklah orang tua Anda untuk sharing, ajak bicara baik-baik dengan rasa keberatan Anda.

 

Kalau masih belum mengerti juga, Anda harus mengalah dan diam. Permintaannya untuk buatkan rumah tetap tidak Anda turuti karena Anda memang belum mampu, tapi mereka jangan sampai Anda cela, dan pesangon bulanan yang memang sudah Anda niatkan sebagai rasa bakti tetap Anda jalankan.

 

Harus ajak orang tua untuk sharing ketika Anda mengalami hal-hal yang tidak Anda setujui atas orang tua Anda. Umpama lagi, Anda melihat orang tua Anda bermental kere, ajak mereka sharing dengan adab tinggi, kalau tetap tidak berubah, Anda tidak dibolehkan mengkritik tajam, namun harus dapat menerimanya dengan sabar.

 

Tips terakhir, paling hak Anda mendoakan orang tua agar diampuni kesalahannya, itu saja.

 

Cara-cara itu adalah cara-cara Nabi Ibrahim A.S. ketika berselisih paham dalam ideoligi bertuhan. Pertama Ibrahim mengajak sharing dengan adab tinggi dan santun. Ketika orang tuanya menolak dengan kasar, Ibrahim tidak membalas dengan kekasaran, Ibrahim memaksakan dirinya untuk menerima orang tuanya apa adanya.

 

Yang pada akhirnya Ibrahim hanya bisa mendoakan orang tuanya agar tetap diampunkan kesalahannya;

 

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ


“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari ditegakkannya hisab.” (Q.S. Ibrahim : 41)

 

Pada ayat lain, doa Ibrahim untuk orang tuanya;

 

وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ


“… dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 86)

 

Walaupun akhirnya doa Ibrahim ditolak Tuhan, tetapi yang terpenting adalah mendoakan yang terbaik untuk orang tuanya, diijabah ataupun ditolak, itu urusan Tuhan, bukan urusan Anda.

 

Saya mengamati dalam kasus sehari-hari, di lingkungan ataupun di keluarga saya, orang-orang yang tidak dapat menerima orang tuanya setulus hati mereka cenderung terpuruk hidupnya, jika tidak terpuruk, kehidupan mereka stagnan di tempat. Walaupun mereka sudah bekerja keras, kreatif, dan penuh dedikasi, tetap kehidupan mereka tidak mendapat perubahan.

 

Pada kasus anak yang hidupnya stagnan dan tidak temukan perubahan hidup, si anak memiliki dendam pada orang tuanya. Di belakang, dia suka menjelekkan orang tuanya sendiri, walaupun tidak sampai berani menjelekan di depannya.

 

Memang kalau diamati, si anak benar, dia sangat tidak menerima orang tuanya bermental kere, sering buat malu dan merepotkan dirinya. Tapi itu, di alam semesta ini orang tua punya hak otoriter pada anaknya, sehingga si anak tidak bisa berkembang hidupnya.

 

Di kasus lain, ada yang hidupnya makin hari makin ruwet, makin hari makin terpuruk, ternyata level dendamnya pada orang tua sangat tinggi. Ketika dia berselisih masalah dengan orang tua, dia akan mengkritik orang tuanya seperti mengkritik musuh bebuyutannya.

Bolak-balik azab Tuhan turun, hartanya habis untuk membiayai berbagai azab yang turun, mulai dari istrinya yang bolak-balik masuk rumah sakit selama bertahun-tahun, sampai dia sendiri yang akhirnya menerima berbagai musibah.

 

Itulah keputusan Tuhan, hukum paten alam semesta, sebaik apapun anak, bukan derajatnya mengkritik orang tuanya, hak anak hanya mengajak sharing orang tua, dan mendoakannya.

 

Apapun keadaannya, Anda harus mampu menerima orang tua Anda, menerima dengan tulus setulus-tulusnya, tanpa sedikitpun menyisakan dendam, dan walaupun orang tua Anda adalah orang terburuk di muka bumi. Kenapa demikian?

 

Karena Anda tidak dapat memilih dari orang tua mana Anda dilahirkan. Kalau bisa memilih, Anda tentu akan memilih lahir dari pasangan orang tua Muhammad S.A.W dan Khadijah Al-Kubra, atau dari pasangan Daud A.S dan Baseba yang kaya raya, berkuasa, dan saleh.

 

Tapi Anda tidak dapat memilih dari orang tua mana Anda lahir, mau tidak mau, terima tidak terima, Anda lahir dari orang tua yang sudah dituliskan oleh alam semesta. Kelahiran Anda itu otoritas kuasa yang sangat otoriter. Karena Anda dipaksa alam semesta untuk menerima dari orang tua mana Anda dilahirkan, maka ini Anda pun dipaksa untuk menerima seluruh keadaan orang tua Anda seutuhnya, tanpa tawar.

 

Seburuk apapun orang tua Anda—tanpa tawar—Anda harus menerimanya seutuhnya, sama seperti Anda menerima ketika harus lahir dari orang tua A atau B.

 

Setelah menerima orang tua Anda seutuhnya, Anda harus berbakti, memuliakan dan menyejahterakan hidupnya.

Menerima orang tua seutuhnya itu takdir yang eksak dari alam semesta. Menerima orang tua sama artinya menerima seutuhnya Tuhan yang Anda sembah.

 

Demikian ini karena hanya Tuhan saja yang terlibat dalam menentukan siapa orang tua Anda, jadi menerima orang tua sama saja menerima Tuhan, ridha pada orang tua itu segaris lurus dengan ridha Anda pada Tuhan. Sebab ini,

 

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ


“Ridha Tuhan tergantung pada ridha orang tua dan murka Tuhan tergantung pada murka orang tua” (H.R. At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ath-Thabrani).

 

Petuah Jawa menyampaikan, “Wong tua kui Gusti Allah kang katon,” artinya orang tua itu Tuhan yang tampak.

Tuhan dan orang tua itu satu rangkaian spiritual, Anda yang dapat menerima orang tua seutuhnya itu artinya Anda telah ridha padanya.

 

Getaran ridha Anda pada orang tua itulah ukuran ridha orang tua Anda pada diri Anda. Dan ridha orang tua pada Anda itulah ukuran ridha Tuhan pada Anda.

 

Sebab rangkaian spiritual ini, Anda tidak akan pernah sukses, tidak akan pernah harmoni hidupnya, tidak akan pernah mulia, tidak akan pernah berkah rezekinya, sebelum Anda mampu menerima seutuhnya orang tua Anda.

 

Kenapa Suriah hancur? Karena getaran amarah dalam emosi masyarakat Suriah. Itulah dendam dan marah bisa meluluhlantakkan satu negara. Sekarang jika marah dan dendam Anda mengarah pada orang tua Anda, dimana mereka pemegang level spiritual Anda pada Tuhan, tentu marah dan dendam Anda pada mereka jadikan resonansi hidup Anda ruwet semrawut, luluh-lantak.

 

Maka itu letakkan orang tua Anda sebagai azimat hidup Anda. Anda mampu menerima dan memuliakannya, seburuk apapun dia, Anda akan mulia, harmoni dan berlimpah.

 

Saya sendiri mengalami perubahan besar dalam hidup, terjadi perubahan di segala renik hidup saya, itu setelah saya melihat diri saya sebagai hamba sahaya dari orang tua yang harus konsekuen mengabdi dan berbakti.

 

Hubungan anak dan orang tua itu tidak ada tawar-menawar antara benar dan salah di saat berselisih, yang ada anak harus menerima dan berbakti seutuhnya pada orang tua, karena otoritas orang tua di depan anak itu sama saja otoritas Tuhan kepada makhluk-Nya.

 

Ingin mulia? Ingin berubah hidupnya? Ingin berkah rezekinya? Ingin harmoni dunia akhirat? Cek rasa ridha Anda pada orang tua.

 

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا


“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya mendidikku di waktu kecil.” (Q.S Al-Isra : 24).

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *