Nabi Muhammad SAW itu menantu Abu Bakar. Posisi Nabi SAW adalah anak dan Abu Bakar adalah orang tua. Kalau keduanya bertemu, kira-kira siapa yang cium tangan dengan penuh hormat? Nabi SAW sebagai anak yang cium tangan Abu Bakar, atau Abu Bakar sebagai orang tua yang cium tangan anak menantunya?

 

Sekarang andai Abdullah bin Abdul Muthalib; ayah kandung Nabi SAW masih hidup hingga masa kenabian Muhammad, ketika Nabi SAW sekalipun telah menjadi manusia agung ketika bertemu Abdullah, siapa yang cium tangan? Nabi SAW yang cium tangan ayah kandungnya, atau Abdullah yang cium tangan Nabi SAW sama seperti Abu Bakar sebagai ayah mertua?

 

Mertua dan orang tua kandung keduanya didudukan sebagai orang tua bagi anak, bedanya orang tua kandung itu orang tua sebab nasab (pertalian darah) sementara mertua itu orang tua sebab pernikahan (mushaharah).

 

Mertua diikatkan kepada menantu sebagai orang tua dan menantu diikatkan sebagai anak kepada mertua dikarenakan untuk menjaga ketertiban nasab. Iya masa sudah kawini anak putrinya kemudian si menantu kawini juga ibu dari istrinya? Kalau lahir anak kan jadi membingungkan mana anak mana cucu, mana istri mana orang tua. Rancu.

 

Karenanya hubungan menantu dan mertua diikatkan melalui sistem mahram seperti orang tua kandung sendiri atau seperti anak kandung sendiri dimana mertua tidak boleh dinikahi oleh menantu, dan sebaliknya, persis sama seperti ketidakbolehan menikahi anak kandung atau ortu kandung sendiri. Selanjutnya model hubungan mahram ini disebut mahram mushaharah.

 

وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ


“(dan haram menikahi) ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, istri-istri anakmu dari sulbimu.” (Q.S. An-Nisa’ : 23)

 

Jadi kenapa menantu Anda menjadi anak Anda dan mertua Anda menjadi orang tua Anda? Itu untuk menjaga sistem darah agar tertib.

 

Sama-sama orang tua, antara orang tua kandung dan mertua itu beda sekali energinya bahkan karma-karmanya. Seperti saya jelaskan di atas, sekalipun Abu Bakar adalah orang tua bagi Nabi SAW namun di depan Nabi SAW energi Abu Bakar berbeda dengan Abdullah sebagai ayah kandung.

 

Setinggi-tingginya derajat Nabi SAW tetap beliau harus merunduk kepada ayah kandung beliau, ibarat saling cium tangan saat bersalaman, Nabi SAW tetap harus mencium tangan Abdullah, power energin orang tua kandung tetap tidak bisa dilampoi oleh anak. Beda dengan Abu Bakar sebagai orang tua karena mertua, power energinya bisa dilampoi.

 

Makanya di Jawa yang penggunaan bahasa Jawa menggunakan strata sosial, ketika seorang mertua punya menantu orang besar itu banyak mertua di Jawa yang pakai bahasa Krama Inggil kepada menantunya, seolah seperti tidak sedang bicara dengan anak sendiri namun sedang bicara dengan guru agung.

 

Orang tua kandung itu orang yang mengasihi anak melampoi kasihnya kepada diri sendiri. Saya sendiri merasakan ketika anak kandung saya direndahkan oleh orang lain maka saya yang paling tersinggung, tidak rela.

 

Begitu pula ketika anak saya punya prestasi maka yang paling bangga adalah saya. Anak kandung itu karena ada aliran darah sendiri maka kemudian ia bukan siapa-siapa tapi ia adalah diri Anda sendiri.

 

Maka ini benar yang kemarin disampaikan Mas Arif Rahutomo satu-satunya orang di muka bumi yang berharap diri Anda agar lebih hebat darinya adalah orang tua kandung Anda.

 

Berbeda dengan mertua. Banyak mertua keberatan menantunya lebih hebat darinya, banyak mertua keberatan untuk membanggakan menantunya sendiri, itu karena hakikatnya secara energi mertua itu sama seperti tetangga, dia adalah orang lain dalam diri Anda, hanya saja karena ikatan mahram untuk jaga ketertiban perkawinan dan nasab, maka mertua diikatkan sebagai orang tua dan Anda adalah anak. Namun ikatan ortu-anak tersebut hanya mengikat secara darah tidak mengikat secara energi.

 

Sudah menjadi ungkapan umum, “Umah mertua kui nerakane dunya,” artinya rumah mertua itu nerakanya dunia. Atau ungkapan umum lainnya, “Mertua kui maru,” artinya mertua itu seperti istri madu, maksudnya hubungan mertua dengan menantu itu seperti hubungan antara para istri dalam satu pernikahan poligami.

 

Tentu tidak semua mengalami ketidakharmonisan hubungan dengan mertua, namun yang alami rumah mertua adalah “nerakane dunya” juga banyak.

Itu kerap terjadi karena hakikatnya ketika seorang menantu masuk ke rumah mertua sekalipun itu disebut rumah orang tua sendiri tetapi energi yang tersebar dan tertangkap itu berbeda sekali dengan rumah orang tua sendiri.

 

Di rumah mertua bangun tidur agak kesiangan saja sudah makan hati, beda sekali dengan rumah orang tua sendiri, bangun jam 12 siang lalu minta uang ya enak-enak saja, sebab secara energi menantu itu tetap tetangga mertua, dan mertua tetangga si menantu. Kalau tetangga masuk rumah orang lalu menetap sekian lama, ya banyak makan hatinya.

 

Karena energi orang tua kandung dan orang tua mertua itu beda, karma-karmanya juga berbeda.

 

Karma anak kepada orang tua kandungnya itu karma mutlak, dimana ridha orang tua adalah ridha Tuhan, sebab hanya otoritas Tuhan yang terlibat dalam menentukan Anda terlahir dari orang tua mana.

 

Mungkin Anda akan ridha kepada Tuhan ketika Tuhan tentukan Anda terlahir dari orang tua yang baik dan memuliakan Anda, namun Anda belum tentu ridha pada-Nya ketika Anda ditetapkan terlahir dari orang tua yang buruk dan menyia-nyiakan anaknya.

 

Demikian pula hanya Tuhan yang tentukan Anda mau punya anak siapa. Barangkali Anda ridha kalau Anda ditentukan lahirkan anak shalih, namun ketika Dia tentukan Anda lahirkan anak bejat, apa Anda bisa ridha? Hanya Tuhan yang terlibat tentukan Anda lahir dari orang tua mana dan Anda akan melahirkan siapa.

 

Berbeda dengan mertua. Anda mau punya mertua siapa dan punya anak menantu siapa, disitu tidak hanya Tuhan yang menentukan, namun diri Anda juga ikut terlibat. Mau jadi menantunya Raja Charles bisa, mau jadi mertuanya Maria Ozawa juga bisa. Anda bisa memilihnya.

 

Energi karma mertua itu beda sekali dengan karma orang tua kandung. Karma dengan orang tua kandung itu mutlak, sebab seburuk-buruknya orang tua kepada Anda, dia tetap punya jasa besar telah lahirkan Anda dan mengfasilitasi Anda hidup gratis di kandungannya.

 

Sebab itu menghadapi orang tua kandung yang durhaka kepada anak, si anak tetap harus utamakan sikap ma’ruf yang tinggi. Ketika si anak mencaci maki prilaku buruk orang tuanya kepadanya ya si anak sama saja mencaci maki Tuhannya, ketika si anak durhaka kepada orang tuanya, ya dia durhaka langsung kepada Tuhannya, karena yang tentukan siapa orang tuanya hanya Tuhannya.

 

Demikian pula orang tua yang mencaci maki anaknya sendiri, berbuat buruk kepada anaknya sendiri, hakikatnya dia sedang mencaci maki dan berbuat buruk kepada Tuhannya sendiri, sebab hanya otoritas Tuhan yang tentukan Anda lahirkan anak siapa.

 

Dan ketika ada anak durhaka kepada orang tua, dan atau orang tua durhaka kepada anaknya, maka mereka berhadapan langsung dengan murka dan kutukan Tuhan sebab masalah otoritas penentuan siapa ortu Anda dan siapa anak Anda yang Tuhan tidak pernah melibatkan siapapun.

 

Berbeda dengan mertua. Ketika ada menantu berseteru dengan mertua—dan itu banyak wkkk—itu energinya sama seperti perseteruan Anda dengan tetangga sebelah. Siapa yang kurang ajar ya dia yang kualat.

 

Ada menantu, bikin rumah dimodali mertua, tinggal di rumah mertua begitu dihargai, lah kok mertua menyuruh mengecatkan rumah saja mertua dimintai bayaran, itu namanya menantu kurang ajar. Energi menantu begitu bertarung dengan energi mertua ya si menantu kualat. Itu contoh kecilnya.

 

Ada mertua, si menantu tiap hari bantu kerja bisnisnya, selesaikan tugas dan kerjaannya, tapi si menantu tidak pernah dihargai, bahkan makan saja harus jerih payah sendiri. Energi mertua begitu berseteru dengan menantu ya si mertua yang kualat.

 

Power energi mertua dalam persoalan karma baik dan buruk tidak sedahsyat power energi ortu kandung, sebab di masa lalu pun mertua tidak ada budi apapun dengan memantu. Ya nyebokin di waktu kecil, tidak. Membiayai sekolah, tidak. Dan seterusnya. Beda dengan ortu kandung yang sejak orok Anda sudah diberi budi olehnya.

 

Begitu pula power energi menantu pada mertua, karma baik buruknya juga tidak sedahsyat anak sendiri, sebab sebelum menikahi anaknya, si menantu juga tidak berjasa apa-apa untuk mertuanya.

 

Sebab itu, menantu versus mertua itu siapa yang kurang ajar dia yang kualat, dan siapa yang banyak baiknya, dia yang menang dan kuasa.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *